Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Gantikan LPG, Bahlil Target Uji Coba Tabung CNG 3 Kg Rampung 3 Bulan

Gantikan LPG, Bahlil Target Uji Coba Tabung CNG 3 Kg Rampung 3 Bulan
Pasokan LPG (Dok. Pertamina Patra Niaga)
Intinya Sih
  • Bahlil menargetkan uji coba tabung CNG 3 kg sebagai pengganti LPG rampung dalam 2–3 bulan, dengan fokus pada ketahanan tekanan tinggi hingga 250 bar.
  • Transisi ke CNG tidak memakai anggaran khusus pemerintah karena dijalankan lewat skema business-to-business, sementara pemerintah menyiapkan pasokan gas dan ekosistem bisnisnya.
  • Inisiatif ini bertujuan mengurangi impor LPG dengan memanfaatkan potensi gas domestik, termasuk cadangan baru di Kalimantan Timur sebesar 3.000 juta standar kaki kubik.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menargetkan hasil modifikasi dan uji coba tabung Compressed Natural Gas (CNG) berukuran 3 kilogram (kg) akan rampung dalam waktu 2 hingga 3 bulan ke depan.

Produk CNG tersebut nantinya akan menggantikan produk Liquefied Petroleum Gas (LPG) untuk kebutuhan rumah tangga. Namun, prosesnya memerlukan waktu karena tabung tersebut harus menahan tekanan sangat tinggi, yakni 200 hingga 250 bar.

"Nah ini yang kita akan mencoba untuk modifikasi. Insyallah 2-3 bulan ini kita akan dapat hasilnya. Kemudian kalau itu sudah dinyatakan firm, kita akan melakukan konversi (LPG ke CNG)," kata Bahlil di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (5/5/2026).

1. Tak ada anggaran khusus untuk transisi ke CNG

Seorang warga sedang mengambil LPG.
Seorang warga sedang mengambil LPG. (Dok. Pertamina Patra Niaga)

Mengenai anggaran yang dibutuhkan untuk melakukan transisi secara bertahap tersebut, Bahlil menegaskan skema yang akan digunakan sepenuhnya bersifat business-to-business (B2B).

Dengan demikian, pemerintah hanya akan menyiapkan pasokan gas C1 dan C2, serta menyusun instrumen ekosistem bisnis agar memiliki kemiripan atau tidak jauh berbeda dengan ekosistem pada bisnis LPG yang sudah ada saat ini.

"Ini kan modelnya B2B saja nantinya. Jadi pemerintah hanya menyiapkan terhadap gas C1, C2 kemudian instrumen ekosistem bisnisnya dia itu tidak kurang atau hampir sama dengan ekosistem daripada bisnis LPG," paparnya.

2. Indonesia ingin tekan ketergantungan impor LPG

WhatsApp Image 2025-11-08 at 11.17.18 AM (1).jpeg
Pemanfaatan Compressed Natural Gas (CNG). (Dok. PGN).

Bahlil memaparkan saat ini tingkat konsumsi LPG untuk kebutuhan rumah tangga mencapai angka sekitar 7 hingga 8 juta ton. Namun, untuk memenuhinya, Indonesia masih bergantung pada impor.

Persoalan utama yang dihadapi saat ini adalah ketergantungan pada pasar global, terutama di tengah situasi dan kondisi geopolitik saat ini yang mempengaruhi kepastian pasokan impor LPG.

"Kan kita tergantung pada global. Maka kita merumuskan untuk mencari alternatif lain. CNG adalah salah satu alternatifnya," ujar Bahlil.

3. Manfaatkan potensi bahan baku gas domestik

PGN Gagas menyalurkan 2.000-3.000 m3 gas bumi per bulan dengan mekanisme beyond pipeline yaitu Compressed Natural Gas (CNG). (Dok. PGN)
PGN Gagas menyalurkan 2.000-3.000 m3 gas bumi per bulan dengan mekanisme beyond pipeline yaitu Compressed Natural Gas (CNG). (Dok. PGN)

Bahlil memaparkan CNG sebenarnya sudah dimanfaatkan di beberapa sektor, seperti hotel, restoran, bahkan program makan bergizi gratis, namun baru sebatas pada klasifikasi tabung 10 kilogram hingga 20 kilogram ke atas.

Padahal, kata dia, seluruh bahan baku CNG tersedia di dalam negeri yang terdiri atas gas C1 dan C2. Terlebih lagi dengan adanya penemuan cadangan gas baru di wilayah Kalimantan Timur yang mencapai sekitar 3.000 juta standar kaki kubik.

"Ini sebagian besar kita bisa alokasikan untuk kebutuhan dalam negeri untuk meng-cover CNG," kata mantan Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) itu.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Jujuk Ernawati
EditorJujuk Ernawati
Follow Us

Related Articles

See More