Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Harga BBM Meroket, Inflasi AS Capai Level Tertinggi sejak 2022

Harga BBM Meroket, Inflasi AS Capai Level Tertinggi sejak 2022
ilustrasi inflasi (vecteezy.com/Bigc Studio)
Intinya Sih
  • Inflasi tahunan AS naik ke 3,3 persen pada Maret, tertinggi sejak 2022, dipicu lonjakan harga minyak akibat penutupan Selat Hormuz yang mengganggu pasokan energi global.
  • Harga BBM melonjak lebih dari 30 persen dan menyumbang hampir tiga perempat kenaikan inflasi bulanan, membuat biaya hidup warga meningkat tajam di berbagai sektor.
  • Kenaikan harga energi memicu efek domino ke tiket pesawat dan pakaian, sementara harapan penurunan suku bunga memudar karena bank sentral menilai tekanan inflasi belum mereda.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Inflasi tahunan Amerika Serikat (AS pada) Maret tercatat sebesar 3,3 persen, meningkat dari posisi Februari di 2,4 persen. Ini menjadi level inflasi tertinggi sejak 2022.

Lonjakan tersebut dipicu harga minyak dunia yang meningkat setelah ditutupnya Selat Hormuz selama konflik yang melibatkan AS, Israel, dan Iran.

Efeknya terasa cepat karena harga bahan bakar minyak (BBM) di SPBU melonjak tajam hingga merembet ke sektor lain. Kondisi ini menunjukkan betapa sensitifnya harga kebutuhan sehari-hari terhadap gejolak energi dunia.

Data inflasi Maret juga memperlihatkan kenaikan yang cukup jelas setelah sebelumnya bergerak lebih stabil dalam beberapa waktu terakhir.

1. Harga BBM jadi sumber tekanan terbesar

Harga BBM Meroket, Inflasi AS Capai Level Tertinggi sejak 2022
ilustrasi isi bensin (pexels.com/Julia Avamotive)

Dikutip dari BBC, harga BBM menjadi penyumbang terbesar kenaikan inflasi Maret 2027. Dalam periode Februari ke Maret, harga BBM naik 21,2 persen, menjadi lonjakan bulanan terbesar sejak pencatatan resmi dimulai pada 1967.

Harga BBM bahkan melesat lebih dari 30 persen, menjadi kenaikan tertinggi sejak Februari 2000. Besarnya lonjakan ini membuat harga energi menyumbang hampir tiga perempat dari kenaikan inflasi bulanan.

Dampak di level konsumen, kenaikan ini sangat nyata. Banyak pengendara mulai membatasi perjalanan karena biaya isi BBM jauh lebih mahal dari biasanya. Salah satu warga AS mengaku biaya isi BBM untuk Jeep miliknya melonjak dari sekitar 80 dolar AS menjadi 140 dolar AS. Situasi ini membuat tekanan inflasi terasa langsung ke pengeluaran rumah tangga sehari-hari.

2. Efeknya mulai merembet ke sektor lain

Harga BBM Meroket, Inflasi AS Capai Level Tertinggi sejak 2022
ilustrasi pesawat terbang (unsplash.com/Suhyeon Choi)

Kenaikan harga BBM hampir selalu punya efek domino ke berbagai kebutuhan lain. Bahkan tiket pesawat dan harga pakaian ikut naik selama periode yang sama.

Hal ini terjadi karena biaya energi yang lebih tinggi membuat ongkos operasional perusahaan meningkat. Pada akhirnya, tambahan biaya tersebut diteruskan ke konsumen lewat harga jual yang lebih mahal.

Meski harga makanan masih belum berubah dari Februari ke Maret, Arielle Ingrassia, Associate Director di Evelyn Partners yang merupakan perusahaan wealth management asal Inggris, memberi gambaran, tekanan harga bisa melebar dalam beberapa bulan ke depan. Menurut pandangannya, bila harga energi tetap tinggi, ongkos transportasi, distribusi, dan pupuk berpotensi mendorong kenaikan harga bahan pangan.

3. Konflik geopolitik jadi pemicu utamanya

Harga BBM Meroket, Inflasi AS Capai Level Tertinggi sejak 2022
ilustrasi bendera Amerika Serikat (unsplash.com/Jonathan Simcoe)

Akar utama lonjakan ini datang dari penutupan Selat Hormuz, salah satu jalur distribusi komoditas paling penting di dunia. Jalur ini dilewati minyak, gas alam, pupuk, aluminium, helium, dan komoditas strategis lainnya. Saat jalur tersebut terganggu, pasokan energi dunia ikut tersendat dan harga minyak langsung melonjak hingga membuat harga BBM di AS cepat ikut naik.

Dampaknya bisa secepat itu karena faktor Selat Hormuz dalam rantai pasok global. Banyak negara sangat bergantung pada jalur ini untuk distribusi energi.

Meski ada harapan jalur pelayaran bisa kembali dibuka, para analis mengingatkan normalisasi pasokan tetap membutuhkan waktu. Itu sebabnya harga minyak masih bertahan sekitar 30 persen lebih tinggi dibanding sebelum konflik.

4. Pakar melihat tekanan inti inflasi masih lebih sehat

Harga BBM Meroket, Inflasi AS Capai Level Tertinggi sejak 2022
ilustrasi belanja di toko (pexels.com/Craig Adderley)

Meski inflasi tahunan naik ke 3,3 persen, kondisi inflasi inti masih terlihat lebih terkendali. Adam Schickling, ekonom AS di Vanguard, perusahaan manajemen investasi global, menjelaskan bahwa kenaikan utama saat ini masih didorong shock energi sementara. Adapun inflasi inti berada di level 2,6 persen, sedikit lebih jinak karena tidak menghitung komponen makanan dan energi yang fluktuatif.

Pandangan ini memberi sinyal bahwa di bawah permukaan, tren inflasi sebenarnya belum sepenuhnya memburuk. Beberapa kategori seperti obat-obatan serta mobil dan truk bekas justru mengalami penurunan harga dalam setahun terakhir. Ini berarti masalah utamanya masih sangat terpusat pada energi, belum menyebar merata ke seluruh ekonomi.

5. Harapan penurunan suku bunga ikut memudar

ilustrasi The Fed atau Federal Reserve
ilustrasi The Fed atau Federal Reserve (commons.wikimedia.org/AgnosticPreachersKid)

Lonjakan inflasi ini membuat harapan pasar terhadap penurunan suku bunga tahun ini ikut melemah. Banyak pelaku pasar sebelumnya berharap bank sentral AS bisa mulai melonggarkan kebijakan karena tekanan harga sempat lebih tenang.

Namun kenaikan inflasi membuat ekspektasi itu kembali tertunda. Kondisi ini otomatis bikin pasar keuangan lebih waspada.

Atakan Bakiskan, ekonom AS di Berenberg, menggambarkan bahwa pejabat bank sentral akan lebih berhati-hati menyebut inflasi ini hanya sementara. Pengalaman salah membaca inflasi pasca pandemik membuat otoritas moneter kini cenderung lebih konservatif. Untuk kamu yang mengikuti pasar saham, obligasi, atau dolar AS, perkembangan ini penting karena suku bunga tinggi lebih lama bisa mempengaruhi arah investasi global.

Lonjakan harga BBM di AS kali ini memperlihatkan betapa cepat shock energi bisa mengangkat inflasi ke level tertinggi sejak 2022. Dalam waktu singkat, dampaknya sudah terasa dari pom bensin, tiket pesawat, pakaian, sampai potensi harga makanan ke depan.

Meski beberapa ekonom dari lembaga besar seperti Evelyn Partners, Vanguard, dan Berenberg masih melihat tekanan inti inflasi relatif sehat, risiko pelebaran tetap ada bila harga energi bertahan tinggi. Situasi ini juga membuat peluang penurunan suku bunga menjadi semakin kecil dalam waktu dekat. Perkembangan ini menarik untuk dipantau karena efeknya bisa menjalar ke ekonomi global dan sentimen pasar dunia.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Jujuk Ernawati
EditorJujuk Ernawati
Follow Us

Latest in Business

See More