Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Harga Minyak Tembus 100 Dolar AS, Bos PLN: Ini Wake Up Call

Harga Minyak Tembus 100 Dolar AS, Bos PLN: Ini Wake Up Call
Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, Dirjen Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Jisman Hutajulu dan jajaran Dinas ESDM Jateng saat memberikan keterangan kepada media. (IDN Times/Fariz Fardianto)
Intinya Sih
Timeline
5W1H
Gini Kak
Sisi Positif
  • Darmawan Prasodjo menilai lonjakan harga minyak dunia di atas 100 dolar AS per barel menjadi peringatan penting bagi Indonesia untuk mengurangi ketergantungan pada energi impor.
  • PLN terbantu oleh kebijakan harga gas domestik yang tetap, sehingga tidak perlu membeli LNG dari pasar spot yang kini mencapai sekitar 19–20 dolar AS per MMBTU.
  • Produksi LNG global terganggu, termasuk penurunan produksi di Qatar sebesar 5 juta ton per tahun yang diperkirakan butuh lima tahun untuk pulih, meningkatkan risiko pasokan energi impor.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Direktur Utama PT PLN (Persero) Darmawan Prasodjo mengungkapkan perusahaan saat ini bergantung pada kebijakan harga gas domestik untuk menjaga stabilitas operasional pembangkit listrik.

Dia menyebut PLN sangat terbantu karena mendapatkan alokasi gas dari negara dengan harga yang sudah dipatok, sehingga untuk saat ini perusahaan tidak perlu melakukan impor gas alam cair (liquefied natural gas/LNG).

"Beruntung kami mendapatkan alokasi gas dari negara yang harganya sudah dikunci," katanya dalam rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi XII DPR RI, Jakarta, Senin (13/4/2026).

1. Harga minyak dunia jadi alarm untuk kurangi energi impor

Ilustrasi kenaikan harga minyak (IDN Times/Arief Rahmat)
Ilustrasi kenaikan harga minyak (IDN Times/Arief Rahmat)

Darmawan mengakui kondisi geopolitik global saat ini sebagai peringatan atau wake up call. Hal tersebut menyusul pergerakan harga minyak dunia yang menyentuh angka di atas 100 dolar AS per barel.

​Menurutnya, situasi tersebut sangat berpengaruh pada biaya energi untuk pembangkit listrik karena harga gas internasional terbukti memiliki korelasi yang erat dengan harga minyak dunia.

"Ada pertanyaan bagaimana kondisi geopolitics, nah ini wake up call. Harga minyak sudah kemarin sempat menyentuh di atas 100 dolar per barel. Nuwun sewu juga harga gas ternyata berkorelasi dengan harga minyak internasional," paparnya.

2. Biaya bahan bakar melonjak jika ambil dari pasar spot

Ilustrasi harga minyak naik
Ilustrasi harga minyak naik (IDN Times/Arief Rahmat)

Dari hasil pemantauan PLN, harga LNG di pasar spot saat ini mencapai 19 dolar AS per MMBTU. Darmawan memberikan gambaran jika PLN harus mengambil gas dari pasar spot, biaya bahan bakar yang dikeluarkan bisa membengkak hingga 14 sen dolar AS per kWh.

Harga LNG tersebut bahkan bisa mencapai 20 dolar AS per MMBTU jika perusahaan memerlukan kargo tambahan secara mendadak. Namun, stok di pasar Jepang-Korea masih tersedia di harga 19 dolar AS per MMBTU.

"Begitu kami cek di Japan-Korean Market LNG harganya 19 dolar, Alhamdullilahirabbil alamin kalau kami butuh ekstra kargo masih mungkin kami mendapatkan kargo tersebut," ujar dia.

3. Pasokan global terganggu akibat gangguan produksi

Ilustrasi harga minyak (IDN Times/Arief Rahmat)
Ilustrasi harga minyak (IDN Times/Arief Rahmat)

Persoalan tidak hanya terletak pada harga, tetapi juga ketersediaan stok di tingkat global. Darmawan mengungkapkan produksi LNG di Qatar saat ini turun hingga 5 juta ton per tahun dan diperkirakan butuh waktu 5 tahun untuk pulih kembali.

Kondisi akibat dinamika geopolitik itu disebutnya sebagai risiko bagi energi yang berbasis impor. Situasi tersebut menjadi dasar bagi PLN untuk semakin waspada terhadap ketergantungan pasokan energi dari luar negeri.

"Di Qatar ada 5 juta ton per tahun hilang produksinya dan butuh 5 tahun untuk recovery-nya. Jadi mohon izin tadi sudah disampaikan pertanyaan geopolitiknya gimana, ini wake up call. Energi berbasis pada impor," tuturnya.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Dwifantya Aquina
EditorDwifantya Aquina
Follow Us

Latest in Business

See More