Kemenkeu Buka Suara soal Fitch Pangkas Outlook Utang RI Jadi Negatif

Kemenkeu menegaskan revisi outlook utang Indonesia oleh Fitch dari stabil menjadi negatif, tetap menunjukkan kepercayaan terhadap fundamental ekonomi nasional yang kuat dan prospek jangka menengah yang solid.
Fitch menilai Indonesia memiliki rekam jejak baik menjaga stabilitas makroekonomi, inflasi terkendali, serta struktur utang moderat dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi 2026–2027 sekitar 5 persen.
Pemerintah berkomitmen menjaga disiplin fiskal dan stabilitas makro, didukung perbaikan indikator fiskal awal 2026 serta penguatan kolaborasi investasi strategis melalui Danantara untuk mendorong pertumbuhan berkelanjutan.
Jakarta, IDN Times - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) buka suara setelah lembaga pemeringkat global Fitch Ratings merevisi prospek (outlook) utang Indonesia, dari stabil menjadi negatif, dengan peringkat tetap di level BBB.
Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kementerian Keuangan, Deni Surjantoro, menegaskan hasil penilaian terbaru Fitch masih mencerminkan kepercayaan terhadap fundamental ekonomi nasional.
“Lembaga pemeringkat internasional Fitch Ratings hari ini melakukan afirmasi terhadap peringkat Sovereign Credit Indonesia yang tetap berada pada level BBB. Hal ini menunjukkan kepercayaan terhadap fondasi ekonomi yang kuat, stabil, serta prospek jangka menengah yang solid,” kata Deni dalam keterangan resminya, dikutip Kamis (5/3/2026).
1. Fitch sudah berdiskusi dengan sejumlah kementerian dan lembaga

Deni menjelaskan hasil afirmasi ini merupakan tahapan akhir dari proses asesmen Fitch, setelah rangkaian kunjungan tanggal 23-26 Februari 2026 di Jakarta. Fitch telah melakukan diskusi dengan beberapa K/L dan otoritas.
"Fitch telah melakukan diskusi dengan sejumlah kementerian/lembaga dan otoritas terkait, yakni Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, BP BUMN, Otoritas Jasa Keuangan, Danantara, serta Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM)," tegasnya.
2. Indonesia dinilai memliki rekam jejak yang baik dalam menjaga stabilitas makroekonomi

Dalam asesmennya, Fitch menilai Indonesia memiliki rekam jejak yang baik dalam menjaga stabilitas makroekonomi. Inflasi dinilai tetap terkendali, dan struktur utang publik relatif moderat dibandingkan negara dengan peringkat setara.
Selain itu, Fitch juga memberikan penilaian positif tambahan pada aspek makroekonomi melalui Qualitative Overlay +1 notch. Penilaian ini mencerminkan apresiasi terhadap kredibilitas kebijakan makro, serta ketahanan sektor keuangan yang menopang pertumbuhan jangka menengah.
Dari sisi pertumbuhan, prospek ekonomi Indonesia pada 2026–2027 diperkirakan berada di kisaran 5 persen, lebih tinggi dibandingkan median negara dengan peringkat BBB.
Sementara itu, rasio utang pemerintah diproyeksikan sekitar 41 persen terhadap produk domestik bruto (PDB), yang dinilai masih berada dalam batas aman. Disiplin fiskal serta kuatnya permintaan domestik turut menjadi faktor penopang ketahanan ekonomi nasional.
3. Sejumlah indikator dari sisi fiskal menunjukkan perbaikan

Meski demikian, Fitch tetap menyesuaikan outlook dari stabil menjadi negatif. Langkah tersebut diambil dengan sejumlah catatan terkait dinamika global dan berbagai risiko yang perlu diantisipasi .
Fitch juga mencatat outlook dapat kembali menjadi stabil apabila stabilitas makroekonomi tetap terjaga, melalui konsistensi disiplin kebijakan. Pemerintah pun menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan melanjutkan disiplin fiskal sesuai mandat undang-undang.
Kemenkeu menyebut sejumlah indikator menunjukkan perbaikan pada awal 2026. Setelah ekonomi tumbuh 5,39 persen pada triwulan IV 2025, berbagai leading indicators seperti indeks kepercayaan konsumen, purchasing managers’ index (PMI), konsumsi listrik sektor bisnis dan industri, hingga penjualan kendaraan bermotor menunjukkan momentum penguatan.
"Dari sisi fiskal, kinerja pendapatan dan belanja negara juga dilaporkan membaik signifikan. Pendapatan negara pada awal 2026 mencatatkan kinerja positif, dengan pertumbuhan 9,5 persen (yoy) pada Januari dan 12,8 persen (yoy) pada Februari.
Pertumbuhan ini terutama didukung oleh penerimaan pajak yang meningkat tinggi, yakni 30,7 persen (yoy) pada Januari dan 30,4 persen (yoy) pada Februari. Belanja negara juga tumbuh signifikan, masing-masing 25,7 persen (yoy) pada Januari dan 41,9 persen (yoy) pada Februari," tegasnya.
Percepatan belanja dan stimulus ekonomi disebut dilakukan secara terukur untuk menjaga momentum pertumbuhan, sekaligus memastikan kesehatan APBN dan disiplin fiskal tetap terjaga. Ke depan, pemerintah akan terus memperkuat koordinasi lintas sektor guna menjaga akselerasi pertumbuhan dalam jangka menengah tanpa mengorbankan stabilitas. Sinkronisasi kebijakan fiskal dan moneter menjadi prioritas untuk menjaga kepercayaan pasar.
Kolaborasi dengan Danantara juga diperkuat sebagai mesin pertumbuhan baru melalui investasi strategis di luar APBN, dengan tetap mengedepankan profit berkelanjutan dan tata kelola yang kredibel. Pemerintah menegaskan bahwa pengelolaan risiko Danantara dilakukan secara terukur agar tetap selaras dengan stabilitas makrofiskal jangka panjang.
“Kolaborasi dengan Danantara semakin diperkuat sebagai mesin pertumbuhan baru yang menggerakkan ekonomi melalui investasi strategis di luar APBN, dengan tetap fokus pada profit berkelanjutan serta mendorong investasi swasta bernilai tambah tinggi,” pungkasnya.











.jpg)





