Kebutuhan Valas Importir Susut, BI Sebut Rupiah Stabil di Kuartal IV

- BI memperkirakan tekanan rupiah mereda pada kuartal IV-2026 karena kebutuhan valas importir diproyeksikan turun setelah meningkat tinggi pada kuartal III.
- Kenaikan impor dan defisit transaksi berjalan memperbesar kebutuhan dolar AS, sehingga menekan rupiah; namun pergerakannya juga dipengaruhi gejolak pasar keuangan global.
- Per 29 September 2026, rupiah melemah 7,74 persen secara year to date; BI melakukan intervensi serta mendorong inflow asing untuk menjaga keseimbangan valas.
Jakarta, IDN Times - Bank Indonesia (BI) memperkirakan tekanan terhadap rupiah berpeluang mereda pada kuartal IV-2026. Salah satu alasannya, kebutuhan valuta asing (valas) dari importir diperkirakan mulai menurun setelah meningkat cukup tinggi pada kuartal III-2026.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea mengatakan, aktivitas impor yang tinggi membuat kebutuhan valas meningkat. Kondisi tersebut turut menekan nilai tukar rupiah.
"Bacaan kita di akhir tahun biasanya lebih rendah daripada kuartal III, sehingga dengan upaya-upaya yang kita lakukan, kita berharap setelah lewat kuartal III-2026 ini, kita bisa better off sampai dengan akhir tahun," ujar Erwin dalam taklimat media di Gedung Thamrin, Kantor BI, Rabu (30/9/2026).
1. Kebutuhan valas meningkat ketika laju impor juga naik

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea. (IDN Times/Triyan). Menurut Erwin, kebutuhan valas biasanya lebih tinggi ketika aktivitas impor meningkat. Importir membutuhkan dolar AS untuk membayar barang yang dibeli dari luar negeri.
Ketika permintaan dolar AS meningkat, tekanan terhadap rupiah juga ikut bertambah. Namun, pergerakan rupiah tetap bergantung pada kondisi ekonomi global. Ketika terjadi gejolak di pasar keuangan global, rupiah dapat kembali mendapat tekanan.
"Dinamika global itu enggak ada yang bisa kendalikan. Sehingga sifat kita adalah kita merespons dengan ruang yang ada dan kebijakan yang kita miliki," kata Erwin.
2. Selain dolar AS, pergerakan rupiah juga dipengaruhi kondisi perdagangan

ilustrasi 100 dolar AS (pexels.com/Engin Akyurt) Selain permintaan valas untuk impor, pergerakan rupiah juga dipengaruhi kondisi perdagangan Indonesia dengan negara lain. Jika Indonesia lebih banyak membeli barang dari luar negeri dibandingkan menjual barang ke luar negeri, kebutuhan dolar AS akan meningkat.
"Ketika suatu negara transaksi berjalannya itu defisit, artinya kebutuhan valuta asingnya lebih besar daripada produksinya, sehingga pergerakan nilai tukarnya akan bergerak mengikuti situasi itu," ujarnya.
3. Data 29 September, rupiah tercatat melemah 7,79 persen secara year to date

ilustrasi seseorang yang memegang beberapa uang kertas rupiah Indonesia (pexels.com/Ahsanjaya) Untuk menjaga rupiah, BI terus melakukan intervensi di pasar valuta asing dan pasar keuangan. BI juga berkoordinasi dengan pemerintah dan pemangku kepentingan lain untuk menjaga keseimbangan permintaan dan pasokan valas.
Berdasarkan data BI per 29 September 2026, rupiah masih melemah 7,74 persen secara year to date dibandingkan posisi akhir 2025. Meski melemah, BI menilai pergerakan rupiah masih sejalan dengan mata uang negara-negara kawasan.
"Korea itu 15,6 persen, Filipina itu 8,7 persen, Malaysia itu 8,59 persen. Kalau dari sisi pemahaman nilai tukar, rupiah bergerak beriringan dengan peers kita," tutur Erwin.
4. Inflow bisa menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan valas dalam negeri

Ilustrasi cadangan devisa. (IDN Times/Arief Rahmat) Selain menjaga rupiah melalui intervensi, BI juga berupaya mendorong lebih banyak dana asing masuk ke pasar keuangan Indonesia. Erwin mengatakan, BI memberikan sejumlah insentif untuk menarik investor asing agar menempatkan dananya di pasar keuangan domestik.
Menurut dia, arus dana asing yang masuk dapat membantu menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan valas di dalam negeri.
"Ini juga menjadi bagian dari komitmen Bank Indonesia agar stabilitas tetap terjaga, memberikan kepastian kepada seluruh pelaku ekonomi untuk melakukan keputusan-keputusan ekonominya," ucap Erwin.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)



















