Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Korea Selatan Memprotes Pengumuman AS soal Investasi LNG Alaska

3 min read
Korea Selatan Memprotes Pengumuman AS soal Investasi LNG Alaska
Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump (commons.wikimedia.org/The White House)
  • Korea Selatan memprotes AS karena memasukkan proyek LNG Alaska dalam paket investasi strategis 200 miliar dolar AS, padahal Seoul menyatakan belum menyetujui keputusan investasi.

  • Trump dan Menteri Perdagangan AS menyebut investasi LNG Alaska melampaui 50 miliar dolar AS, tetapi angka itu tidak tercantum dalam lembar fakta bersama kedua negara.

  • Seoul akan meninjau LNG Alaska melalui pembahasan teknis, kelayakan komersial, dan prosedur hukum; negosiasi tetap berlanjut tanpa keputusan nilai maupun partisipasi investasi.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times  -  Korea Selatan (Korsel) memprotes pengumuman Amerika Serikat (AS) yang menyebut proyek gas alam cair (LNG) Alaska sebagai bagian dari paket investasi strategis Korsel senilai 200 miliar dolar AS (setara Rp3.588,56 triliun). Seoul menegaskan bahwa keputusan investasi untuk proyek tersebut belum dibuat.

Menteri Perdagangan, Industri, dan Energi Kim Jung Kwan mengatakan telah menyampaikan protes kepada Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick karena pengumuman tersebut melampaui kesepakatan kedua negara, dilansir The Korea Times. 

  1. 1. Trump umumkan investasi LNG Alaska lebih dari 50 miliar dolar AS

    Presiden Amerika Serikat Donald Trump
    Presiden Amerika Serikat Donald Trump (commons.wikimedia.org/Gage Skidmore)

    Presiden AS Donald Trump mengumumkan paket investasi Korsel di Gedung Putih pada Rabu (30/9/2026) waktu setempat. Paket tersebut mencakup pembangkit listrik gas siklus gabungan di Texas senilai 22,3 miliar dolar AS (setara Rp400,12 triliun), delapan reaktor nuklir, dan proyek LNG Alaska.

    Trump menyebut investasi untuk proyek LNG Alaska akan mencapai lebih dari 50 miliar dolar AS (setara Rp897,14 triliun). Lutnick juga menyebut investasi di Alaska lebih dari 50 miliar dolar AS.

    Akan tetapi, angka tersebut tidak tercantum dalam lembar fakta bersama yang dirilis AS dan Korsel. Seoul Economic Daily melaporkan bahwa Washington secara sepihak mengumumkan perincian yang tidak pernah disepakati Seoul.

    Sebelumnya, pemerintah Korsel hanya mengategorikan pembangkit listrik Texas sebagai proyek yang secara resmi telah dipilih dalam kerangka investasi strategis. Di sisi lain, proyek LNG Alaska dan delapan reaktor nuklir masih perlu dibahas dan ditinjau.

  2. 2. Seoul belum memutuskan investasi LNG Alaska

    Presiden Korsel Lee Jae Myung menegaskan bahwa proyek LNG Alaska baru akan masuk tahap pembahasan teknis dengan dua syarat, yakni kelayakan komersialnya telah dipastikan dan proyek tersebut mematuhi prosedur hukum Korsel.

    "Di antara proyek-proyek investasi AS yang diumumkan oleh Amerika Serikat, proyek LNG Alaska akan masuk tahap pembahasan teknis dengan prasyarat bahwa kelayakan komersialnya dipastikan dan proyek tersebut mematuhi prosedur hukum Republik Korea," tulis Lee melalui platform X pada Kamis (1/10).

    Lee juga menegaskan kelayakan komersial harus dijamin untuk setiap pembangkit nuklir secara individual. Ia menyebut pembagian keuntungan ditetapkan 5:5 hingga pokok dan bunga investasi dilunasi kemudian menjadi 9:1 setelahnya. 

    Pemerintah Korsel menetapkan batas investasi hingga 20 miliar dolar AS (setara Rp358,86 triliun) per tahun dengan total maksimal 200 miliar dolar AS. Dana investasi akan dicairkan secara bertahap berdasarkan pencapaian setiap proyek.

    Sementara itu, Kementerian Perdagangan, Industri, dan Energi Korsel (MOTIR) menyatakan proyek LNG Alaska akan ditinjau berdasarkan nota kesepahaman (MoU) kedua negara. Belum ada keputusan mengenai apakah Korsel akan berinvestasi ataupun mengenai besaran investasinya. 

  3. 3. Negosiasi proyek berlanjut setelah pengumuman AS

    Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung
    Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung (commons.wikimedia.org/The White House)

    Kim Jung Kwan mengatakan bahwa pengumuman AS mengenai proyek LNG Alaska bukanlah akhir dari proses. "Pengumuman hari ini bukan akhir, melainkan awal yang baru," ujarnya sebagaimana dikutip Seoul Economic Daily.

    Kim Tae Hwang, profesor perdagangan internasional di Universitas Myongji, mengatakan proyek investasi di AS sangat rentan terhadap perubahan kondisi politik dan kebijakan negara tersebut. Menurutnya, sebagian dana investasi dapat disisihkan sebagai cadangan untuk menghadapi ketidakpastian masa depan seperti yang dilakukan Jepang. 

    Di sisi lain, Profesor Ekonomi Universitas Myongji Woo Suk Jin menyuarakan kekhawatirannya, "AS telah secara terbuka menyatakan hal-hal yang tidak pernah disepakati. Negosiasi yang akan datang membawa banyak beban."

    Sementara Kepala Institut Perdagangan Internasional di Asosiasi Perdagangan Internasional Korea (KITA), Jang Sang Sik, menilai Trump sengaja menyoroti proyek LNG Alaska dengan mempertimbangkan pemilu sela AS pada November mendatang. Ia berpendapat bahwa negosiasi lanjutan perlu mengkaji rasionalitas komersial dan ketentuan partisipasi perusahaan Korsel tanpa terbawa agenda politik AS. 

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Ambang Batas Jelang Pemilu 2029

Related Articles

See More