Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Harga Pertamax Ditahan, Daya Beli Masyarakat Jadi Pertimbangan

Harga Pertamax Ditahan, Daya Beli Masyarakat Jadi Pertimbangan
Suasana SPBU di Waingapu usai sidak Pertamina bersama Pemda dan Polres Sumba Timur. (Dok. Pertamina)
  • Harga keekonomian Pertamax diperkirakan Rp16.700-Rp16.800 per liter, sementara harga jual Jakarta tetap Rp15.950, menciptakan selisih Rp750-Rp900 per liter.
  • Pemerintah dan Pertamina menahan harga Pertamax demi menjaga daya beli, tetapi kebijakan jangka panjang berpotensi menekan margin, arus kas, laba, serta investasi Pertamina.
  • Produksi minyak domestik sekitar 580 ribu barel per hari, jauh di bawah kebutuhan 1,6 juta barel; harga Pertamax ditahan juga untuk mengurangi perpindahan ke Pertalite bersubsidi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Ekonom memperkirakan harga keekonomian Pertamax saat ini berada di kisaran Rp16.700-Rp16.800 per liter. Namun, pemerintah masih mempertahankan harga jual Pertamax di Jakarta sebesar Rp15.950 per liter.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE), Yusuf Rendy Manilet, mengatakan perhitungan harga keekonomian Pertamax memperhitungkan sejumlah komponen, mulai dari harga minyak mentah dunia, nilai tukar rupiah, biaya distribusi dan penyimpanan, margin keuntungan, hingga pajak. Dengan demikian, terdapat selisih antara harga keekonomian dan harga jual Pertamax yang dibayarkan konsumen.

"Artinya, dengan harga Pertamax yang masih Rp15.950 per liter, ada selisih sekitar Rp750-Rp900 per liter yang secara ekonomi belum tercermin dalam harga jual,” kata Yusuf, dikutip Jumat (4/9/2026).

  1. 1. Pertamina masih jaga daya beli masyarakat

    Ilustrasi SPBU. (Dok. Istimewa)
    Ilustrasi SPBU. (Dok. Istimewa)

    Menurut Yusuf, keputusan pemerintah dan PT Pertamina (Persero) untuk menahan harga Pertamax pada awal September 2026 dapat dipahami sebagai upaya menjaga daya beli masyarakat. Kebijakan tersebut membuat konsumen tidak sepenuhnya menanggung kenaikan biaya ekonomi BBM nonsubsidi.

    "Menurut saya, keputusan pemerintah dan Pertamina menahan harga Pertamax di awal September ini merupakan pilihan yang cukup sadar untuk menjaga daya beli dan kondisi sosial masyarakat," ujar Yusuf.

    Meski Pertamax merupakan BBM nonsubsidi, Yusuf menjelaskan selisih antara harga keekonomian dan harga jual tetap perlu dikelola dalam struktur keuangan Pertamina. Dalam jangka pendek, kondisi tersebut masih dapat ditanggung perusahaan, terutama karena sejumlah produk BBM nonsubsidi lainnya telah mengalami penyesuaian harga.

    Namun, jika harga Pertamax terus dipertahankan di bawah harga keekonomiannya dalam jangka panjang, tekanan terhadap keuangan Pertamina berpotensi meningkat. Kondisi tersebut dapat menekan margin, arus kas, dan laba perusahaan, sekaligus mempersempit ruang investasi, terutama di sektor hulu dan kilang.

  2. 2. Produksi minyak nasional masih jauh di bawah kebutuhan nasional

    Petugas Pertamina melakukan pengisian BBM di SPBU (dok. Pertamina)
    Petugas Pertamina melakukan pengisian BBM di SPBU (dok. Pertamina)

    Sementara itu, Guru Besar Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan Institut Teknologi Bandung (ITB), Prof. Bonar Tua Halomoan Marbun, menilai beban dalam menjaga harga BBM tidak dapat dilepaskan dari kondisi industri minyak nasional. Sebab, produksi minyak domestik masih jauh di bawah kebutuhan nasional.

    "Produksi kita hanya sekitar 580 ribu barel per hari. Sedangkan, kebutuhan kita dari Sabang sampai Merauke adalah 1,6 juta barel. Jadi, bisa dibayangkan defisitnya sekitar satu juta barel per hari," kata Bonar.

    Menurut Bonar, kesenjangan antara produksi dan kebutuhan tersebut membuat Indonesia harus memenuhi sebagian kebutuhan minyak melalui impor. Kondisi ini memberikan tekanan ganda bagi pemerintah dan Pertamina, yakni tingginya biaya pengadaan minyak di satu sisi dan kebutuhan untuk menjaga harga BBM tetap terjangkau bagi masyarakat di sisi lain.

    Tekanan tersebut semakin besar ketika harga minyak dunia meningkat dan kondisi geopolitik global mengganggu kepastian pasokan. Bonar menilai pengadaan minyak tidak hanya bergantung pada kemampuan membeli, tetapi juga dipengaruhi oleh ketersediaan pasokan, waktu pengiriman, kondisi geopolitik, serta berbagai faktor lainnya.

    "Dari sisi kondisi saat ini, secara akademis maupun berdasarkan best practice, kebijakan pemerintah tersebut bisa dipahami. Memang merupakan langkah yang relatif pahit, tetapi bisa diterima sebagai kebijakan untuk mengamankan pasokan yang kebutuhannya semakin besar, sementara harganya tinggi dan kepastian pasokannya semakin rendah," ujar Bonar.

  3. 3. Pertahankan harga Pertamax cegah risiko perpindahan konsumen

    Petugas Pertamina melakukan pengisian BBM di SPBU (dok. Pertamina)
    Petugas Pertamina melakukan pengisian BBM di SPBU (dok. Pertamina)

    Bonar menyatakan, keputusan mempertahankan harga Pertamax juga dapat membantu menjaga daya beli masyarakat sekaligus mengurangi risiko perpindahan konsumen ke Pertalite yang merupakan BBM bersubsidi.

    Dengan produksi minyak domestik yang masih terbatas, kebijakan menahan harga Pertamax menunjukkan upaya pemerintah untuk meredam tekanan harga di tingkat konsumen di tengah tingginya biaya pengadaan energi.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More