El Nino menjadi perhatian sektor pertanian karena fenomena ini dapat mengubah pola hujan dan meningkatkan risiko kekeringan di sejumlah wilayah. Indonesia perlu mewaspadai dampaknya karena banyak kegiatan pertanian bergantung pada ketersediaan air untuk menjaga pertumbuhan tanaman dan menentukan waktu tanam. Jika hujan datang terlambat, petani dapat menghadapi risiko penurunan hasil panen hingga perubahan jadwal produksi.
BMKG memperkirakan musim hujan 2026/2027 akan mundur di 61,08 persen wilayah Indonesia, sementara kekeringan telah berlangsung di berbagai daerah. Dampaknya tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan pangan, tetapi juga pasokan komoditas perkebunan yang diperdagangkan di pasar global. Lantas, komoditas apa saja yang perlu dipantau ketika risiko El Nino meningkat?
