Warga Amerika Serikat (AS) kini bukan hanya menghadapi kenaikan harga bahan bakar, tetapi juga ancaman gelombang inflasi baru yang mulai menghantam kebutuhan pokok sehari-hari. Setelah harga bensin melonjak akibat konflik geopolitik di Timur Tengah, tekanan berikutnya diperkirakan datang dari rak-rak supermarket.
Kombinasi cuaca ekstrem, perang, tarif impor, hingga krisis produksi peternakan mulai mendorong harga pangan naik lebih cepat dibanding biasanya. Para ekonom memperingatkan, tekanan ini kemungkinan belum akan mereda dalam waktu dekat, bahkan dapat berlangsung hingga 2027.
Kondisi tersebut diperkirakan akan semakin membebani keuangan rumah tangga Amerika menjelang pemilu paruh waktu pada November mendatang. Di tengah daya beli masyarakat yang terus tertekan, isu keterjangkauan harga diprediksi kembali menjadi perhatian utama publik dan pemerintah.
