Malaysia Beri Keringanan Biaya Maskapai Penerbangan efek Konflik Timteng

- Pemerintah Malaysia memberi keringanan biaya navigasi, parkir, dan infrastruktur bandara bagi maskapai untuk menjaga stabilitas keuangan akibat lonjakan harga bahan bakar pesawat.
- CAAM menyiapkan subsidi tiket senilai 5 juta ringgit guna menekan harga penerbangan domestik antara Semenanjung Malaysia dengan Sabah, Sarawak, dan Labuan selama periode perayaan Gawai Dayak dan Kaamatan.
- Maskapai mengalihkan rute penerbangan dari ruang udara Iran sehingga waktu tempuh bertambah dan biaya meningkat; beberapa penerbangan dibatalkan serta tarif tiket disesuaikan hingga 40 persen.
Jakarta, IDN Times - Pemerintah Malaysia mengeluarkan kebijakan baru untuk membantu maskapai penerbangan yang mengalami kendala keuangan akibat konflik di Timur Tengah. Langkah ini diambil guna menjaga kelancaran operasi penerbangan nasional di tengah kenaikan harga bahan bakar pesawat dan penyesuaian rute penerbangan internasional.
Kebijakan tersebut merupakan hasil kerja sama antara Kementerian Transportasi (MOT), Otoritas Penerbangan Sipil Malaysia (CAAM), dan Malaysia Airports Holdings Bhd (MAHB). Keputusan ini diterapkan setelah ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran memicu lonjakan harga bahan bakar pesawat dari kisaran 85-90 dolar AS (Rp1,5 juta-1,59 juta) menjadi lebih dari 200 dolar AS (Rp3,54 juta) per barel.
Table of Content
1. Perpanjangan waktu bayar biaya navigasi dan parkir pesawat
Kementerian Transportasi mengumumkan bahwa maskapai mendapat tambahan waktu hingga 60 hari untuk membayar biaya navigasi. Maskapai juga dibebaskan dari biaya parkir pesawat (aircraft parking fees) untuk menjaga stabilitas arus kas perusahaan ketika jumlah penerbangan mengalami penurunan.
Selain itu, biaya penggunaan garbarata (Passenger Boarding Bridge) dan biaya infrastruktur bersama (Common Infrastructure Charges) ditunda pembayarannya selama dua bulan. Langkah ini dikhususkan untuk memastikan kelancaran rute penerbangan dalam negeri, khususnya antara Semenanjung Malaysia dengan Sabah, Sarawak, dan Labuan.
"Langkah bantuan ini bertujuan untuk menjaga kelancaran operasi penerbangan dan melindungi kepentingan penumpang, serta memastikan sektor penerbangan tetap bertahan dan mendukung pariwisata kita," kata perwakilan Kementerian Transportasi, dilansir The Sun Malaysia.
2. Subsidi tiket pesawat dalam negeri sebesar Rp22,3 miliar
Sebagai bentuk dukungan tambahan, pemerintah melalui CAAM menyiapkan dana sebesar 5 juta ringgit (Rp22,3 miliar) untuk menekan harga tiket pesawat. Program ini memberikan potongan harga 50 ringgit (Rp223 ribu) per tiket bagi warga Malaysia yang terbang antara Semenanjung Malaysia dengan Sabah, Sarawak, dan Labuan selama masa perayaan Gawai Dayak dan Kaamatan.
Subsidi tiket ini berlaku pada periode Mei hingga Juni 2026 dan diperkirakan akan menjangkau sekitar 100 ribu penumpang. Kebijakan ini diharapkan dapat membantu meringankan pengeluaran perjalanan masyarakat luas.
"Langkah ini menunjukkan upaya pemerintah untuk memastikan transportasi umum tetap menjadi pilihan utama dan bisa dinikmati oleh semua kalangan, terutama untuk keperluan kerja, sekolah, dan urusan keluarga," kata Menteri Transportasi Anthony Loke, dilansir The Star.
3. Penyesuaian tarif tiket dan pengalihan rute penerbangan
Kondisi keamanan di kawasan konflik mengharuskan maskapai untuk mengalihkan rute penerbangan dari Kuala Lumpur ke Eropa yang biasanya melewati ruang udara Iran. Pengalihan ini menambah waktu perjalanan hingga empat jam dan meningkatkan konsumsi bahan bakar secara signifikan. Tercatat sekitar 200 penerbangan dari Bandara Internasional Kuala Lumpur menuju wilayah Timur Tengah telah dibatalkan.
Penyesuaian operasional ini membuat sejumlah maskapai melakukan perubahan kebijakan tarif. Maskapai AirAsia X melakukan penyesuaian harga tiket hingga 40 persen dan menerapkan biaya tambahan bahan bakar sekitar 20 persen. Sementara itu, Malaysia Aviation Group (MAG) memutuskan untuk menghentikan sementara penerbangan menuju Doha.
"Kita sedang berada dalam kondisi di mana menerbangkan pesawat memakan biaya lebih besar daripada membiarkannya di darat, dan industri ini berpotensi mengalami penurunan usaha," kata mantan Direktur Pelaksana MAG, Datuk Kapten Izham Ismail.


















