Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Jerman Resmi Targetkan Penghentian Bahan Bakar Fosil pada 2045
Ilustrasi Bendera Jerman (unsplash.com/Mark König)
  • Pemerintah Jerman meluncurkan peta jalan untuk menghentikan penggunaan bahan bakar fosil secara bertahap hingga 2045, sebagai pedoman transformasi energi dan ekonomi nasional.

  • Strateginya mencakup penambahan pembangkit energi terbarukan, percepatan kendaraan listrik, perdagangan emisi Uni Eropa, dekarbonisasi listrik, pengendalian metana, serta pengurangan ketergantungan minyak impor.

  • Pemerhati lingkungan mengkritik ruang bagi gas alam dalam rencana tersebut, sementara pemerintah menilai pembangkit gas baru diperlukan sebagai cadangan saat pasokan angin dan surya menurun.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Pemerintah Jerman resmi meluncurkan peta jalan strategis pada Rabu (23/9/2026), untuk menghentikan penggunaan bahan bakar fosil secara bertahap hingga 2045. Kebijakan nasional ini dirancang untuk mengubah sistem pasokan energi dalam dua dekade mendatang demi menekan dampak pemanasan global.

Inisiatif jangka panjang tersebut menjadi pedoman transformasi ekonomi Jerman di tengah tuntutan penanganan krisis iklim. Langkah ini sekaligus menegaskan komitmen Berlin dalam mempercepat transisi energi hijau di kawasan Eropa.

1. Komitmen penghentian energi fosil pascaperundingan COP28

Kapal bahan bakar fosil (unsplash.com/Michael)

Target bebas emisi pada 2045 menjadikan Jerman sebagai salah satu ekonomi terbesar di Eropa yang menetapkan langkah tersebut setelah Prancis dan Belanda. Peta jalan ini menjadi acuan operasional perdana pascakonferensi iklim COP28 tahun 2023, saat hampir 200 negara berikrar beralih dari energi fosil meski belum disertai rencana konkret.

Pemerintah Jerman memaparkan urgensi rencana kerja tersebut dalam Sidang Majelis Umum PBB guna merespons ancaman bencana iklim yang terus meningkat.

“Cuaca ekstrem di seluruh dunia membuktikan bahwa kita harus segera mengambil tindakan nyata untuk melindungi iklim,” ujar Menteri Lingkungan Hidup Jerman, Carsten Schneider, dilansir DW.

2. Strategi utama untuk mempercepat transisi energi terbarukan

ilustrasi energi terbarukan (unsplash.com/Karsten Würth)

Pemerintah Jerman bertumpu pada peningkatan kapasitas pembangkit energi terbarukan serta dorongan kuat terhadap penggunaan kendaraan listrik. Pengalihan moda transportasi darat bebas emisi diyakini mampu memangkas konsumsi minyak bumi secara signifikan di seluruh negeri.

Selain sektor transportasi, otoritas menerapkan skema perdagangan emisi Uni Eropa untuk mendorong industri beralih dari energi berbasis karbon. Kebijakan ini dilengkapi dengan target dekarbonisasi pembangkit listrik pada 2045, pengendalian gas metana, serta pengurangan ketergantungan minyak impor yang rentan terhadap konflik geopolitik.

3. Kritik pemerhati lingkungan terkait ketergantungan gas alam

ilustrasi ladang gas alam (pexels.com/Igor Passchier)

Rancangan dekarbonisasi ini mendapat kritik dari kalangan pemerhati lingkungan karena dinilai hanya mengemas ulang kebijakan lama tanpa target penutupan fasilitas fosil yang lebih cepat. Kekhawatiran kian menguat seiring rencana pemerintah yang dinilai masih memberi ruang besar bagi pemanfaatan gas bumi.

“Pemerintah saat ini justru berencana mengurangi fokus pada energi terbarukan dan lebih mengandalkan pasokan gas bumi,” kata Penasihat Kebijakan Iklim WWF, Fentje Jacobsen.

Menanggapi kritik tersebut, Menteri Energi Katherina Reiche menegaskan bahwa pembangunan pembangkit listrik tenaga gas baru tetap dibutuhkan. Fasilitas ini berfungsi sebagai cadangan penting untuk menjaga kestabilan jaringan transmisi nasional saat pasokan daya tenaga angin dan surya mengalami penurunan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article