Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Ekonom: Pengunduran Perry Warjiyo Picu Sentimen Jangka Pendek di Pasar
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo (Youtube/@antaraTV)

Jakarta, IDN Times - Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet menilai pelaku usaha dan investor pada awalnya akan mencermati arah kebijakan bank sentral setelah pengunduran diri Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo ke Pejabat Sementara (Pjs) Destry Damayanti.

Menurut Yusuf, pengunduran diri yang dilakukan secara mendadak memang berpotensi memunculkan sentimen dan pertanyaan dari pelaku pasar. Namun, dampaknya diperkirakan tidak akan berlangsung lama.

"Dalam jangka pendek, tentu akan muncul sentimen dan pertanyaan dari pelaku pasar terkait pengunduran diri yang dilakukan secara mendadak. Namun, seiring berjalannya waktu, saya menilai dampaknya tidak akan terlalu besar," ujar Yusuf kepada IDN Times, Senin (27/7/2026).

Ia menilai pasar akan lebih berfokus pada arah kebijakan yang ditempuh oleh pemimpin baru BI dibandingkan pergantian sosok gubernurnya.

"Ke depan, persepsi investor kemungkinan akan lebih banyak ditentukan oleh arah dan konsistensi kebijakan yang diambil oleh gubernur baru, termasuk bagaimana ia menyikapi isu-isu terkait kebijakan moneter serta implementasi mandat tambahan yang diemban oleh bank sentral," katanya.

Yusuf mengatakan, penunjukan Penjabat Sementara (Pjs) Gubernur BI Destry Damayanti menjadi sinyal positif bagi pasar. Sebab, Destry memiliki pengalaman panjang sebagai Deputi Gubernur Senior BI, sekaligus rekam jejak yang kuat sebagai ekonom dan pelaku pasar keuangan.

"Dalam jangka pendek, pelaku usaha maupun investor kemungkinan masih akan mencermati dan menebak arah kebijakan Bank Indonesia ke depan. Namun, kabar baiknya adalah penunjukan Ibu Destry Damayanti sebagai pelaksana tugas gubernur memberikan sentimen yang relatif positif," ujarnya.

Di sisi lain, Yusuf mengingatkan pergantian kepemimpinan BI terjadi ketika kondisi ekonomi masih menghadapi berbagai tantangan. Salah satunya adalah pergerakan nilai tukar rupiah yang masih berfluktuasi.

Karena itu, menurut dia, tantangan utama bagi BI adalah menjaga kesinambungan kebijakan moneter yang telah berjalan sekaligus mempertahankan stabilitas nilai tukar rupiah dan kepercayaan pelaku pasar.

"Perlu diingat, pergantian kepemimpinan ini terjadi pada saat kondisi ekonomi tidak sedang mudah. Nilai tukar rupiah masih bergerak cukup volatil, sehingga tantangan utama yang dihadapi BI adalah memastikan kesinambungan kebijakan moneter yang telah berjalan, sekaligus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan kepercayaan pasar," kata Yusuf.

Curated For You

Editorial Team

Related Article