Jakarta, IDN Times - Pasar smartphone nasional bergeser ke segmen atas pada awal 2026. Counterpoint Research mencatat segmen di atas 600 dolar AS tumbuh 30 persen secara tahunan dan mencetak kontribusi tertinggi sepanjang sejarah di 8,3 persen dari total pengiriman.
Laba Tumbuh Salip Penjualan, ERAA Tekan Rasio Beban Operasional

- Pasar smartphone nasional kuartal I 2026 turun 9% akibat krisis chip memori, tetapi segmen premium di atas US$600 tumbuh 30% dan mencapai porsi pengiriman tertinggi 8,3%.
- ERAA mencatat penjualan Rp42,9 triliun, naik 22,4%, serta laba bersih Rp784 miliar, tumbuh 38%. Rasio beban operasional turun menjadi 7,8%, sementara margin bersih naik ke 1,8%.
- Ekspansi 173 gerai bersih membawa jaringan ERAA menjadi 2.506 gerai. Lini active lifestyle ERAL menopang diversifikasi dengan penjualan tumbuh 41% dan margin kotor 18,1%.
Capaian ini diraih di tengah pengiriman nasional kuartal I 2026 yang terkoreksi 9 persen, seiring krisis pasokan chip memori yang mengerek harga ritel 7 persen hingga 45 persen. Segmen di bawah 150 dolar AS atau sekitar Rp2,4 juta terkoreksi paling dalam sebesar 19 persen.
1. Penjualan dan laba bersih ERAA naik

Konsumen antre perdana iPhone 17. (Dok. ERAA) PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA), emiten ritel dan distribusi perangkat elektronik, gaya hidup, aksesoris, serta food and beverages, membukukan pertumbuhan yang ditopang lini digital, gaya hidup aktif, serta makanan dan minuman sepanjang semester pertama 2026. Penjualan tercatat Rp42,9 triliun, naik 22,4 persen secara tahunan, sementara laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp784 miliar atau tumbuh 38,0 persen.
Laba melaju lebih cepat dibanding penjualan, dan pergeserannya terjadi di sisi beban operasional, dengan rasio beban terhadap penjualan turun ke 7,8 persen dari 8,1 persen. Laba kotor mencapai Rp4,8 triliun, naik 21,0 persen, dengan margin laba kotor terjaga di 11,2 persen dan margin bersih menguat ke 1,8 persen dari 1,6 persen.
Vice President Infovesta Utama dan analis pasar modal, Wawan Hendrayana, menilai laba yang melaju lebih cepat dibanding penjualan pada dasarnya merupakan sinyal positif karena mencerminkan operating leverage. Menurut dia, kualitas laba semacam itu terbaca dari sumbernya.
"Yang utama justru kemampuan menggeser penjualan ke produk premium, mengelola persediaan dan modal kerja, serta punya daya tawar terhadap merek. Efisiensi biaya penting, tetapi sifatnya sekunder," ujar Wawan.
2. Lini gerai segmen di atas 600 dolar AS menguat

Konsumen antre perdana iPhone 17. (Dok. ERAA) Dari sisi penjualan per gerai, pergeseran bauran di pasar itu ikut terasa. Same Store Sales Growth (SSSG) ERAA sepanjang enam bulan pertama 2026 masih positif 4,1 persen, dengan koreksi pada Juni 2026 sebesar 11,6 persen secara tahunan yang sejalan dengan normalisasi terhadap lonjakan peluncuran iPhone 16 pada tahun sebelumnya. Menurut Wawan, pola seperti itu sangat lazim di bisnis ponsel.
"Segmen di atas 600 dolar AS menguat, artinya demand premium naik. Harga ritel naik karena harga memori yang melonjak, dan di entry level memang cenderung lebih sensitif terhadap kenaikan harga. Pergeseran ini wajar, penurunannya masih dianalisis sebagai efek basis penjualan iPhone 16," ujarnya.
Faktor kedua, persediaan dan modal kerja juga bergerak searah. Keterbatasan pasokan chip memori membuat tingkat persediaan di kanal penjualan relatif lebih ramping, dan menurut Wawan dalam jangka pendek kondisi tersebut membantu pengelolaan modal kerja karena dana yang tertahan dalam persediaan lebih rendah.
"Inventory days turun, modal tertahan lebih sedikit, dan risiko stok mahal berkurang," ujarnya.
3. pembukaan dan penataan gerai dalam jumlah besar selama semester I

Ekspansi bisnis ERAA (Dok. ERAA) Ekspansi jaringan berjalan pada periode yang sama. Sepanjang semester pertama 2026, ERAA membuka 276 gerai baru dengan penambahan bersih 173 gerai, sehingga total jaringan di seluruh vertikal menembus 2.506 gerai per akhir Juni. Dalam pola lazim industri ritel, gerai baru memerlukan waktu sebelum menyentuh produktivitas penuh, sehingga ekspansi umumnya mengerek rasio beban lebih dulu.
Bagi Wawan, kombinasi pembukaan dan penataan gerai dalam jumlah besar mencerminkan pengelolaan portofolio yang aktif. "Itu sinyal optimasi jaringan," ujarnya.
Wawan menilai, di titik itu perbaikan rasio beban terjadi. Saat ditanya soal rasio beban yang turun bersamaan dengan penambahan bersih sebanyak 173 gerai, Wawan menilai polanya masuk kategori efisiensi dari skala.
"Fixed cost terbagi ke base yang lebih besar," ujarnya. Menurut dia, yang perlu diawasi ke depan adalah seberapa cepat gerai baru mencapai produktivitas dan apakah SSSG gerai lama tetap terjaga.
4. Strategi ERAA kuartal ketiga

Ekspansi bisnis ERAA (Dok. ERAA) Memasuki kuartal ketiga 2026, ERAA menjaga momentum pertumbuhan di lini digital dengan menyiapkan kampanye musiman seperti iBox Back-to-School, Festival Belanja erafone, dan berbagai program menyambut perayaan 30 tahun
Erajaya untuk menangkap permintaan di kategori perangkat premium dan ponsel. Perseroan juga mengarahkan inisiatif tersebut untuk menopang optimalisasi persediaan dan modal kerja menjelang puncak permintaan pada kuartal keempat.
Di luar lini perangkat, bauran segmen ikut menopang margin grup. PT Sinar Eka Selaras Tbk (ERAL), entitas anak ERAA yang menaungi lini active lifestyle, membukukan penjualan Rp3,7 triliun atau tumbuh 41,0 persen secara tahunan, dengan margin laba kotor 18,1 persen dibanding 17,7 persen pada periode yang sama tahun lalu, jauh di atas margin konsolidasi 11,2 persen.
SSSG lini ini pada Juni 2026 relatif stabil dengan koreksi tipis 0,5 persen secara tahunan, dan secara kumulatif enam bulan tumbuh 8,8 persen. Bagi Wawan, kontribusi dari kategori di luar ponsel menurunkan risiko konsentrasi karena peritel tidak terlalu bergantung pada siklus handset, dan marginnya cenderung lebih stabil karena karakteristik kategorinya berbeda.

















