Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Mengenal Demerger, Strategi Pecah Perusahaan demi Efisiensi

ilustrasi perusahaan
ilustrasi perusahaan (freepik.com/DC Studio)
Intinya sih...
  • Demerger meningkatkan fokus dan efisiensi bisnis
  • Tiga jenis demerger yang paling umum: spin-off, split-off, liquidation demerger
  • Manfaat dan risiko di balik langkah demerger bagi perusahaan dan pemegang saham
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Demerger dikenal sebagai salah satu bentuk restrukturisasi perusahaan, di mana sebuah bisnis dipecah menjadi beberapa komponen terpisah. Unit-unit tersebut kemudian dapat beroperasi secara mandiri atau dijual maupun dilikuidasi sebagai bagian dari divestasi.

Skema ini memungkinkan perusahaan besar memisahkan merek atau unit bisnis tertentu, baik untuk membuka peluang maupun mencegah akuisisi, menghimpun modal dengan melepas aset non-inti, hingga membentuk entitas hukum berbeda untuk menjalankan operasi yang tidak lagi sejalan dengan bisnis utama.

1. Demerger dinilai tingkatkan fokus dan efisiensi bisnis

ilustrasi perkantoran
ilustrasi perkantoran (unsplash.com/All Bong)

Dilansir Investopedia, dalam praktiknya, demerger dilakukan untuk meningkatkan peluang keberhasilan perusahaan. Restrukturisasi ini memang dapat memunculkan tantangan akuntansi yang kompleks, namun di sisi lain berpotensi menghadirkan manfaat pajak serta efisiensi operasional.

Melalui demerger, perusahaan dapat kembali memfokuskan bisnis pada unit yang paling menguntungkan, menyederhanakan struktur operasional, serta mengurangi risiko usaha. Selain itu, langkah ini juga dinilai mampu menciptakan nilai yang lebih besar bagi pemegang saham, memungkinkan perekrutan tenaga spesialis untuk mengelola unit atau merek tertentu, membuka ruang penghimpunan modal, hingga mencegah pengambilalihan secara tidak bersahabat atau hostile takeover.

Usaha berskala kecil umumnya tidak membutuhkan demerger karena struktur bisnisnya masih sederhana. Namun, seiring pertumbuhan perusahaan dan bertambahnya segmen maupun lini usaha, kompleksitas organisasi meningkat. Dalam kondisi tersebut, demerger kerap dipertimbangkan sebagai opsi penataan ulang bisnis.

Jika terdapat unit usaha dengan kinerja yang membebani keuangan perusahaan secara keseluruhan, unit tersebut dapat dipisahkan melalui spin-off, dijual, atau bahkan dilikuidasi. Bagi perusahaan besar seperti konglomerat, demerger sering digunakan untuk menyederhanakan bisnis, terutama setelah serangkaian akuisisi yang berpotensi mengaburkan arah dan tujuan utama perusahaan.

Selain itu, divestasi unit bisnis juga dipandang sebagai cara praktis untuk menghimpun modal atau mengurangi risiko hostile takeover dengan melepas aset yang dianggap strategis. Faktor lain yang mendorong demerger adalah upaya manajemen mengatasi kerentanan internal sebelum diketahui pasar, serta intervensi pemerintah dalam kasus tertentu, seperti pemecahan monopoli.

2. Tiga jenis demerger yang paling umum

ilustrasi kantor dengan ruangan open space (pexels.com/Thirdman)
ilustrasi kantor dengan ruangan open space (pexels.com/Thirdman)

Secara umum, terdapat berbagai jenis demerger, namun tiga skema berikut paling sering diterapkan dalam praktik korporasi.

Jenis pertama adalah spin-off. Skema ini terjadi ketika perusahaan induk memperoleh kepemilikan saham di perusahaan baru yang setara dengan pengurangan kepemilikannya di perusahaan asal. Saham perusahaan hasil spin-off kemudian diperdagangkan secara terpisah, sehingga investor dapat memilih unit bisnis yang dinilai paling prospektif. Dalam demerger parsial, perusahaan induk masih mempertahankan sebagian kepemilikan di entitas baru tersebut.

Jenis kedua adalah split-off. Mekanisme ini merupakan pengembangan dari spin-off, di mana beberapa unit bisnis dipisahkan sekaligus menjadi entitas yang berbeda. Jika perusahaan induk berstatus terbuka, pemegang saham diberikan opsi untuk menukar saham mereka dengan saham perusahaan-perusahaan baru hasil pemisahan.

Adapun jenis ketiga adalah liquidation demerger. Sesuai namanya, skema ini melibatkan likuidasi unit bisnis tertentu. Aset-aset kemudian dibagi ke perusahaan-perusahaan baru. Model ini biasanya terjadi ketika muncul perbedaan pandangan antara manajemen, dewan direksi, dan pemegang saham terkait arah bisnis, sehingga pemisahan dianggap sebagai jalan keluar untuk mengakomodasi visi masing-masing pihak.

3. Manfaat dan risiko di balik langkah demerger

Ilustrasi Gedung-gedung Perusahaan Modern di Pusat Perkotaan
Ilustrasi Gedung-gedung Perusahaan Modern di Pusat Perkotaan

Demerger memiliki manfaat sekaligus risiko yang perlu diperhitungkan perusahaan dan pemegang saham. Dari sisi kelebihan, peningkatan nilai pemegang saham menjadi salah satu alasan utama penerapan demerger. Investor memperoleh saham di perusahaan baru dan berpeluang mendapatkan keuntungan jika entitas tersebut mencatatkan kinerja positif.

Selain itu, perusahaan hasil demerger memiliki keleluasaan mengendalikan arah bisnisnya sendiri. Mereka dapat mengambil keputusan investasi, menghimpun modal, menjalankan riset dan pengembangan, hingga menentukan strategi pemasaran tanpa bergantung pada persetujuan perusahaan induk.

Namun demikian, demerger juga tidak lepas dari risiko. Proses ini kerap menimbulkan biaya besar dan berpotensi memicu persoalan pajak. Pelaksanaan demerger harus mengikuti prosedur restrukturisasi yang ketat. Jika tidak dipenuhi, entitas baru dapat menghadapi kewajiban pajak tambahan.

Di sisi lain, restrukturisasi perusahaan melalui demerger juga memerlukan persetujuan pemegang saham, mengingat langkah tersebut berdampak langsung pada posisi dan kepentingan finansial mereka. Tanpa dukungan pemegang saham, proses demerger berisiko menghambat rencana pertumbuhan perusahaan ke depan.

Share
Topics
Editorial Team
Sunariyah Sunariyah
EditorSunariyah Sunariyah
Follow Us

Latest in Business

See More

Harga Emas Antam Melesat Rp25 Ribu, Ini Rincian Semua Ukuran

10 Jan 2026, 11:37 WIBBusiness