Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Astronacci: Konflik AS–Israel vs Iran Bisa Tekan Energi China
Ilustrasi perang Iran Israel (IDN Times/Aditya Pratama)
  • Eskalasi militer AS dan Israel terhadap Iran dinilai sebagai strategi geopolitik global yang menekan China melalui kendali pasokan energi, mengingat posisi strategis Iran dalam rantai energi dunia.
  • Ketegangan di Selat Hormuz memicu lonjakan harga minyak dan mendorong investor global beralih ke emas sebagai aset safe haven di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar.
  • IHSG diperkirakan tertekan akibat sentimen global, namun sektor energi dan pertambangan emas dianggap potensial menjadi benteng defensif bagi investor domestik.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times – CEO Astronacci International, Gema Goeyardi, menilai eskalasi militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran bukan sekadar konflik regional. Ia melihat konflik ini sebagai strategi geopolitik global yang berpotensi menekan China melalui kendali pasokan energi dunia.

Menurut Gema, posisi Iran sangat strategis dalam rantai energi global dan memiliki hubungan erat dengan kebutuhan energi China. Karena itu, konflik yang melibatkan Iran tidak bisa dilihat hanya sebagai perang regional.

"Kematian Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dalam serangan tersebut memang menjadi headline dunia. Balasan Iran terhadap wilayah strategis Israel dan pangkalan Amerika, serta keputusan menutup Selat Hormuz, memperparah ketegangan dan memicu gejolak pasar energi global," ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat (6/3/2026).

Ketegangan ini diperkirakan akan berdampak pada harga minyak dunia, pasar global, dan investasi.

1. Sebanyak 89 persen ekspor minyak Iran mengalir ke China

CEO Astronacci International Gema Goeyardi. (Dok/Istimewa).

Gema menjelaskan Selat Hormuz adalah jalur vital energi dunia. Sekitar 20 persen pasokan minyak global melewati jalur ini setiap hari.

Gangguan sekecil apa pun di Selat Hormuz dapat langsung memicu lonjakan harga minyak dan mengguncang stabilitas ekonomi internasional.

"Dalam konteks ini, Iran bukan hanya negara yang diserang, tetapi juga salah satu pemasok energi utama bagi China. Sekitar 89 persen ekspor minyak Iran selama ini mengalir ke China," kata Gema menegaskan.

2. Emas akan jadi instrumen safe haven bagi investor

emas batangan Antam (logammulia.com/emas Antam)

Menurut Gema, konflik Iran bukan sekadar peristiwa bilateral. Ketegangan ini merupakan bagian dari kontestasi geopolitik antara dua kekuatan besar, yakni Amerika Serikat dan China.

Ancaman gangguan pasokan energi memicu lonjakan harga minyak, sementara investor global cenderung mengalihkan dana ke aset yang lebih aman, seperti emas, di tengah ketidakpastian ini.

"Volatilitas bukan lagi risiko tambahan, tetapi menjadi karakter utama pasar dalam fase seperti ini,” tambahnya.

3. IHSG berpotensi alami tekanan dalam jangka pendek

Ilustrasi IHSG. (IDN Times/Aditya Pratama)

Di dalam negeri, pasar saham diperkirakan terpengaruh sentimen global. Gema menilai Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bisa mengalami tekanan jangka pendek akibat sentimen risk-off dan potensi capital outflow. Namun, sektor energi dan pertambangan emas dapat menjadi benteng defensif.

Akumulasi saham berbasis emas dan energi menjadi strategi yang relevan dalam menghadapi dinamika global saat ini. Investor disarankan mempertimbangkan strategi akumulasi saham berbasis energi dan emas, seperti ANTM dan ARCI.

“Market merah selalu ingat Astronacci. IHSG Kamis, 5 Maret, sudah rebounce setelah tanggal 4 mencapai bottom, sesuai prediksi kami. Kuncinya adalah membaca peluang saat market merah,” kata Gema.

Editorial Team