Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Mata Uang Garuda Dibuka Lesu ke Rp17.838 per Dolar AS
Ilustrasi dolar AS (freepik.com/jcomp)
  • Rupiah dibuka melemah ke Rp17.838 per dolar AS, turun 44 poin atau 0,25 persen pada perdagangan Jumat, sejalan dengan pelemahan mayoritas mata uang Asia.
  • Penguatan dolar AS dipicu ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed usai rapat FOMC, membuat analis memproyeksikan rupiah masih berpotensi melemah dalam waktu dekat.
  • Dari dalam negeri, keputusan MSCI mempertahankan status Indonesia sebagai pasar berkembang serta potensi kenaikan BI rate dinilai bisa menopang stabilitas dan kepercayaan terhadap rupiah.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Pergerakan nilai tukar rupiah di pasar spot dibuka melemah pada level Rp17.838 per dolar AS pada perdagangan Jumat (19/6/2026).

Berdasarkan Bloomberg, rupiah dibuka melemah 44 poin atau 0,25 persen.

1. Rincian pergerakan mata uang di Asia pagi ini

Daftar mata uang di Asia bergerak melemah dengan rincian

  • Bath Thailand melemah 0,18 persen

  • Ringgit Malaysia melemah 0,07 persen

  • Yuan China melemah 0,11 persen

  • Pesso Filipina melemah 0,14 persen

  • Dolar Taiwan melemah 0,03 persen

  • Dolar Singapura melemah 0,09 persen

2. Rupiah diproyeksikan melemah seiring rapat FOMC

Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong memproyeksikan nilai tukar rupiah diperkirakan bergerak melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) seiring kembali menguatnya mata uang Negeri Paman Sam tersebut setelah pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC).

Meningkatnya ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga oleh bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), menjadi faktor utama yang mendorong penguatan dolar.

"Indeks dolar AS sendiri mencapai level tertinggi dalam lebih dari setahun," ucapnya.

3. Keputusan menaikkan suku bunga acuan bisa topang penguatan rupiah

Selain faktor kebijakan moneter, kekhawatiran pasar terhadap belum pulihnya pasokan minyak mentah dunia akibat dampak konflik geopolitik juga turut memberikan dukungan bagi penguatan dolar AS. Ketidakstabilan pasokan energi dinilai berpotensi menjaga tekanan inflasi global dan mendorong investor mencari aset yang dianggap lebih aman.

Dari dalam negeri, sentimen positif datang dari keputusan MSCI yang tetap mempertahankan status Indonesia sebagai pasar berkembang (Emerging Market/EM). Keputusan tersebut dinilai mampu menjaga kepercayaan investor terhadap pasar keuangan Indonesia dan memberikan dukungan bagi stabilitas rupiah.

"BI rate sendiri sangat penting untuk mendukung rupiah dan diperkirakan masih akan dinaikkan kedepannya paling tidak 50bps lagi. Dengan demikian, pergerakan rupiah hari ini akan berada di kisaran Rp17.800-Rp17.900 per dolar AS," tegasnya.

Editorial Team

Related Article