Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Dikendalikan Danantara, Kimia Farma Bakal Cabut dari Holding Biofarma

WhatsApp Image 2025-06-30 at 11.30.02.jpeg
Wisma Danantara Indonesia (IDN Times/Vadhia Lidyana)
Intinya sih...
  • Kimia Farma akan lepas dari holding Biofarma.
  • Perusahaan memiliki model bisnis yang berbeda.
  • Fokus pada pengembangan vaksin, daya saing, dan harga obat murah.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - PT Bio Farma (Persero) atau Biofarma akan melepas PT Kimia Farma Tbk (KAEF) dan PT Kimia Farma Apotek (KFA) dari jajaran holding BUMN farmasi tahun ini. Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria mengatakan Kimia Farma bakal berdiri langsung di bawah Danantara. Adapun skema untuk KFA masih dikaji.

“Biofarma tidak lagi menjadi holding bagi Kimia Farma dan Kimia Farma Apotik. Kimia Farma direct berada di bawah Danantara. Kimia Farma Apotik juga sedang kita review untuk independen,” kata Dony dalam Investor Daily Rountable di Plataran, Jakarta, Rabu (28/1/2026).

1. Bergerak di lini bisnis yang berbeda

ilustrasi proses produksi vaksin di Bio Farma (biofarma.co.id)
ilustrasi proses produksi vaksin di Bio Farma (biofarma.co.id)

Dony mengatakan, kedua perusahaan itu memiliki model bisnis yang berbeda satu sama lain, dan juga dengan Biofarma.

“Bio Farma itu sebetulnya base-nya adalah dia lebih banyak itu kita harapkan ke depan itu kan research. Dia melakukan vaksin-vaksin baru, di samping cuma produksi. Berbeda dia dengan Kimia Farma. Kimia Farma itu manufaktur obat,” ujar Dony.

“Kemudian yang satu lagi, Kimia Farma Apotik itu bisnisnya adalah ritel. Nature business-nya sebetulnya adalah ritel,” sambung Dony.

Sementara itu, Danantara akan memfokuskan Biofarma pada pengembangan vaksin.

“Contoh misalnya, Biofarma itu sebetulnya base-nya adalah dia lebih banyak itu kita harapkan ke depan itu kan research. Dia melakukan vaksin-vaksin baru, di samping cuma produksi,” tutur Dony.

2. Demi dongkrak daya saing dan kinerja

Pabrik pembuatan bahan baku obat Kimia Farma Sungwun Pharmacopia di Cikarang, Jawa Barat (IDN Times/Ridwan Aji Pitoko)
Pabrik pembuatan bahan baku obat Kimia Farma Sungwun Pharmacopia di Cikarang, Jawa Barat (IDN Times/Ridwan Aji Pitoko)

Dony mengatakan, transformasi pada BUMN farmasi diperlukan untuk meningkatkan daya saing. Sebab, dia mengatakan, KFA yang saat ini memiliki ribuan cabang, ternyata belum terintegrasi dari sistem digital.

“Dan kita tidak tau berapa jumlah stok kita, SKU-nya apa saja yang ada di apotik itu, mana yang laku, mana yang enggak. Kita tidak punya sistem IT technology. Sekarang kita sedang melakukan proses mendata ulang, dan mengimplementasikan teknologi IT system di Kimia Farma Apotik,” tutur Dony.

3. Ciptakan obat yang murah untuk masyarakat Indonesia

Apotek Kimia Farma. (IDN Times/Vadhia Lidyana)
Apotek Kimia Farma. (IDN Times/Vadhia Lidyana)

Dengan menajamkan peta jalan atau roadmap masing-masing BUMN farmasi, harapannya masyarakat Indonesia bisa mengakses produk farmasi yang murah.

“Inilah yang satu-satu mesti kita kawal, kita jaga sampai nanti menjadi 300. Dan 300 ini sudah di-manage secara proper oleh orang-orang yang kompeten. Ini mungkin baru kita masuk ke dalam posisi yang baik. Nah, karena itu bahwa industri obat ini kami sendiri believe, kami yakin bahwa ini sangat dibutuhkan di Indonesia bagaimana kemudian kita bisa menurunkan harga obat tentunya keberadaan BUMN ini,” kata Dony.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us

Latest in Business

See More

Ekuador Naikkan Tarif Pengiriman Minyak Kolombia hingga 900 Persen

28 Jan 2026, 22:33 WIBBusiness