“Kalau saya harus prediksi sih MSCI tidak akan berani. Ya, tidak akan berani untuk menurunkan klasifikasi pasar saham Indonesia dari emerging market ke frontier," ujar Tom dalam talk show Indonesia Summit 2026 by IDN Times bertajuk "The Price of Tomorrow: Gen Z, Cost of Living, and The Fight for Financial Security", di Jakarta, Kamis (18/6/2026).
Tom Lembong Sudah Perkirakan MSCI Tak Turunkan Status Pasar Saham

- Tom Lembong memprediksi MSCI tidak akan menurunkan status pasar saham Indonesia dari emerging market ke frontier market karena faktor geopolitik dan besarnya peran ekonomi RI di dunia.
- Ia menilai MSCI enggan dianggap sebagai pemicu gejolak pasar yang bisa menyebabkan arus keluar modal besar jika penurunan klasifikasi benar-benar dilakukan.
- Tom menjelaskan penyedia indeks seperti MSCI, S&P, FTSE, JPMorgan, dan Bloomberg memiliki pengaruh besar terhadap arah investasi global karena banyak manajer investasi mengikuti acuan mereka.
Jakarta, IDN Times - Mantan Menteri Perdagangan, Thomas Trikasih Lembong, sudah memprediksi MSCI tidak akan menurunkan klasifikasi pasar saham Indonesia dari kategori emerging market menjadi frontier market.
Menurut Tom, panggilan akrabnya, pertimbangan geopolitik dan besarnya posisi Indonesia di perekonomian global menjadi faktor yang membuat langkah tersebut sulit dilakukan.
1. Indonesia jadi pasar yang tak bisa diabaikan

Tom menilai Indonesia memiliki posisi yang terlalu besar untuk diabaikan. Sebagai negara dengan jumlah penduduk terbesar keempat dunia, penurunan status Indonesia dinilai akan menjadi peristiwa yang sangat signifikan bagi pasar keuangan global.
Ia mengingatkan bahwa Indonesia telah berada dalam kategori emerging market selama puluhan tahun. Menurutnya, akan menjadi kejadian yang sangat besar apabila untuk pertama kalinya dalam lebih dari tiga dekade Indonesia kembali turun ke kategori frontier market.
"Jadi secara geopolitik, secara geopolitis, secara politis, saya kira MSCI tidak akan berani. Ya. Bukan berarti kita layak untuk dipertahankan dalam kategori emerging market, tapi saya kira secara geopolitis, secara politis, too big to fail," kata mantan Kepala BKPM itu.
2. Tom sebut MSCI tak mau dianggap pemicu gejolak pasar

Tom juga menilai MSCI kemungkinan tidak ingin dianggap sebagai pihak yang memicu gejolak pasar apabila penurunan status tersebut benar-benar dilakukan. Menurut dia, dampaknya dapat berupa arus keluar modal (capital outflow) dalam jumlah besar karena banyak pengelola investasi global mengacu pada indeks yang disusun oleh lembaga penyedia indeks seperti MSCI.
Ia mengutip proyeksi yang pernah disampaikan sejumlah pelaku pasar bahwa dana asing yang keluar dari Indonesia bisa mencapai sekitar 13 miliar dolar AS apabila terjadi penurunan klasifikasi.
“Mungkin MSCI juga tidak mau disalahkan bahwa dia yang mengakibatkan krisis gitu ya, penyebab krisis, karena memang dampaknya bakal dahsyat sekali," ujar dia.
3. Peran besar penyedia indeks bagi pasar

Tom menjelaskan, perusahaan penyedia indeks memiliki pengaruh besar terhadap aliran investasi global. Menurut dia, banyak manajer investasi tidak dapat menyimpang terlalu jauh dari indeks acuan yang mereka gunakan.
Selain MSCI untuk pasar saham, terdapat pula sejumlah penyedia indeks lain seperti S&P dan FTSE Russell. Sementara untuk pasar obligasi, investor global juga banyak mengacu pada indeks yang disusun oleh JPMorgan maupun Bloomberg.
“Jadi memang sangat-sangat tergantung pada indeks. Dan tentunya oleh index provider ya. Perusahaan seperti MSCI, S&P, FTSE, ya menyediakan indeks atau di pasar obligasi JPMorgan Bond Index, Bloomberg Bond Index, itu kebanyakan pengelola investasi di seluruh dunia ngikutin indeks," ujar Tom.


















