Danantara Soroti Ketimpangan Rute Garuda-SQ, Bakal Revisi Perjanjian

- BPI Danantara menyoroti ketimpangan rute Indonesia–Singapura, di mana Singapore Airlines terbang hingga delapan kali sehari sementara Garuda Indonesia hanya satu hingga dua kali.
- Rute Indonesia menjadi penyumbang sekitar 65 persen pendapatan Singapore Airlines karena tingginya frekuensi penerbangan dan posisi Singapura sebagai hub internasional utama.
- Pemerintah bersama Danantara menargetkan perbaikan perjanjian udara mulai 2026 untuk menciptakan kesetaraan akses penerbangan dengan negara mitra seperti Singapura, Australia, dan Jepang.
Jakarta, IDN Times - Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) menyoroti ketimpangan rute penerbangan Indonesia-Singapura. Praktik resiprokal saat ini dinilai tidak adil dan hanya menguntungkan Singapore Airlines (SQ).
Singapore Airlines memiliki frekuensi terbang mencapai 6 hingga 8 kali sehari menggunakan pesawat berbadan lebar seperti Airbus A330-300. Sementara itu, Garuda Indonesia hanya melayani 1 sampai 2 kali saja per hari di rute yang sama.
"Kalau Indonesia ke Singapura, Singapura berarti boleh ke Indonesia, Singapore Airlines-nya. Itu selalu risiprokal dan kali ini Indonesia tertindas nih risiprokalnya," kata Managing Director Stakeholders Management Danantara Rohan Hafas dalam diskusi dengan media di Wisma Danantara, Jakarta, Kamis (26/2/2026).
1. Penumpang dari Indonesia jadi sumber pendapatan utama SQ

Rohan menyebut, rute dari Indonesia merupakan penyumbang pendapatan terbesar bagi Singapore Airlines. Dia memperkirakan sekitar 65 persen income maskapai tersebut berasal dari penerbangan intensif dengan rute Indonesia-Singapura.
Menurutnya, Singapore Airlines meraup keuntungan besar dari rute jarak pendek di Indonesia karena persaingan di rute internasional jarak jauh (long haul) sangat berat.
Di jalur menuju New York atau negara lainnya, SQ harus bertarung harga dengan maskapai Timur Tengah seperti Qatar Airways dan Emirates yang membuat margin keuntungan mereka menjadi sangat tipis.
"Selama ini kurang adil seperti yang tadi saya sudah kasih prologue, SQ delapan kali, Garuda dua kali ke Singapura," tuturnya.
2. Singapura jadi hub penerbangan ke berbagai negara

Rohan menjelaskan, tingginya frekuensi penerbangan Singapore Airlines bukan semata-mata karena penumpang ingin berbelanja di Singapura. Dia menilai, Singapura telah berhasil membangun jaringan sebagai hub atau titik transit utama.
Strategi yang digunakan adalah dengan membawa penumpang dari Jakarta ke Singapura menggunakan tarif kompetitif. Nantinya, penumpang tersebut dialirkan ke rute-rute lanjutan seperti Jepang atau Amerika Serikat (AS).
"Jadi bawa penumpang dari Jakarta ke sana, murah, nanti tekornya diambil dari Singapura to New York, Singapura to Japan, dan connecting dia," ujar dia.
3. Danantara targetkan perbaikan perjanjian udara mulai 2026

Untuk mengatasi ketimpangan tersebut, Rohan mengatakan, mulai 2026, pemerintah berkomitmen untuk memperbanyak reciprocal agreement dan memperbaiki kerangka Air Service Agreement (ASA).
Selain Singapura, Indonesia juga akan meninjau ulang dan memperkuat kerja sama penerbangan dengan negara-negara tujuan utama lainnya. Beberapa negara yang menjadi fokus perbaikan perjanjian tersebut, antara lain Australia, Jepang, Belanda, Arab Saudi, hingga Korea Selatan.
"Itu yang harus diperbaiki, itu reciprocal agreement-nya ada. Masing-masing airline itu pasti punya di seluruh dunia juga begitu," katanya.
















