Maskapai penerbangan di India saat ini menghadapi tantangan akibat ruang udara Pakistan yang ditutup dan meluasnya dampak konflik di Iran. Maskapai India yang sudah lama dilarang terbang di atas Pakistan kini harus mencari rute memutar yang jauh lebih panjang. Memanasnya situasi di Iran membuat keadaan semakin menantang karena membatasi jalur alternatif, sehingga konsumsi bahan bakar pesawat menjadi lebih tinggi.
Harga bahan bakar pesawat di seluruh dunia telah melonjak lebih dari dua kali lipat sejak ketegangan Timur Tengah meningkat. Beberapa maskapai bahkan terpaksa menambah titik transit di Wina dan Kopenhagen khusus untuk mengisi bahan bakar pada rute jarak jauh menuju Amerika Utara. Hal ini otomatis menambah waktu perjalanan dan memperbesar biaya operasional.
"Walaupun harga minyak mentah turun, harga bahan bakar pesawat sepertinya akan tetap tinggi, sehingga kenaikan harga tiket pesawat sulit dihindari," kata Kepala Asosiasi Maskapai Global (IATA), Willie Walsh, dilansir Livemint.
Selain masalah bahan bakar, pelemahan nilai tukar rupee terhadap dolar AS juga memberatkan maskapai. Biaya sewa pesawat, suku cadang, dan perawatan mesin umumnya dibayarkan dalam dolar AS. Operasional maskapai turut terganggu oleh keterlambatan pengiriman suku cadang akibat masalah logistik. Lebih dari 800 kapal barang tertahan di kawasan Timur Tengah, yang berdampak pada pasokan avtur di seluruh dunia.
Untuk menyiasati lonjakan biaya ini, beberapa maskapai mulai membebankan biaya tambahan bahan bakar kepada penumpang. Biaya ini berkisar antara 299 hingga 899 rupee India (Rp54,88 ribu-Rp165,01 ribu) untuk rute dalam negeri, dan terus disesuaikan untuk rute internasional.
"Efek keuangan dari krisis ini belum terasa sepenuhnya. Kemungkinan besar, dampak yang lebih signifikan baru akan terlihat mulai bulan depan," ungkap CEO Air India, Campbell Wilson.