Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kemenkeu Sebut Sinyal Pemulihan Industri, PMI Manufaktur Tembus 52,4
Ilustrasi Kondisi Pabrik Sektor Manufaktur Otomotif. (Unsplash/Appliances)
  • PMI Manufaktur Indonesia September 2026 naik menjadi 52,4 dari 49,8 pada Agustus, kembali ke zona ekspansi berkat penguatan permintaan baru domestik dan ekspor.
  • Inflasi September tercatat 3,28 persen tahunan, sementara surplus perdagangan Agustus mencapai 3,35 miliar dolar AS meski impor bahan baku dan barang modal meningkat.
  • Konsumsi domestik tetap kuat, ditandai kenaikan keyakinan konsumen, penjualan kendaraan, semen, dan listrik; pemerintah menyiapkan kebijakan menjaga harga, investasi, serta daya saing.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Direktorat Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal (DJSEF) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menyebut penguatan manufaktur terjadi secara menyeluruh, seiring membaiknya permintaan domestik maupun eksternal. Hal ini tercermin dari data Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada September 2026 naik ke level 52,4, dari 49,8 pada Agustus 2026.

Kenaikan tersebut menandai kembalinya sektor manufaktur ke zona ekspansi sekaligus menjadi perbaikan kondisi bisnis terkuat sejak Februari 2026.

1. Ekspansi terlihat dari meningkatnya permintaan baru

ilustrasi manufaktur (pexels.com/Kateryna Babaieva)

Plt. Kepala Bagian Komunikasi, Layanan Informasi, dan Manajemen Pengetahuan DJSEF Elang Tomi Ariefianto mengatakan, ekspansi terutama terlihat dari peningkatan permintaan baru, termasuk ekspor yang tumbuh dengan laju terkuat sejak Mei 2022.

“Pelaku usaha tetap optimistis terhadap prospek produksi 12 bulan ke depan, didukung ekspektasi peningkatan permintaan, proyek baru, perluasan usaha, dan harga bahan baku yang lebih stabil,” kata Elang dalam keterangannya, Sabtu (3/10/2026).

Sementara itu, aktivitas manufaktur di sejumlah mitra dagang Indonesia turut ekspansif, antara lain Thailand (54,3), China (52,1), dan AS (57,0). Perkembangan tersebut membuka peluang peningkatan permintaan eksternal yang dapat mendukung keberlanjutan ekspansi manufaktur Indonesia.

2. Inflasi masih terjaga

ilustrasi inflasi (unsplash.com/@joa70)

Elang menyebut di tengah penguatan aktivitas ekonomi, inflasi September 2026 tercatat 3,28 persen secara tahunan (yoy). Tekanan terutama berasal dari komponen harga bergejolak yang mencatat inflasi 5,03 persen. Kenaikan tersebut dipengaruhi oleh harga daging ayam ras, aneka cabai, dan daging sapi.

“Perkembangan ini berlangsung di tengah dampak El Nino yang masih berlanjut serta peningkatan permintaan daging ayam ras, termasuk untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG),” jelas Elang.

Sementara itu, inflasi harga yang diatur pemerintah mencapai 3,25 persen (yoy), antara lain dipengaruhi normalisasi tarif angkutan udara pada periode low season.

Inflasi inti tercatat 2,84 persen (yoy). Tekanan harga komoditas global masih menjadi tantangan, yang tercermin dari kenaikan harga sejumlah produk seperti ponsel, laptop, dan pelumas. Pemerintah, lanjut Elang, akan terus menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat di tengah ketidakpastian global.

“Akses energi masyarakat akan dijaga dengan harga BBM subsidi yang tetap terjangkau. Selain itu, ketahanan pangan akan terus diperkuat untuk mengantisipasi dampak El Nino serta gangguan cuaca,” ujarnya.

Dari sektor eksternal, neraca perdagangan Indonesia pada Agustus 2026 masih mencatat surplus sebesar 3,35 miliar dolar AS. Surplus tersebut ditopang oleh ekspor yang tumbuh 6,72 persen (yoy), terutama dari ekspor nonmigas dengan industri pengolahan sebagai pendorong utama.

“Perkembangan ini berlangsung di tengah kenaikan harga komoditas internasional dan ekspansi manufaktur sejumlah mitra dagang utama,” kata Elang.

Namun, impor juga meningkat cukup tinggi. Nilai impor pada Agustus 2026 mencapai 23,26 miliar dolar AS, tumbuh 19,09 persen (yoy). Kenaikan impor terutama berasal dari bahan baku dan barang penolong, serta barang modal. Kondisi ini menunjukkan aktivitas produksi dan investasi di dalam negeri masih berjalan.

Secara kumulatif, neraca perdagangan Januari-Agustus 2026 mencatat surplus 7,25 miliar dolar AS. Nilai ekspor tumbuh 4,74 persen secara kumulatif (cumulative to cumulative/ctc), sementara impor meningkat 19,84 persen.

Elang menyebut surplus perdagangan menjadi modal untuk memperkuat ketahanan sektor eksternal dan menjaga momentum pertumbuhan ekonomi. Namun, peningkatan daya saing dan nilai tambah produk ekspor tetap perlu didorong agar kinerja tersebut berkelanjutan.

3. Konsumsi domestik menopang ekonomi

ilustrasi inflasi (vecteezy.com/Khunkorn Laowisit)

Sementara itu, aktivitas ekonomi domestik masih menunjukkan ketahanan. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Agustus 2026 mencapai 118,5, naik dari 116,8 pada Juli 2026. Dengan demikian, penjualan ritel juga tumbuh 0,5 persen (yoy), terutama ditopang oleh penjualan suku cadang dan aksesori serta kelompok makanan, minuman, dan tembakau.

Kinerja konsumsi juga tercermin dari penjualan kendaraan. Penjualan mobil tumbuh 32,4 persen (yoy), sedangkan penjualan sepeda motor meningkat 3,2 persen.

Menurutnya, aktivitas pembangunan turut menunjukkan penguatan. Penjualan semen domestik tumbuh 6,4 persen (yoy), sejalan dengan pelaksanaan berbagai program prioritas pemerintah.

"Penjualan listrik juga tumbuh 8,4 persen (yoy). Pertumbuhan tersebut menunjukkan aktivitas ekonomi masih berjalan di berbagai segmen, mulai dari rumah tangga, bisnis, hingga industri," tegasnya/

Dengan demikian, Pemerintah akan terus memperkuat sinergi kebijakan untuk menjaga stabilitas makroekonomi sekaligus membuka ruang bagi pertumbuhan ekonomi. Kebijakan tersebut mencakup pengendalian harga dan perlindungan daya beli masyarakat, penguatan sektor riil dan investasi, serta peningkatan daya saing ekonomi.

“Upaya tersebut didukung oleh sinergi kebijakan pemerintah, Bank Indonesia, dan OJK untuk mengedepankan keseimbangan antara dukungan terhadap pertumbuhan dan terjaganya stabilitas,” pungkas Elang.

Pemerintah juga melakukan debottlenecking regulasi serta menyederhanakan berbagai ketentuan yang dinilai dapat menghambat investasi dan ekspor.

“Bauran kebijakan diarahkan untuk mendorong aktivitas ekonomi dan meningkatkan produktivitas sebagai landasan penguatan pertumbuhan yang berkelanjutan,” tegasnya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article