Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kimia Farma Gandeng Kemlu Garap Pasar Internasional
Kimia Farma (Instagram Kimia Farma)
  • Kimia Farma bekerja sama dengan Kementerian Luar Negeri untuk memperluas pasar internasional dan memperkuat diplomasi kesehatan Indonesia melalui peningkatan kapasitas serta kualitas produksi.
  • Bio Farma Group mendorong integrasi antarperusahaan dalam holding guna meningkatkan daya saing, memperkuat ketahanan kesehatan nasional, dan mendukung ekspansi ke pasar global.
  • DPR menilai industri farmasi nasional masih bergantung pada bahan baku impor dan mendorong pemerintah mengintegrasikan sektor kimia dasar serta petrokimia agar produksi obat lebih mandiri.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - PT Kimia Farma Tbk mulai memperluas akses pasar internasional melalui kolaborasi dengan Kementerian Luar Negeri. Direktur Komersial Kimia Farma Hanadi Setiarto menyatakan sinergi bertujuan memperkuat posisi produk Indonesia dalam diplomasi kesehatan global.

Hanadi menyebut langkah itu sebagai strategi untuk menembus pasar global. Dia memastikan perusahaan terus memacu kapasitas produksi agar mampu bersaing dengan pemain internasional.

“Agenda ini merupakan momentum strategis untuk memperluas akses pasar global sekaligus memperkuat peran Indonesia dalam diplomasi kesehatan. Kami terus meningkatkan kualitas dan kapasitas produksi agar kompetitif di tingkat internasional,” kata dia dalam keterangan tertulis, Selasa (14/4/2026).

1. Holding Bio Farma dorong integrasi produksi

Kantor pusat PT Bio Farma (Persero) di Kota Bandung, Jawa Barat, (dok. Bio Farma)

Sementara itu, Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Bio Farma Jeffri Susanto mengatakan, integrasi holding yang di dalam, termasuk Kimia Farma, menjadi kunci meningkatkan daya saing grup.

Menurutnya, kekuatan Bio Farma Group terletak pada ekosistem yang mencakup proses pengembangan, produksi, hingga distribusi. Langkah integrasi diharapkan dapat memperkuat ketahanan kesehatan nasional serta mendukung ekspansi di pasar kesehatan dunia.

“Integrasi ini menjadi modal penting untuk meningkatkan daya saing industri farmasi nasional, memperkuat ketahanan kesehatan, dan mendukung langkah Indonesia untuk semakin aktif dalam pasar kesehatan global,” ujar Jeffri.

2. Target ekspor farmasi nasional

ilustrasi ekspor (pexels.com/Fred dendoktoor)

Melalui kerja sama lintas sektor dan antarnegara, Bio Farma Group berupaya mengoptimalkan diplomasi kesehatan sebagai pembuka jalan ekspor produk farmasi nasional. Perusahaan fokus pada peningkatan daya saing produk untuk mencapai target tersebut.

Sinergi antara Bio Farma Group dan pemerintah diharapkan dapat memposisikan industri farmasi Indonesia sebagai mitra kesehatan global. Kerja sama itu ditujukan untuk mendukung pertumbuhan industri kesehatan dalam negeri yang lebih kompetitif.

3. Industri farmasi perlu dukungan pemerintah

Ilustrasi obat-obatan dapat menimbulkan efek samping

​Sebelumnya, Anggota Komisi VII DPR RI, Eva Monalisa, mengapresiasi perbaikan kinerja keuangan anak usaha holding, seperti Indofarma yang mulai mencatatkan laba sebesar Rp76 miliar setelah sebelumnya merugi Rp53 miliar.

​Namun, Eva menekankan persoalan utama industri farmasi nasional masih tertahan pada ketergantungan bahan baku impor yang tinggi. Menurutnya, penguatan industri tidak akan maksimal tanpa pembenahan rantai pasok dari hulu ke hilir.

​Dia menyarankan agar pemerintah, melalui Kementerian Perindustrian, segera mengintegrasikan industri kimia dasar dan petrokimia dengan sektor farmasi. Langkah itu dinilai perlu agar produksi obat dalam negeri memiliki landasan bahan baku yang lebih kuat dan mandiri.

“Jadi dari hulu ke hilirnya ini belum maksimal juga. Jadi ini masukkan untuk Kemenperin, mungkin kita bisa bangun dulu untuk hulu industrinya Bio Farma ini dengan integrasi dengan industri kimia dasar, petrokimia, bahan baku farmasinya ini mungkin bisa diintegrasikan dulu,” katanya dalam keterangan tertulis.

Editorial Team