Kementan Siapkan 2 Juta Hektare Lahan untuk Industri Bioetanol

- Kementan menyiapkan hingga 2 juta hektare lahan untuk bioetanol berbasis tebu, singkong, dan jagung, dengan kawasan pertanian terintegrasi industri pengolahan.
- Pemerintah menargetkan keterlibatan minimal 30 persen masyarakat dalam kemitraan, sementara pembiayaan industri diproyeksikan 30 persen BUMN dan 70 persen swasta.
- Program ini diperkirakan menciptakan sedikitnya 8 juta lapangan kerja, dengan target campuran etanol E5, E10, hingga E20 pada 2029.
Jakarta, IDN Times - Kementerian Pertanian (Kementan) menyiapkan pengembangan lahan hingga 2 juta hektare untuk mendukung industri bioetanol berbasis tebu, ubi kayu atau singkong, dan jagung.
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengatakan, pengembangan bioetanol tidak cukup hanya dengan membangun pabrik. Pemerintah perlu memastikan ketersediaan bahan baku melalui pengembangan kawasan pertanian dalam skala besar yang terintegrasi dengan industri pengolahan.
"Etanol ini butuh lahan 1 sampai 2 juta hektare dengan tiga komoditas strategis. Insyaallah kita akan bangun pabriknya, kita gerakkan masif seluruh Indonesia," ujar Amran usai memimpin Rapat Program Khusus Pengembangan Bioetanol bersama 44 bupati dari sejumlah daerah di Jakarta, Senin (21/9/2026).
1. Ada tiga komoditas yang akan dikembangkan

Ilustrasi tanaman tebu yang menyimpan cadangan makanan di batang (pixabay.com/joaolimafotografias) Menurut Amran, tiga komoditas tersebut akan dikembangkan sesuai dengan potensi masing-masing daerah. Tebu menjadi salah satu fokus utama karena dinilai memiliki potensi besar sebagai bahan baku bioetanol. Sementara itu, singkong dan jagung akan dikembangkan di wilayah yang memiliki kesesuaian lahan dan produktivitas tinggi.
"Ini cetak tebu, tanam tebu, tanam ubi, tanam jagung. Kita jadikan etanol," katanya.
Amran mengatakan, kepastian bahan baku menjadi salah satu faktor penting untuk menarik investasi industri bioetanol. Untuk itu, pemerintah akan melakukan konsolidasi lahan dan menyiapkan kawasan produksi sebelum pembangunan industri dilakukan secara masif. Dari sisi pembiayaan, pembangunan industri bioetanol nantinya dapat melibatkan BUMN dan swasta. Pemerintah akan berperan dalam penyiapan kawasan, sementara investasi industri dapat diperkuat oleh sektor swasta.
"Anggarannya mungkin 30 persen dari BUMN, 70 persen dari swasta dan pasti swasta mau karena tanahnya disiapkan oleh negara," ujar Amran.
2. Pengembangan bioetanol juga harus memberikan manfaat bagi masyarakat.

Pilot Plant produksi bioetanol G2 di Pusat Riset Kimia Maju BRIN, Puspiptek, Serpong, Tangerang Selatan (Dok. BRIN/Yustantiana Azhar) Ia menegaskan, pengembangan bioetanol juga harus memberikan manfaat bagi masyarakat. Pemerintah akan mendorong skema kemitraan agar masyarakat turut terlibat dalam pengembangan kawasan pertanian dan industri.
"Ini tidak boleh monopoli, minimal 30 persen rakyat. Jadi rakyat menikmati. Sekarang nggak boleh di bawah 20, harus 30 persen untuk rakyat," tegasnya.
3. Pemerintah akan mengkaji sumber lahan yang tersedia

ilustrasi minyak wijen (freepik.com/ jcomp) Pada tahap awal, Kementan akan memperkuat pengembangan jagung melalui proyek percontohan di daerah yang menyatakan kesiapan. Pemerintah akan memberikan dukungan awal dengan luasan sekitar 500 hektare hingga 1.000 hektare per kabupaten.
Daerah yang menunjukkan produktivitas tinggi berpeluang mendapatkan tambahan luas tanam hingga 1.500 hektare. Selain itu, pemerintah menyiapkan dukungan alat dan mesin pertanian (alsintan) untuk meningkatkan produktivitas.
Sementara itu, pengembangan tebu akan dilakukan dalam skala yang lebih besar. Amran menyebut pemerintah membutuhkan sekitar 1 juta hektare lahan untuk pengembangan komoditas tersebut.
"Yang paling penting adalah tebu. Kita butuh 1 juta hektare. Tadi sudah dihadiri oleh Pak Dirjen dari Kehutanan Planologi, kemudian Deputi dari BUMN. Kita akan bergerak bersama," katanya.
Dalam penyiapan lahan, pemerintah akan memprioritaskan kawasan yang sesuai secara teknis dan memiliki kepastian legalitas. Amran memastikan pengembangan bioetanol tetap memperhatikan aspek lingkungan.
Pemerintah akan mengkaji berbagai sumber lahan yang tersedia, termasuk kawasan yang dapat diarahkan untuk agroforestri atau tanaman pangan serta lahan yang telah dilepaskan. Sementara pelepasan kawasan hutan akan menjadi pilihan terakhir.
"Pokoknya kita jaga lingkungan, tetapi kita juga menjadi swasembada energi atau berdaulat energi," ujar Amran.
3. Kementan bidik 8 juta lapangan kerja dari pengembangan bioetanol

Mentan Andi Amran Sulaiman memberikan pernyataan kepada para wartawan di Pasar Bulu. (IDN Times/Fariz Fardianto) Menurut Amran, pengembangan bioetanol tidak hanya bertujuan menghasilkan bahan bakar alternatif, tetapi juga membangun rantai ekonomi baru dari sektor pertanian. Ekosistem tersebut mencakup budidaya komoditas, pengolahan hasil, pembangunan industri hingga aktivitas ekonomi masyarakat. Ia memperkirakan pengembangan industri bioetanol dapat menciptakan sedikitnya 8 juta lapangan kerja.
Di sisi hilir, pemerintah juga menargetkan peningkatan penggunaan campuran etanol dalam bahan bakar secara bertahap. Amran menyebut targetnya mencakup E5, E10, hingga E20 pada 2029.
"Ini E5, E10, E20 di 2029. Bisa perkiraan kita menuju nanti, bisa kita hitung ya, kalau kita bergerak dari sekarang itu bisa E40 2030, 2031," katanya.
Untuk mempercepat program tersebut, Kementan menggandeng 44 bupati dari berbagai daerah. Pemerintah daerah diminta memetakan potensi lahan, komoditas, serta kesiapan wilayah untuk menjadi bagian dari rantai pasok bioetanol nasional.
Amran menegaskan, pengembangan bioetanol menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat kemandirian energi dengan memanfaatkan potensi sektor pertanian dalam negeri.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)






















