ilustrasi nongkrong di kafe (Pexels.com/Ksenia Chernaya)
Ketika uang sedang terbatas, bukankah seharusnya pengeluaran untuk hal-hal yang tidak wajib justru menjadi yang pertama dipotong? Ternyata tidak selalu. Konsumen tetap membutuhkan ruang untuk menikmati hal-hal kecil seperti membeli kopi, makanan favorit, menonton film, membeli buku, menikmati camilan, atau sesekali makan di restoran.
Riset Capgemini Research Institute menemukan bahwa 71 persen konsumen mengatakan small indulgences membantu mereka menghadapi tekanan finansial. Persentase yang sama juga mengatakan membeli treats membuat mereka merasa mendapatkan penghargaan karena sudah berhemat di tempat lain. Artinya, konsumen tidak selalu melihat pengeluaran kecil tersebut sebagai pemborosan.
Justru karena sudah melakukan penghematan di berbagai sisi, mereka merasa masih layak memberikan sedikit penghargaan kepada diri sendiri. Misalnya, seseorang mungkin berhenti membeli kopi setiap hari dan hanya membelinya seminggu sekali. Bukan berarti kopi tersebut hilang sepenuhnya dari anggaran. Frekuensinya saja yang berubah.
Jadi, yang mengalami downgrade bukan selalu jenis pengeluarannya, melainkan frekuensinya. Konsumen melakukan semacam prioritas ulang terhadap pengeluaran. Kebutuhan yang dianggap penting seperti kesehatan dan pendidikan berusaha dipertahankan, sementara pengeluaran lain bisa dikurangi melalui perubahan merek, ukuran, frekuensi, atau kualitas.
Bahkan, kesenangan kecil pun belum tentu hilang. Sebagian konsumen justru tetap menyisihkan uang untuk small indulgence sebagai bentuk penghargaan setelah melakukan penghematan di tempat lain. Dengan kata lain, ketika ekonomi menekan, konsumen tidak selalu berhenti membeli. Mereka menjadi lebih selektif mengenai apa yang harus dihemat dan apa yang masih layak dipertahankan.