Indonesia Perlu Berkaca ke China dan Vietnam untuk Optimalisasi KEK

Jakarta, IDN Times - Ketua Dewan Pengawas Indonesia Business Council (IBC), Arsjad Rasjid mengungkapkan pentingnya optimalisasi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) dalam mendorong industri manufaktur dalam negeri yang tengah mengalami perlambatan beberapa waktu belakangan ini.
Arsjad meminta RI berkaca dari dua negara Asia yang sukses membangun industri manufaktur dalam negerinya lewat optimalisasi KEK.
Pertama ada China yang awalnya dimulai dengan KEK di Shenzen dan kemudian diikuti pembangunan KEK lainnya. Kedua, ada Vietnam yang juga melakukan optimalisasi KEK untuk memajukan industri manufaktur.
"Kita melihat bahwa kita belum optimal dalam melakukan bagaimana peran dari special economic zone, yang di mana di situ kita harus berpikir juga bahwa special economic zone yang kita miliki itu harus fokus," ujar Arsjad dalam konferensi pers Indonesia Economic Summit (IES) 2026, di kawasan Senayan, Jakarta, Senin (26/1/2026).
1. Fokus lewat kekuatan di setiap daerah

Adapun fokus tersebut dengan memperhatikan apa kekuatan di satu daerah yang memiliki KEK. Arsjad lantas mencontohkan KEK di Batam yang fokus dalam membangun industri teknologi.
"Untuk mendorong bagaimana yang lebih banyak dari Batam untuk membangun industri-industri yang bisa misalnya contoh based on electronics, AI. Sekarang Apple kan sudah ada salah satunya di sana. We can push more di sana sebagai contoh," tutur Arsjad.
2. KEK harus bisa bersaing

Selain itu, optimalisasi KEK juga bisa dilakukan dengan terus memikirkan bagaimana agar tetap bisa bersaing dengan KEK lainnya, terutama dari luar negeri. Arsjad mengatakan, tiap tahunnya KEK mesti lebih baik agar bisa terus relevan dan bersaing.
"Setiap tahunnya, setiap kawasan ekonomi di negara-negara lain akan mencari seperti competitiveness dan kita harus bisa terus berkompetisi dengan yang lain, karena yang kita perebutkan modal," kata dia.
3. Pemerintah mau memperkuat peran KEK

Sebelumnya, pemerintah bertekad memperkuat peran KEK sebagai motor pertumbuhan ekonomi daerah. Hal itu dilakukan mengingat rekam jejak sejumlah daerah yang memiliki KEK dengan pengelolaan baik mampu mencapai pertumbuhan ekonomi signifkan.
Contohnya adalah Kabupaten Batang dan Kabupaten Kendal yang mampu mencatat pertumbuhan ekonomi antara 8-9 persen, jauh di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi provinsi maupun nasional.
"Pengalaman Kabupaten Batang dan Kendal menunjukkan bahwa KEK bukan hanya instrumen insentif investasi, tetapi juga katalis transformasi ekonomi daerah. KEK yang dirancang dengan baik, didukung infrastruktur, kemudahan berusaha, serta integrasi dengan tenaga kerja lokal, terbukti mampu menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkelanjutan,” ujar Menteri Koordinator bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, dikutip dari situs resmi Kemenko Perekonomian.


















