Ekspor SDA Banyak Kebocoran, Luhut Usul DSI Pakai Sistem Ini

- Luhut Binsar Pandjaitan mengusulkan PT Danantara Sumberdaya Indonesia memakai sistem Simbara untuk memperkuat pengawasan ekspor SDA dan menekan praktik nakal di sektor tersebut.
- Simbara terhubung dengan National Single Window dan sistem perpajakan, memungkinkan integrasi data ekspor hingga pajak yang diawasi otomatis menggunakan kecerdasan buatan.
- Luhut menyebut penerapan Simbara sebelumnya meningkatkan penerimaan negara hingga 40 persen dan berharap digitalisasi berbasis AI terus memperkuat transparansi serta efisiensi pengelolaan SDA.
Jakarta, IDN Times - Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan mengusulkan agar PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) menggunakan Sistem Informasi Mineral dan Batubara Antar Kementerian/Lembaga (Simbara) untuk mendukung pengawasan ekspor sumber daya alam (SDA).
Menurut Luhut, penggunaan Simbara diperlukan karena praktik nakal di sektor SDA masih banyak terjadi. Dia mengaku telah menyampaikan usulan tersebut kepada Kepala Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) Rosan Perkasa Roeslani untuk diteruskan kepada Presiden Prabowo Subianto.
"Saya kira itu benar sekali, memang transfer pricing yang sangat banyak, tapi juga sudah saya usulkan tadi malam juga kepada Rosan untuk disampaikan pada Presiden, kita gunakan juga Simbara yang traceability yang sudah ada dengan badan ini memakai sistem itu," kata Luhut kepada jurnalis di kantornya, Jakarta, Senin (25/5/2026).
1. Sistem terhubung ke National Single Window

Luhut menjelaskan Simbara sudah terhubung dengan sistem National Single Window yang berada di bawah Kementerian Keuangan (Kemenkeu). Menurut dia, sistem tersebut telah dibangun untuk memantau proses tata niaga sehingga aktivitas pelaku usaha dapat lebih mudah diawasi.
Terkait pemanfaatan Simbara oleh badan usaha milik negara (BUMN) khusus ekspor, yakni DSI, dia mengatakan pengembangan sistem masih bisa terus diperbaiki apabila ditemukan kekurangan. Luhut juga menyebut pengembangan perangkat lunak dilakukan oleh talenta digital dalam negeri.
"Jadi sudah kita bangun sistem itu dan orang tidak akan bisa lari dari situ. Ya kalau masih ada kurang di sana-sini nanti kita perbaiki dan kita tidak keluar ongkos juga yang aneh-aneh. Dan anak-anak muda Indonesia sampai hari ini bisa membuat software-nya," tuturnya.
2. Data ekspor hingga pajak akan terintegrasi

Luhut mengatakan sistem yang dimaksud tidak hanya terhubung dengan National Single Window, tetapi juga dengan sistem perpajakan. Menurut dia, seluruh data tersebut akan berada dalam satu ekosistem sehingga pengawasan dapat dilakukan secara otomatis berbasis kecerdasan buatan (AI).
Dia menyebut penggunaan AI akan membantu membaca dan mencocokkan data lintas sistem sehingga pelaku usaha lebih sulit menghindari pengawasan. Untuk itu, Luhut mendorong Danantara berkoordinasi dengan Kementerian Keuangan (Kemenkeu).
"Saya sudah bicara Pak Rosan tadi malam. Saya minta, saya dorong Pak Rosan untuk memanggil tim nanti bicara dan itu berkait ke tempatnya Pak Sua (Wakil Menteri Keuangan)," tutur Luhut.
3. Klaim Simbara berdampak positif ke keuangan negara

Luhut mengaku terlibat dalam pengembangan Simbara saat menjabat Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves). Dia mengatakan penerapan sistem tersebut pada sektor batu bara mampu meningkatkan penerimaan negara hingga 40 persen.
Menurut dia, penerapan digitalisasi berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam pengelolaan SDA juga diharapkan dapat meningkatkan penerimaan negara tanpa menimbulkan gejolak di lapangan.
"Tapi sekarang dengan Presiden lebih jelas begini saya kira angkanya akan cukup besar itu dan tidak menimbulkan keributan karena kita menggunakan sistem itu dengan digitalisasi dengan berbasis AI," kata Luhut.
















