Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

3 Hal yang Sulit Downgrade meski Kondisi Ekonomi Menekan

4 min read
3 Hal yang Sulit Downgrade meski Kondisi Ekonomi Menekan
ilustrasi supermarket (Pexels.com/freestocks.org)
  • Saat ekonomi tidak pasti, konsumen melakukan downgrade secara selektif dengan mengganti merek, kualitas, atau frekuensi pembelian, bukan menghapus seluruh kebutuhan.

  • Pengeluaran kesehatan dan pendidikan anak cenderung dipertahankan karena manfaatnya penting, meski konsumen mencari fasilitas, produk, atau metode belajar yang lebih terjangkau.

  • Riset Capgemini 2026 mencatat 71% konsumen mempertahankan kesenangan kecil, seperti kopi atau makanan favorit, untuk menghadapi tekanan finansial dan menghargai penghematan lain.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Ketika kondisi ekonomi sedang tidak pasti, salah satu respons yang sering dilakukan konsumen adalah downgrade atau trading down. Merek premium diganti dengan alternatif yang lebih murah, frekuensi makan di luar dikurangi, hingga pembelian barang besar ditunda.

Namun, ternyata konsumen tidak memangkas semua pengeluaran secara bersamaan. Ada sejumlah kebutuhan dan keinginan yang justru tetap dipertahankan karena dianggap terlalu penting untuk dikurangi. Riset Capgemini Research Institute pada 2026 menunjukkan bahwa konsumen memang melakukan trading down pada kategori tertentu, tetapi tetap mempertahankan pengeluaran pada kategori yang dianggap penting. Bahkan, 71 persen konsumen mengatakan small indulgences atau kesenangan kecil membantu mereka menghadapi tekanan finansial. Lantas, pengeluaran apa saja yang cenderung tidak ikut mengalami downgrade?

  1. 1. Kesehatan

    ilustrasi rumah sakit (Pexels.com/supplier gorden ready stok minimalis)
    ilustrasi rumah sakit (Pexels.com/supplier gorden ready stok minimalis)

    Kesehatan merupakan salah satu pengeluaran yang relatif sulit untuk dikurangi karena konsekuensinya bisa jauh lebih besar jika kebutuhan tersebut diabaikan. Ketika kondisi keuangan menekan, konsumen mungkin mencari obat atau produk kesehatan dengan harga yang lebih terjangkau. Namun, kebutuhan dasarnya tetap ada.

    Hal yang sama berlaku untuk makanan bergizi, pemeriksaan kesehatan, perawatan gigi, hingga kebutuhan kesehatan anggota keluarga. Bentuk konsumsinya mungkin berubah, tetapi kebutuhannya tidak serta-merta hilang. Temuan Capgemini menunjukkan bahwa health benefits menjadi salah satu faktor yang dipertimbangkan konsumen dalam menentukan nilai sebuah produk. Artinya, konsumen tidak hanya mengejar harga murah, tetapi juga memperhitungkan manfaat yang diperoleh.

    Karena itu, ketika harus melakukan penghematan, seseorang mungkin mengganti merek vitamin dengan produk yang lebih murah atau memilih fasilitas kesehatan yang lebih terjangkau. Namun, bukan berarti kebutuhan kesehatan tersebut otomatis dihapus dari anggaran. Inilah salah satu bentuk selective spending, yang diturunkan bisa merek atau cara memperolehnya, bukan kebutuhan utamanya.

  2. 2. Pendidikan anak

    ilustrasi anak sekolah (Pexels.com/Haidar Azmi)
    ilustrasi anak sekolah (Pexels.com/Haidar Azmi)

    Pendidikan juga menjadi salah satu pengeluaran yang memiliki karakter berbeda dibandingkan konsumsi biasa. Ketika kondisi ekonomi memburuk, orang tua mungkin mencari sekolah dengan biaya lebih terjangkau, mengurangi pengeluaran untuk les tambahan, membeli buku bekas, atau memanfaatkan sumber belajar gratis. Namun, kebutuhan pendidikan anak tetap dipandang sebagai investasi jangka panjang.

    Dalam kondisi seperti ini, orang tua bisa melakukan downgrade terhadap cara membayar pendidikan, tetapi belum tentu terhadap prioritas pendidikannya. Pola tersebut sebenarnya menunjukkan bagaimana konsumen menentukan prioritas berdasarkan manfaat jangka panjang. Produk atau layanan yang dianggap memberikan dampak besar terhadap masa depan cenderung lebih sulit untuk dipangkas dibandingkan pengeluaran yang sifatnya sekadar konsumtif.

    Karena itu, ketika pendapatan rumah tangga tertekan, penghematan bisa dilakukan melalui berbagai cara. Di antaranya mencari promo, memilih alternatif yang lebih murah, membeli barang bekas, atau mengurangi pengeluaran tambahan. Namun, kebutuhan pokok pendidikan tetap berusaha dipertahankan.

  3. 3. Pengeluaran kecil yang memberi kebahagiaan

    ilustrasi nongkrong di kafe (Pexels.com/Ksenia Chernaya)
    ilustrasi nongkrong di kafe (Pexels.com/Ksenia Chernaya)

    Ketika uang sedang terbatas, bukankah seharusnya pengeluaran untuk hal-hal yang tidak wajib justru menjadi yang pertama dipotong? Ternyata tidak selalu. Konsumen tetap membutuhkan ruang untuk menikmati hal-hal kecil seperti membeli kopi, makanan favorit, menonton film, membeli buku, menikmati camilan, atau sesekali makan di restoran.

    Riset Capgemini Research Institute menemukan bahwa 71 persen konsumen mengatakan small indulgences membantu mereka menghadapi tekanan finansial. Persentase yang sama juga mengatakan membeli treats membuat mereka merasa mendapatkan penghargaan karena sudah berhemat di tempat lain. Artinya, konsumen tidak selalu melihat pengeluaran kecil tersebut sebagai pemborosan.

    Justru karena sudah melakukan penghematan di berbagai sisi, mereka merasa masih layak memberikan sedikit penghargaan kepada diri sendiri. Misalnya, seseorang mungkin berhenti membeli kopi setiap hari dan hanya membelinya seminggu sekali. Bukan berarti kopi tersebut hilang sepenuhnya dari anggaran. Frekuensinya saja yang berubah.

    Jadi, yang mengalami downgrade bukan selalu jenis pengeluarannya, melainkan frekuensinya. Konsumen melakukan semacam prioritas ulang terhadap pengeluaran. Kebutuhan yang dianggap penting seperti kesehatan dan pendidikan berusaha dipertahankan, sementara pengeluaran lain bisa dikurangi melalui perubahan merek, ukuran, frekuensi, atau kualitas.

    Bahkan, kesenangan kecil pun belum tentu hilang. Sebagian konsumen justru tetap menyisihkan uang untuk small indulgence sebagai bentuk penghargaan setelah melakukan penghematan di tempat lain. Dengan kata lain, ketika ekonomi menekan, konsumen tidak selalu berhenti membeli. Mereka menjadi lebih selektif mengenai apa yang harus dihemat dan apa yang masih layak dipertahankan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More