Kerugian Membengkak, WIKA Bakal Ditarik dari Proyek Whoosh

- Pemerintah melalui BP BUMN menegaskan WIKA akan ditarik dari proyek Kereta Cepat Whoosh karena bidang tersebut tidak sejalan dengan fokus bisnis konstruksi perusahaan.
- Dony Oskaria menyebut penataan ulang dilakukan agar setiap BUMN kembali ke bidang keahliannya, termasuk restrukturisasi keterlibatan di sektor perkeretaapian secara bertahap.
- WIKA mencatat kerugian Rp9,71 triliun pada 2025, naik 328 persen dari tahun sebelumnya, disertai penurunan pendapatan dan penyusutan ekuitas serta aset perusahaan.
Jakarta, IDN Times - Kepala Badan Pengaturan BUMN (BP BUMN) Dony Oskaria menanggapi kerugian PT Wijaya Karya (Persero) Tbk atau WIKA sebesar Rp1,8 triliun per tahun akibat proyek Kereta Cepat Whoosh.
Dony memastikan pihaknya sedang membereskan permasalahan tersebut agar badan usaha milik negara tersebut kembali pada fokus bisnisnya. Dia menyatakan ke depan, WIKA tidak akan lagi terlibat dalam urusan kereta api. Hal itu dikarenakan bidang tersebut dianggap tidak sejalan atau tidak in-line dengan inti bisnis yang dijalankan oleh perusahaan konstruksi plat merah tersebut.
"Jadi kan itu yang lama kita bereskan. Jadi mereka tidak akan lagi terlibat di dalam kereta api karena tidak in-line dengan bisnisnya mereka kan," kata Dony kepada jurnalis di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (7/4/2026).
1. Fokus kembalikan BUMN ke bidang keahlian masing-masing

Terkait nasib BUMN yang tergabung dalam konsorsium Whoosh, pemerintah ingin menyelesaikan persoalan secara menyeluruh. Skema yang sedang disusun bertujuan untuk mengembalikan porsi setiap BUMN ke bidang keahliannya.
Dony mencontohkan, WIKA yang sejatinya adalah perusahaan konstruksi akan dikembalikan fokusnya sebagai kontraktor. Langkah itu dilakukan satu per satu untuk memastikan setiap BUMN yang terlibat dalam sinergi tersebut kembali pada porsi yang tepat.
"Kita kembalikan lagi ke porsinya, misalnya WIKA memang bukan bidangnya di situ kita akan fokus ke kontraktor. Jadi satu persatu kita bereskan. Kita maunya semua yang diselesaikan itu tuntas," ujarnya.
2. Penataan sektor kereta api dilakukan bertahap

Dony menyebut penataan serupa juga akan menyasar keterlibatan BUMN lain di sektor perkeretaapian, termasuk hubungan terkait dengan PT Bukit Asam. Itu dilakukan agar hasil yang dicapai benar-benar tuntas dan tidak hanya sekadar selesai di permukaan.
Saat ini pihaknya sedang mencermati satu per satu keterlibatan perusahaan-perusahaan tersebut. Proses itu merupakan bagian dari upaya menata ulang posisi BUMN agar lebih rapi dan tidak mencampuradukkan berbagai bidang industri yang berbeda.
"Pasti teman-teman tahulah, misalkan ada WIKA di sini, ada juga terkait juga dengan kereta api dengan Bukit Asam dan sebagainya. Ini kita bereskan, rapikan," kata Dony.
3. Kerugian WIKA melonjak hingga 328 persen

WIKA membukukan kerugian hingga Rp9,71 triliun berdasarkan laporan keuangan tahun 2025. Kerugian perusahaan membengkak hingga 328,31 persen dibandingkan 2024 yang hanya Rp2,27 triliun.
Pembengkakan kerugian perusahaan seiringan dengan pendapatan bersih yang turun 30,75 persen. Pada 2024, perusahaan membukukan pendapatan bersih Rp19,24 triliun, dan di 2025 hanya Rp13,32 triliun.
Pada 2025 ekuitas perusahaan menyusut hingga 85,8 persen atau Rp10,19 triliun, dari Rp11,87 triliun pada 2024, menjadi hanya Rp1,68 triliun tahun lalu. Aset perusahaan juga menyusut 20,98 persen, dari Rp63,47 triliun pada 2024, menjadi hanya Rp50,15 triliun pada 2025.


















