Sejumlah investor memantau pergerakan saham di Kantor Bursa Efek Indonesia (BEI) Jawa Tengah 1 di Semarang (IDN Times/Dhana Kencana)
Laksamana menilai sebagian investor telah menurunkan tingkat keyakinannya terhadap pasar Indonesia meski status Emerging Market masih dipertahankan. Dalam kondisi tersebut, Indonesia masih dianggap layak untuk diinvestasikan, tapi dengan catatan.
"Banyak investor institusi kemungkinan mengubah posisi dari overweight menjadi underweight. Indonesia masih layak diinvestasikan, tetapi kini dianggap memiliki risiko lebih tinggi sehingga membutuhkan premi risiko tambahan," paparnya.
Dia menyebut kondisi tersebut sebagai credibility discount, yakni ketika fundamental ekonomi masih menarik tetapi persepsi risiko meningkat sehingga investor meminta kompensasi yang lebih besar.
Dalam lima bulan terakhir, nilai portofolio investor asing disebut menyusut dari sekitar 5,811 miliar dolar AS menjadi sekitar 2,425 miliar dolar AS. Meski demikian, investor asing masih menguasai sekitar 42 persen pasar saham domestik.
Menurutnya, keberadaan investor asing yang masih bertahan tidak otomatis menunjukkan tingkat kepercayaan yang tinggi. Salah satu faktornya adalah Indonesia masih menjadi bagian dari indeks MSCI Emerging Markets sehingga sejumlah investor institusi tetap harus mempertahankan eksposurnya.
Selain itu, proses penyesuaian portofolio investor institusi berskala besar umumnya tidak dapat dilakukan sekaligus karena berpotensi menekan harga saham dan meningkatkan biaya transaksi. Oleh sebab itu, penyesuaian biasanya dilakukan secara bertahap sambil mencermati perkembangan pasar dan kebijakan.
"Dengan demikian, keberadaan investor asing mencerminkan kombinasi keyakinan yang masih ada, sikap menunggu, dan proses penyesuaian yang belum selesai," tuturnya.