WIKA Rugi Rp1,8 Triliun Setiap Tahun Gara-gara Whoosh

- WIKA menanggung kerugian tahunan sekitar Rp1,7–Rp1,8 triliun dari proyek Kereta Cepat Whoosh, membuat laporan keuangan perusahaan terus negatif hingga rugi Rp9,71 triliun pada 2025.
- Perusahaan belum bisa melepas kepemilikan saham di proyek Whoosh karena faktor politis dan masih menunggu keputusan pemerintah serta Danantara terkait langkah keluar dari keterlibatan tersebut.
- KCIC belum membayar klaim WIKA senilai Rp5,02 triliun atas pembengkakan biaya proyek Whoosh, dan kedua pihak kini menjalani proses mediasi setelah gugatan arbitrase ditunda.
Jakarta, IDN Times - PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) masih mencatatkan kerugian setiap tahunnya dari proyek Kereta Cepat Whoosh. Direktur Utama WIKA, Agung Budi Waskito alias Agung BW mengatakan, setiap tahunnya perusahaan menanggung rugi sekutar Rp1,7 triliun sampai Rp1,8 triliun dari proyek Whoosh.
“Porsi kita itu setiap tahun membukukan rugi yang memang setiap tahun cukup besar. Kalau tahun lalu, tahun 2025 kalau enggak salah Rp1,7 triliun atau Rp1,8 triliun. Hampir setiap tahun segitu,” kata Agung BW dalam media briefing di kantor proyek Tol Harbour Road (HBR) 2, di Jakarta Utara, Senin (6/4/2026).
1. WIKA terus catatkan keuangan negatif

Agung BW mengatakan, dengan kerugian itu, perusahaan masih kesulitan membukukan laporan keuangan positif. “Sehingga memang cukup berat WIKA ini untuk bisa mempunyai laba yang baik,” ujar Agung BW.
Dalam laporan keuangan perusahaan tahun 2025, tercatat WIKA membukukan kerugian hingga Rp9,71 triliun. Kerugian WIKA membengkak hingga 328,31 triliun dibandingkan 2024 yang hanya Rp2,27 triliun.
Pembengkakan kerugian perusahaan seiringan dengan pendapatan bersih yang turun 30,75 persen. Pada 2024, perusahaan membukukan pendapatan bersih Rp19,24 triliun, dan di 2025 hanya Rp13,32 triliun.
2. WIKA belum bisa lepas kepemilikan saham di Whoosh buat kurangi kerugian

Sebagai informasi, total utang kereta cepat mencapai Rp120,38 triliun. Sebesar 75 persen modal proyek itu dibiayai oleh China Development Bank (CDB) dengan bunga 2 persen per tahun.
Total investasi proyek Whoosh mencapai 7,2 miliar dolar Amerika Serikat (AS). Sementara, target awal hanya 6 miliar dolar AS. Dengan demikian, biaya proyek Whoosh bengkak 1,2 miliar dolar AS atau sekitar Rp20,05 triliun (kurs Rp16.707,5 per dolar AS).
Pembayaran cost overrun dirancang dengan skema 60 persen dan 40 persen. Di mana sebesar 60 persen atau 720 juta dolar AS dibayar oleh konsorsium Indonesia, dan 40 persen atau senilai 480 juta dolar AS dibayar konsorsium China.
Konsorsium Indonesia sendiri berdiri dengan nama PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI), dengan kepemilikan saham atas KCIC sebesar 60 persen. PSBI terdiri dari empat BUMN, yakni PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk atau WIKA, PT Jasa Marga (Persero) Tbk, dan PT Perkebunan Nusantara VIII (Persero) atau PTPN VIII.
Adapun konsorsium China, Beijing Yawan HSR Co. Ltd mengantongi saham KCIC 40 persen. Agung mengatakan, WIKA belum memiliki strategi dalam hal mengurangi kerugian dari proyek Whoosh. Sebab, WIKA belum bisa melepas keterlibatan dalam proyek tersebut.
“Kebanyakan orang kalau punya aset ya dijual, ya kira-kira seperti itu. Tapi kan tidak semudah itu, karena ya Kereta Cepat ini berbeda ya. Karena Kereta Cepat ini kan meskipun b2b atau business to business, tetapi ada nilai politisnya juga. Sehingga tidak mudah buat kita untuk bisa melepas aset di Kereta Cepat,” ujar Agung.
Dia mengatakan, perusahaan telah meminta kepada pemerintah dan Danantara untuk melepas keterlibatan dalam proyek Whoosh, dan hanya ingin berpartisipasi sebagai kontraktor. Namun, hingga saat ini belum ada langkah lanjutan dari pemerintah dan Danantara.
“Ini tentu menjadi domain-nya daripada government atau Danantara. Nanti langkahnya seperti apa, sampai dengan saat ini ya memang sedang kita bahas kiranya-kiranya keluarnya seperti apa. Sehingga sampai dengan sekarang kami belum ada langkah yang betul-betul bisa keluar dari Kereta Cepat, itu belum,” tutur Agung BW.
3. KCIC belum bayar klaim WIKA hingga Rp5 triliun

Di sisi lain, PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) juga belum membayarkan klaim ke WIKA senilai Rp5,02 triliun. Angka itu merupakan klaim atas pembengkakan biaya (cost overrun) proyek Whoosh.
Agung BW mengatakan, WIKA telah mendaftarkan klaim tersebut ke Pusat Arbitrase Internasional Singapura alias Singapore International Arbitration Centre (SIAC). Dalam laporan keuangan perusahaan, klaim itu telah didaftarkan sejak 31 Desember 2024.
Namun, WIKA diminta melanjutkan gugatan atas klaim tersebut melalui jalur mediasi.
“Atas kesepakatan antara WIKA dan KCIC, kita sedang dimediasi. Jadi sedang tahap proses mediasi. Sehingga sementara untuk yang SIAC ditunda dulu. Sebisa mungkin antara WIKA dan KCIC melalui mediasi,” ujar Agung BW.


















