Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Keren, Begini Cara Pertamina Manfaatkan AI untuk Dongkrak EBITDA

Keren, Begini Cara Pertamina Manfaatkan AI untuk Dongkrak EBITDA
Senior Vice President of Pertamina Digital Hub, Sigit Pratopo. (Herka Yanis/IDN Times)
Intinya Sih
5W1H
  • Pertamina memanfaatkan teknologi AI untuk mempercepat transformasi digital dan menargetkan kontribusi finansial hingga 300 juta Dolar AS terhadap EBITDA pada tahun 2027.
  • Penerapan AI dilakukan di seluruh rantai nilai bisnis Pertamina, mulai dari eksplorasi sumber daya alam hingga distribusi bahan bakar, guna meningkatkan efisiensi dan mengurangi kerugian operasional.
  • Program Subsidi Tepat menggunakan AI dengan sistem QR Code untuk mendeteksi anomali pembelian BBM bersubsidi secara real-time, memastikan penyaluran tepat sasaran bagi masyarakat yang berhak.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, IDN Times – PT Pertamina (Persero) terus mengakselerasi transformasi digital melalui pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) untuk mendorong pertumbuhan bisnis dan memberikan dampak finansial yang nyata.

Senior Vice President of Pertamina Digital Hub, Sigit Pratopo, yang hadir dalam Indonesia Summit 2026 mengaku, penerapan teknologi AI di Pertamina bukanlah hal baru. Prosesnya sudah dirintis sejak delapan tahun lalu dan menjadi bagian dari proses panjang dari transformasi digital. Sigit menekankan, pemanfaatan AI dimaksudkan untuk memberi dampak positif bagi Pertamina dan bukan sekadar mengikuti hype populer semata. 

“AI ini bukan hanya teknologi yang di-drive oleh teknologi, tetapi dia di-drive oleh kebutuhan bisnis,” ujar Sigit ketika menjadi narasumber dalam sesi Reinventing Industry: AI, Science, And The Future of Enterprise.

1. AI yang memberikan dampak finansial

ilustrasi artificial intelligence
ilustrasi artificial intelligence (freepik.com/DC Studio)

Lalu dalam jangka panjang, Pertamina juga memproyeksikan pemanfaatan AI dapat memberikan dampak positif pada EBITDA (pendapatan sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi). Sigit menyebut, Pertamina menargetkan sebesar 300 juta Dolar AS bisa tercipta di 2027. Angka ini setara dengan 1-3 persen dari EBITDA Pertamina.

“Kita petakan potensi-potensi dari use case penggunaan AI untuk value chain Pertamina. Mulai dari upstream, dari hulu dan juga sampai ke downstream,” jelasnya. 

Pertamina Digital Factory, program yang berfokus pada pengembangan solusi bisnis berbasis AI dan analitik data, lahir dari target dan visi besar tersebut. Program ini bertujuan untuk menyelesaikan masalah operasional secara menyeluruh, mulai dari identifikasi tantangan hingga peluncuran teknologi yang tepat.

Buah dari transformasi Pertamina pun terasa manis. Dampak finansial yang tercipta di tahun 2025 lalu mencapai 78 juta Dolar AS. Angka ini terlampau jauh diatas target awal yang hanya sebesar 35 juta Dolar AS. Tahun 2026, Pertamina optimis dapat mendongkrak EBITDA hingga 150 juta Dolar AS dan mencapai target penuh sebesar 300 juta Dolar AS di tahun 2027.

2. Penggunaan AI dari hulu ke hilir

IMG-20251204-WA0004.jpg
Pengisian truk Pertamina ke SPBU. Dok. Pertamina Patra Niaga Jatimbalinus.

Adapun, AI saat ini sudah diimplementasikan secara menyeluruh di setiap rantai nilai (value chain) perusahaan, mulai dari sektor upstream (hulu) hingga downstream (hilir). 

Di sektor upstream, AI digunakan untuk proses eksplorasi sumber daya alam. Hasilnya? Tingkat keberhasilan eksplorasi naik 10 persen yang berdampak pada efisiensi biaya.

Lalu, teknologi machine learning juga digunakan untuk mengoptimalkan pipeline distribusi industri gas. "Kemudian yang di downstream lebih (AI) digunakan untuk mengurangi working loss transportasi, crude oil dan bahan bakar minyak. Ini sudah kita deliver dan terverifikasi," tambah Sigit.

3. Contoh nyata penggunaan AI di Subsidi Tepat

DRA_9921 copy.jpg
Senior Vice President of Pertamina Digital Hub, Sigit Pratopo menerima penghargaan. (Herka Yanis/IDN Times)

Dampak nyata dari pemanfaatan teknologi AI ini juga dirasakan langsung oleh masyarakat luas melalui program Subsidi Tepat. Sigit menjelaskan bahwa salah satu tantangan terbesar Pertamina selama ini adalah memastikan bahan bakar bersubsidi benar-benar menyasar kelompok yang berhak menerimanya.

Dengan sistem scan QR Code atau barcode sebelum pembelian, AI dapat menangkap pola anomali secara real-time, seperti pembelian solar atau pertalite yang dilakukan berulang dalam frekuensi tidak wajar. Sistem ini bekerja tanpa perlu campur tangan manual dari awal.

Sigit menyebutnya automated optimization based on available signal. AI mendeteksi sinyal anomali, lalu secara otomatis mengirimkan notifikasi langsung ke petugas lapangan untuk ditindaklanjuti. 

Melalui integrasi data yang akurat ini, AI membantu Pertamina mengambil keputusan lebih cepat, meminimalkan kerugian operasional, sekaligus mendukung ketahanan energi nasional yang adil dan tepat sasaran bagi masyarakat yang membutuhkan. (WEB)

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Evan Yulian
EditorEvan Yulian

Related Articles

See More