ilustrasi The Fed atau Federal Reserve (commons.wikimedia.org/AgnosticPreachersKid)
Lonjakan inflasi ini membuat harapan pasar terhadap penurunan suku bunga tahun ini ikut melemah. Banyak pelaku pasar sebelumnya berharap bank sentral AS bisa mulai melonggarkan kebijakan karena tekanan harga sempat lebih tenang.
Namun kenaikan inflasi membuat ekspektasi itu kembali tertunda. Kondisi ini otomatis bikin pasar keuangan lebih waspada.
Atakan Bakiskan, ekonom AS di Berenberg, menggambarkan bahwa pejabat bank sentral akan lebih berhati-hati menyebut inflasi ini hanya sementara. Pengalaman salah membaca inflasi pasca pandemik membuat otoritas moneter kini cenderung lebih konservatif. Untuk kamu yang mengikuti pasar saham, obligasi, atau dolar AS, perkembangan ini penting karena suku bunga tinggi lebih lama bisa mempengaruhi arah investasi global.
Lonjakan harga BBM di AS kali ini memperlihatkan betapa cepat shock energi bisa mengangkat inflasi ke level tertinggi sejak 2022. Dalam waktu singkat, dampaknya sudah terasa dari pom bensin, tiket pesawat, pakaian, sampai potensi harga makanan ke depan.
Meski beberapa ekonom dari lembaga besar seperti Evelyn Partners, Vanguard, dan Berenberg masih melihat tekanan inti inflasi relatif sehat, risiko pelebaran tetap ada bila harga energi bertahan tinggi. Situasi ini juga membuat peluang penurunan suku bunga menjadi semakin kecil dalam waktu dekat. Perkembangan ini menarik untuk dipantau karena efeknya bisa menjalar ke ekonomi global dan sentimen pasar dunia.