Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Harga Bahan Pokok di AS Terancam Naik, Inflasi Diprediksi hingga 2027
Ilustrasi belanja (pexels.com/@shvetsa/)
  • Harga bahan pokok di AS melonjak akibat kombinasi cuaca ekstrem, konflik geopolitik, dan kenaikan biaya produksi, dengan inflasi pangan diperkirakan bertahan hingga 2027.
  • Warga mulai mengubah pola konsumsi dan menanam sendiri untuk menghemat pengeluaran, sementara harga daging sapi dan tomat mencetak rekor tertinggi karena kekeringan serta tarif impor.
  • Fenomena El Niño yang diprediksi muncul hingga 2027 berpotensi memperparah kekeringan global, meningkatkan tekanan harga pangan dan memperberat beban ekonomi rumah tangga Amerika.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Warga Amerika Serikat (AS) kini bukan hanya menghadapi kenaikan harga bahan bakar, tetapi juga ancaman gelombang inflasi baru yang mulai menghantam kebutuhan pokok sehari-hari. Setelah harga bensin melonjak akibat konflik geopolitik di Timur Tengah, tekanan berikutnya diperkirakan datang dari rak-rak supermarket.

Kombinasi cuaca ekstrem, perang, tarif impor, hingga krisis produksi peternakan mulai mendorong harga pangan naik lebih cepat dibanding biasanya. Para ekonom memperingatkan, tekanan ini kemungkinan belum akan mereda dalam waktu dekat, bahkan dapat berlangsung hingga 2027.

Kondisi tersebut diperkirakan akan semakin membebani keuangan rumah tangga Amerika menjelang pemilu paruh waktu pada November mendatang. Di tengah daya beli masyarakat yang terus tertekan, isu keterjangkauan harga diprediksi kembali menjadi perhatian utama publik dan pemerintah.

1. Harga bahan makanan naik paling tinggi dalam hampir empat tahun

Ilustrasi belanja (freepik.com)

Menurut data terbaru, harga bahan makanan di AS pada April mencatat kenaikan terbesar dalam hampir empat tahun terakhir. Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) memperkirakan harga kebutuhan pokok akan naik sekitar 3,2 persen sepanjang tahun ini.

Namun, Ricky Volpe, profesor agribisnis dari California Polytechnic State University, menilai inflasi pangan bisa jauh lebih tinggi, yakni sekitar 4 persen hingga 4,5 persen.

“Ini akan menjadi tahun yang sulit. Harga makanan akan semakin tidak terjangkau dan konsumen perlu bersiap menghadapi hal itu,” ujar Volpe, dikutip dari Yahoo Finance.

Kenaikan harga pangan dinilai lebih sulit dikendalikan dibanding harga bahan bakar karena produksi hasil panen sangat bergantung pada keputusan penanaman yang sudah dilakukan jauh sebelumnya.

2. Warga mulai mengurangi konsumsi dan menanam sendiri

Ilustrasi menanam pohon (magnific.com)

Dampak kenaikan harga bahan makanan mulai dirasakan langsung oleh masyarakat. Warga Madison, Wisconsin berusia 62 tahun, James Giese mengatakan dirinya mulai mengurangi pembelian makanan siap saji dan daging demi menghemat pengeluaran. Bahkan, ia mencoba menanam kentang di halaman belakang rumah untuk membantu memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari.

“Saya sangat khawatir. Saya mungkin masih tergolong kelas menengah, tetapi sekarang mulai terasa memberatkan,” katanya.

Kisah seperti ini semakin banyak muncul di tengah masyarakat Amerika yang menghadapi biaya hidup terus meningkat pascapandemik.

3. Harga daging sapi cetak rekor

Ilustrasi daging di supermarket (freepik.com)

Harga daging sapi, yang menjadi salah satu komoditas paling sensitif secara politik di AS, juga melonjak ke rekor tertinggi pada April. Penyebab utamanya adalah jumlah populasi sapi yang kini berada di titik terendah dalam 75 tahun terakhir akibat kekeringan berkepanjangan dan tingginya biaya produksi.

Selain daging sapi, harga tomat juga naik tajam hingga 33 persen dalam dua bulan terakhir setelah badai musim dingin merusak area pertanian utama di Florida. Situasi semakin diperparah oleh penurunan impor dari Meksiko setelah pemerintahan Donald Trump memberlakukan tarif tambahan terhadap produk impor tertentu.

4. Cuaca ekstrem jadi penyebab utama

Ilustrasi kekeringan (magnific.com)

Salah satu faktor terbesar di balik lonjakan harga pangan adalah cuaca ekstrem yang melanda wilayah pertanian AS. Para petani menghadapi berbagai kondisi cuaca tidak biasa, mulai dari gelombang panas ekstrem, suhu dingin bersejarah, hujan es berukuran besar, hingga kebakaran hutan.

Menurut National Centers for Environmental Information, awal 2026 menjadi periode terpanas yang pernah tercatat di AS, dengan suhu rata-rata sekitar 3 derajat celsius di atas normal hingga akhir April. Panas yang datang terlalu cepat membuat sejumlah tanaman berbunga lebih awal dari seharusnya sehingga rentan rusak ketika embun beku kembali muncul.

Tekanan terhadap sektor pangan diperkirakan masih akan berlanjut karena kekeringan mulai meluas di wilayah pertanian utama Amerika. California, yang menyumbang hampir setengah produksi sayuran AS serta sebagian besar buah dan kacang-kacangan, kini menghadapi kekhawatiran soal pasokan air irigasi akibat minimnya cadangan salju di Sierra Nevada.

Namun berkurangnya lapisan salju di kawasan tersebut yang hanya mencapai 23 persen dari level normal pada pertengahan April menimbulkan kekhawatiran tentang pasokan air irigasi. Sementara itu, wilayah penghasil gandum utama AS juga mengalami kekeringan parah. Banyak tanaman gandum mulai rusak karena kurangnya curah hujan.

Data National Drought Mitigation Center menunjukkan sekitar 70 persen produksi gandum musim dingin AS berada di area terdampak kekeringan, bersama 25 persen produksi jagung nasional.

5. Ancaman El Niño hingga 2027

Ilustrasi cuaca panas (magnific.com)

Para peramal cuaca juga memperingatkan kemungkinan munculnya fenomena El Niño mulai Agustus mendatang. Fenomena ini diperkirakan berpotensi berlangsung hingga 2027 dan dapat meningkatkan suhu global secara signifikan.

Meski El Niño biasanya membawa lebih banyak hujan ke California, fenomena tersebut juga sering memicu kekeringan di berbagai negara penghasil pangan dunia seperti beras, kopi, dan kakao. Jika produksi global terganggu, tekanan harga pangan diperkirakan akan semakin besar.

6. Konflik Timur Tengah mengganggu pasar

Ilustrasi ekspor impor (freepik.com)

Perang di Timur Tengah juga menimbulkan dampak besar terhadap pasar pupuk global. Kawasan tersebut merupakan salah satu pemasok utama bahan baku pupuk dunia. Akibat konflik yang terjadi, harga pupuk di Amerika Utara naik sekitar 20 persen sejak perang dimulai.

Kenaikan biaya pupuk berpotensi membuat harga hasil panen semakin mahal. Selain itu, jika petani mengurangi penggunaan pupuk demi menghemat biaya, tanaman akan menjadi lebih rentan terhadap panas, kekeringan, maupun banjir. Di sisi lain, kenaikan harga bahan bakar diesel juga meningkatkan biaya operasional traktor, truk distribusi, hingga kemasan plastik berbasis minyak bumi.

7. Konsumen semakin tertekan

Ilustrasi belanja bumbu dapur (freepik.com)

Meski jaringan supermarket besar seperti Kroger dan Walmart berusaha menjaga harga tetap rendah, tekanan terhadap konsumen terus meningkat. Andrew Harig dari FMI Food Industry Association mengatakan, masyarakat sebenarnya sudah kelelahan menghadapi harga kebutuhan pokok yang terus naik selama beberapa tahun terakhir.

“Banyak orang masih membandingkan tagihan belanja mereka dengan masa sebelum pandemi dan merasa sekarang harus membayar jauh lebih mahal,” katanya.

Pada saat yang sama, utang rumah tangga meningkat, tingkat tabungan masyarakat menurun, dan pendapatan riil pekerja mulai melemah. Kondisi saat ini menunjukkan, inflasi pangan bukan lagi sekadar masalah sementara akibat gangguan rantai pasok pascapandemik. Faktor perubahan iklim, konflik geopolitik, hingga biaya produksi yang terus meningkat membuat tekanan harga berpotensi bertahan lebih lama dari perkiraan.

Bagi banyak keluarga Amerika, kenaikan harga bahan makanan kini menjadi ancaman yang lebih terasa dibanding fluktuasi harga energi. Dan jika kondisi cuaca serta konflik global tidak segera membaik, konsumen kemungkinan harus bersiap menghadapi biaya hidup yang semakin berat dalam beberapa tahun ke depan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article