ilustrasi inflasi (unsplash.com/@joa70)
Elang menyebut di tengah penguatan aktivitas ekonomi, inflasi September 2026 tercatat 3,28 persen secara tahunan (yoy). Tekanan terutama berasal dari komponen harga bergejolak yang mencatat inflasi 5,03 persen. Kenaikan tersebut dipengaruhi oleh harga daging ayam ras, aneka cabai, dan daging sapi.
“Perkembangan ini berlangsung di tengah dampak El Nino yang masih berlanjut serta peningkatan permintaan daging ayam ras, termasuk untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG),” jelas Elang.
Sementara itu, inflasi harga yang diatur pemerintah mencapai 3,25 persen (yoy), antara lain dipengaruhi normalisasi tarif angkutan udara pada periode low season.
Inflasi inti tercatat 2,84 persen (yoy). Tekanan harga komoditas global masih menjadi tantangan, yang tercermin dari kenaikan harga sejumlah produk seperti ponsel, laptop, dan pelumas. Pemerintah, lanjut Elang, akan terus menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat di tengah ketidakpastian global.
“Akses energi masyarakat akan dijaga dengan harga BBM subsidi yang tetap terjangkau. Selain itu, ketahanan pangan akan terus diperkuat untuk mengantisipasi dampak El Nino serta gangguan cuaca,” ujarnya.
Dari sektor eksternal, neraca perdagangan Indonesia pada Agustus 2026 masih mencatat surplus sebesar 3,35 miliar dolar AS. Surplus tersebut ditopang oleh ekspor yang tumbuh 6,72 persen (yoy), terutama dari ekspor nonmigas dengan industri pengolahan sebagai pendorong utama.
“Perkembangan ini berlangsung di tengah kenaikan harga komoditas internasional dan ekspansi manufaktur sejumlah mitra dagang utama,” kata Elang.
Namun, impor juga meningkat cukup tinggi. Nilai impor pada Agustus 2026 mencapai 23,26 miliar dolar AS, tumbuh 19,09 persen (yoy). Kenaikan impor terutama berasal dari bahan baku dan barang penolong, serta barang modal. Kondisi ini menunjukkan aktivitas produksi dan investasi di dalam negeri masih berjalan.
Secara kumulatif, neraca perdagangan Januari-Agustus 2026 mencatat surplus 7,25 miliar dolar AS. Nilai ekspor tumbuh 4,74 persen secara kumulatif (cumulative to cumulative/ctc), sementara impor meningkat 19,84 persen.
Elang menyebut surplus perdagangan menjadi modal untuk memperkuat ketahanan sektor eksternal dan menjaga momentum pertumbuhan ekonomi. Namun, peningkatan daya saing dan nilai tambah produk ekspor tetap perlu didorong agar kinerja tersebut berkelanjutan.