Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Ekspektasi Kenaikan Bunga AS Mereda, Rupiah Ditutup Menguat

2 min read
Ekspektasi Kenaikan Bunga AS Mereda, Rupiah Ditutup Menguat
ilustrasi rupiah menguat (IDN Times/Aditya Pratama)
  • Rupiah menguat 84 poin ke level Rp17.882 per dolar AS pada penutupan perdagangan Jumat.

  • Sinyal hati-hati dari sejumlah pejabat The Fed dan inflasi AS yang lebih rendah menurunkan perkiraan kenaikan suku bunga pada Oktober.

  • Rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif dan berpotensi melemah pada perdagangan Senin.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Nilai tukar atau kurs rupiah tercatat menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Jumat (2/10/2026). Rupiah ditutup pada level Rp17.882 per dolar AS.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah menguat 84 poin atau 0,47 persen ke level Rp17.882 per dolar AS. Penguatan tersebut terjadi dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp17.966 per dolar AS.

Pada awal perdagangan, rupiah dibuka di level Rp17.961 per dolar AS. Sepanjang perdagangan, rupiah bergerak dalam rentang Rp17.872-Rp17.961 per dolar AS.

  1. 1. Pejabat The Fed beri sinyal hati-hati soal suku bunga

    Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan sejumlah pejabat Bank Sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) memberikan sinyal kebijakan suku bunga perlu diterapkan secara hati-hati.

    Wakil Ketua The Fed Philip Jefferson menyebut kondisi perekonomian AS saat ini berada di dekat tingkat lapangan kerja maksimal. Karena itu, dia menilai The Fed perlu bersabar dalam menentukan langkah selanjutnya terkait suku bunga acuan.

    "Para pejabat The Fed, yang dipimpin oleh Wakil Ketua Philip Jefferson, menyatakan bahwa perekonomian berada di dekat kondisi lapangan kerja maksimal, sembari menekankan perlunya sikap sabar terkait penyesuaian suku bunga," kata Ibrahim.

    Di sisi lain, Presiden The Fed Minneapolis Neel Kashkari masih mengambil sikap lebih ketat. Dia mendorong adanya kenaikan suku bunga lebih lanjut untuk menjaga inflasi tetap terkendali.

  2. 2. Pasar menunggu data lapangan kerja AS

    Menurut Ibrahim, pelaku pasar kini menunggu data nonfarm payrolls (NFP) September yang akan menunjukkan jumlah tenaga kerja baru di AS di luar sektor pertanian.

    Ekonom memperkirakan perusahaan-perusahaan di AS menambah sekitar 90 ribu pekerja pada September. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan penambahan 162 ribu pekerja pada Agustus.

    Sementara itu, tingkat pengangguran diperkirakan tetap berada di 4,1 persen. Di sisi lain, data inflasi AS yang lebih rendah membuat pasar mulai mengurangi perkiraan adanya kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober.

    "Pasar kini memperkirakan peluang kenaikan pada bulan Oktober hanya sekitar 26 persen, turun tajam dari 69 persen pada pekan sebelumnya," tuturnya.

  3. 3. Rupiah diperkirakan bergerak melemah awal pekan depan

    Untuk perdagangan Senin (5/10), Ibrahim memperkirakan rupiah akan bergerak fluktuatif dan berpotensi ditutup melemah. Rupiah diproyeksikan bergerak di kisaran Rp17.880 hingga Rp17.930 per dolar AS.

    Sementara itu, sepanjang pekan depan, mata uang Garuda diperkirakan bergerak dalam rentang Rp17.750 hingga Rp18.050 per dolar AS. Sementara itu, pelemahan rupiah sejak awal tahun (year-to-date/ytd) tercatat sebesar 7,21 persen. Dalam 52 minggu terakhir, nilai tukar rupiah bergerak pada kisaran Rp16.515-Rp18.209 per dolar AS.

Share Article
Editorial Team

Ambang Batas Jelang Pemilu 2029

Related Articles

See More