Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
IFG Life Tekankan Pentingnya Persiapan Dana Pendidikan sejak Dini
Pentingnya persiapan dana pendidikan anak. (Dok/Istimewa).
  • IFG Life menekankan pentingnya mempersiapkan dana pendidikan sejak dini karena biaya sekolah terus meningkat, berdasarkan data BPS yang menunjukkan perbedaan signifikan antara jenjang SD dan SMA/SMK.
  • Setiap keluarga memiliki kebutuhan pendidikan berbeda tergantung kondisi ekonomi, sehingga perlu strategi keuangan dan perlindungan risiko agar rencana pendidikan anak tetap berjalan stabil.
  • Bonus demografi menjadi momentum bagi keluarga produktif untuk menata masa depan anak, di tengah rendahnya literasi dan inklusi asuransi yang masih perlu ditingkatkan di Indonesia.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Ada bu Fabiola dari IFG Life yang bilang orang tua harus menyiapkan uang sekolah anak sejak kecil. Katanya biaya sekolah makin mahal kalau anak sudah besar. Di SD masih lebih murah, tapi di SMA jauh lebih mahal. Jadi keluarga perlu rencana supaya uangnya cukup dan anak bisa terus sekolah dengan tenang sampai besar nanti.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - PT Asuransi Jiwa IFG (IFG Life) mengingatkan pentingnya menyiapkan dana pendidikan sebagai bagian dari perencanaan keuangan keluarga. Pasalnya, biaya pendidikan terus meningkat seiring bertambahnya jenjang pendidikan anak.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan rata-rata biaya pendidikan pada jenjang SMA/SMK sederajat mencapai Rp10,19 juta per tahun ajaran, lebih dari dua kali lipat dibandingkan biaya pendidikan pada jenjang SD sederajat yang sebesar Rp4,56 juta per tahun ajaran.

Direktur Bisnis Individu merangkap Plt. Direktur Bisnis Korporasi IFG Life, Fabiola Noralita, mengatakan bahwa semakin awal keluarga mempersiapkan dana pendidikan, semakin besar peluang untuk mewujudkan cita-cita pendidikan anak tanpa mengganggu kebutuhan finansial lainnya.

"Setiap orang tua tentu ingin memberikan pendidikan terbaik bagi anak-anaknya. Karena itu, perencanaan dana pendidikan sebaiknya tidak menunggu hingga anak memasuki usia sekolah, melainkan dipersiapkan sejak dini sebagai bagian dari perencanaan keuangan keluarga," ujar Fabiola dalam pernyataan resminya, Rabu (24/6/2026).

1. Perencanaan dana pendidikan harus disiapkan sejak dini

ilustrasi dana pendidikan (freepik.com/jcomp)

Ia menjelaskan berdasarkan data BPS, rata-rata biaya pendidikan pada jenjang SMA/SMK mencapai Rp10,19 juta per tahun ajaran, sedangkan pada jenjang SD sebesar Rp4,56 juta per tahun ajaran. Perbedaan ini menunjukkan bahwa kebutuhan biaya pendidikan akan terus bertambah seiring perkembangan anak.

Karena itu, keluarga perlu memiliki strategi keuangan yang terencana agar tidak menghadapi tekanan finansial ketika anak memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

"Perencanaan dana pendidikan sebaiknya dipersiapkan sejak dini sebagai bagian dari perencanaan keuangan keluarga," ujarnya.

2. Setiap keluarga memiliki kebutuhan pendidikan yang berbeda

ilustrasi menyiapkan dana pendidikan anak (freepik.com/freepik)

Besaran biaya pendidikan juga dipengaruhi oleh kondisi ekonomi dan pilihan pendidikan masing-masing keluarga. Data BPS mencatat rata-rata biaya pendidikan SD pada kelompok 20 persen rumah tangga dengan pengeluaran tertinggi mencapai Rp8,88 juta per tahun ajaran, sementara pada kelompok 40 persen rumah tangga dengan pengeluaran terendah sebesar Rp3,28 juta.

Meski demikian, kebutuhan mempersiapkan pendidikan anak tetap menjadi prioritas bagi setiap keluarga.

"Setiap orang tua tentu ingin memberikan pendidikan terbaik bagi anak-anaknya," ujar Fabiola.

Menyiapkan dana pendidikan saja tidak selalu cukup. Berbagai risiko yang dapat memengaruhi kondisi keuangan keluarga berpotensi mengganggu rencana pendidikan anak apabila tidak diantisipasi sejak awal. Karena itu, keluarga juga perlu mempertimbangkan perlindungan keuangan sebagai bagian dari perencanaan masa depan.

"Keluarga juga perlu mempersiapkan perlindungan terhadap berbagai risiko yang dapat memengaruhi kondisi keuangan rumah tangga agar rencana pendidikan anak tetap dapat berjalan sesuai harapan," kata Fabiola.

3. Bonus demografi jadi momentum menata masa depan anak

ilustrasi menghitung dana pendidikan (freepik.com/katemangostar)

Perencanaan pendidikan semakin relevan di tengah bonus demografi Indonesia, ketika semakin banyak keluarga berada pada fase produktif dan mulai mempersiapkan kebutuhan jangka panjang.

Namun, hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 menunjukkan tingkat literasi asuransi masyarakat Indonesia baru mencapai 45,45 persen dengan tingkat inklusi sebesar 28,50 persen. Kondisi ini menunjukkan masih terbukanya ruang untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya perencanaan dan perlindungan keuangan.

"Dengan persiapan yang lebih matang, keluarga akan memiliki kesempatan yang lebih besar untuk mewujudkan cita-cita pendidikan anak tanpa mengganggu kebutuhan finansial lainnya," ujar Fabiola.

Editorial Team

Related Article