Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Purbaya Tegaskan Kondisi Ekonomi Sekarang Jauh Lebih Baik Dibanding Krisis 1998

Purbaya Tegaskan Kondisi Ekonomi Sekarang Jauh Lebih Baik Dibanding Krisis 1998
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa. (IDN Times/Ilman Nafi'an)
Intinya Sih
  • Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan ekonomi Indonesia saat ini jauh lebih kuat dibanding krisis 1998, dengan depresiasi rupiah hanya sekitar 4–5 persen dan fundamental tetap solid.
  • Tekanan terhadap rupiah dan pasar keuangan disebut lebih dipicu sentimen serta persepsi pasar, bukan karena pelemahan ekonomi nasional yang dinilai masih sehat.
  • Pemerintah berencana memperkuat komunikasi publik dan investor agar pemahaman tentang kondisi ekonomi Indonesia semakin jelas serta mengurangi persepsi negatif di pasar.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Jakarta, IDN Times - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan, kondisi ekonomi Indonesia saat ini masih aman dan jauh berbeda dibandingkan periode krisis 1998.

Menurut dia, fundamental ekonomi domestik tetap kuat di tengah tekanan global. Di sisi lain, pemerintah terus mempelajari pengalaman penanganan krisis ekonomi masa lalu untuk memastikan Indonesia tidak kembali mengalami krisis seperti 1998 maupun 2008.

"Kalau dibandingkan 1998, waktu itu rupiah melemah dari sekitar Rp2 ribu menjadi Rp17 ribu per dolar AS. Kalau sekarang depresiasi sekitar 4–5 persen saja, jadi jauh berbeda,” tuturnya.

1. Tekanan di pasar keuangan lebih disebabkan sentimen dan persepsi pasar

IHSG melemah 5,91 persen pada penutupan perdagangan sesi I.
IHSG melemah 5,91 persen pada penutupan perdagangan sesi I, Kamis (29/1/2026). (IDN Times/Pitoko)

Purbaya menilai, tekanan terhadap rupiah dan pasar keuangan lebih banyak dipengaruhi sentimen dan persepsi pasar, bukan karena pelemahan fundamental ekonomi nasional.

“Fundamental ekonomi kita bagus sekali. Mereka juga bilang mungkin persepsi orang yang membuat ada tekanan ke nilai tukar,” katanya.

2. Berbagai tekanan dari sentimen lembaga pemeringkat

Pengunjung berjalan didekat layar digital yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (8/4/2025). (ANTARA FOTO/Bayu Pratama S)
Pengunjung berjalan didekat layar digital yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (8/4/2025). (ANTARA FOTO/Bayu Pratama S)

Meski demikian, pemerintah juga tengah mempelajari pengalaman penanganan krisis ekonomi masa lalu sebagai langkah antisipasi menghadapi dinamika global saat ini.

Ia juga menyoroti berbagai tekanan eksternal yang datang secara beruntun, mulai dari penilaian indeks global MSCI, laporan lembaga pemeringkat, hingga gejolak nilai tukar rupiah. Namun pemerintah memastikan kondisi ekonomi nasional tetap terkendali.

“Kalau kita lihat sekarang ada serangan bertubi-tubi ke kita. MSCI, lalu lembaga pemeringkat, kemudian pergerakan nilai tukar. Tapi kalau dari fundamental sih tidak ada masalah,” ujar Purbaya.

3. Memperbaiki komunikasi publik

ilustrasi rupiah melemah (IDN TImes/Aditya Pratama)
ilustrasi rupiah melemah (IDN TImes/Aditya Pratama)

Dengan perkembangan terkini, pemerintah akan memperkuat komunikasi kepada publik dan investor agar kondisi fundamental ekonomi Indonesia dapat dipahami secara lebih utuh dan tidak memicu persepsi negatif berlebihan di pasar.

“Jadi kita akan memperbaiki cara mensosialisasikan keberhasilan kita ke publik,” katanya.

Share Article
Topics
Editorial Team
Sunariyah Sunariyah
EditorSunariyah Sunariyah

Related Articles

See More