Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Rupiah Tertekan, Ekonom Wanti-Wanti Risiko Fiscal Dominance

Rupiah Tertekan, Ekonom Wanti-Wanti Risiko Fiscal Dominance
ilustrasi uang kertas rupiah (pexels.com/Robert Lens)
Intinya Sih
  • Josua Pardede menilai pelemahan rupiah dipicu kerentanan fiskal dan ketergantungan tinggi pada modal asing, yang berpotensi memunculkan risiko fiscal dominance akibat beban bunga utang meningkat.
  • Pemerintah melakukan diversifikasi penerbitan obligasi global seperti dimsum bond, kangaroo bond, dan panda bond untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS serta meredam dampak gejolak global.
  • Meskipun rupiah tertekan dan yield obligasi naik, Indonesia dinilai masih tangguh menghadapi tekanan eksternal berkat reformasi sektor keuangan, kebijakan BI, dan pengawasan OJK yang memperkuat stabilitas ekonomi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Makassar, IDN Times - Kepala Ekonom PermataBank, Josua Pardede mengingatkan, pelemahan nilai tukar rupiah tidak dapat dilepaskan dari meningkatnya kerentanan fiskal dan tingginya ketergantungan Indonesia terhadap aliran modal asing.

Kondisi ini memunculkan risiko fiscal dominance di tengah meningkatnya beban bunga utang pemerintah serta rendahnya rasio pajak terhadap produk domestik bruto (tax to GDP ratio) dibandingkan negara-negara setara (peer countries).

1. Masih bergantung pada aliran modal asing masuk

IMG-20260524-WA0105.jpg
Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede. (IDN Times/Triyan).

Josua menyebut defisit transaksi berjalan dan kebutuhan pembiayaan pemerintah pada akhirnya harus ditutup melalui surplus pada neraca finansial, yang sangat bergantung pada masuknya investasi asing, termasuk pembelian Surat Berharga Negara (SBN).

“Pada akhirnya ini harus dibiayai melalui surplus di financial account. Karena itu kita tidak bisa menutup mata terhadap investasi asing. Investor asing tetap harus dipertimbangkan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, ketika ruang fiskal semakin sempit akibat beban bunga utang yang terus meningkat, pemerintah berpotensi berkepentingan menjaga suku bunga tetap stabil agar biaya utang tidak terus naik. Kondisi tersebut dalam teori ekonomi dikenal sebagai fiscal dominance.

2. Diversifikasi surat utang jadi cara minimalisir dampak gejolak global

Ilustrasi Obligasi/Surat Berharga. (IDN Times/Aditya Pratama)
Ilustrasi Obligasi/Surat Berharga. (IDN Times/Aditya Pratama)

Selain itu, pelemahan rupiah juga meningkatkan kerentanan terhadap utang berdenominasi dolar AS. Karena itu pemerintah mulai melakukan diversifikasi penerbitan obligasi global melalui berbagai instrumen seperti dimsum bond, kangaroo bond, hingga rencana penerbitan panda bond.

“Diversifikasi global bond dilakukan untuk mengurangi risiko ketergantungan terhadap dolar AS,” ujarnya.

3. Indonesia masih resilient untuk hadapi gejolak global

Ilustrasi Obligasi/Surat Berharga (IDN Times/Aditya Pratama)
Ilustrasi Obligasi/Surat Berharga (IDN Times/Aditya Pratama)

Ia juga menyoroti meningkatnya perhatian lembaga pemeringkat terhadap kondisi fiskal Indonesia. Menurutnya, tekanan terhadap rupiah dan kenaikan yield obligasi pemerintah menunjukkan pasar tengah mencermati risiko yang ada.

“Yield kita naik, rupiah juga tertekan. Ini berbeda dibandingkan beberapa negara peers di ASEAN yang tidak mengalami tekanan serupa,” katanya.

Meski demikian, ia menilai Indonesia masih memiliki kapasitas menghadapi gejolak eksternal karena reformasi sektor keuangan dan perbankan pasca krisis telah memperkuat fondasi ekonomi nasional. Reformasi di sektor perbankan, penguatan kebijakan Bank Indonesia, hingga pengawasan oleh Otoritas Jasa Keuangan disebut menjadi modal penting dalam menjaga stabilitas ekonomi di tengah tekanan global.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Jujuk Ernawati
EditorJujuk Ernawati

Related Articles

See More