Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
MSCI Pertahankan RI di Negara Berkembang, OJK: Sesuai Harapan
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi. (IDN Times/Pitoko)
  • MSCI mempertahankan status Indonesia sebagai pasar negara berkembang, dan OJK menilai hasil ini sejalan dengan harapan serta menjadi dorongan untuk mempercepat reformasi pasar modal.
  • MSCI menyoroti perlunya peningkatan transparansi kepemilikan saham dan konsistensi implementasi kebijakan agar Indonesia tidak turun ke kategori Frontier Markets pada tinjauan berikutnya.
  • OJK berkomitmen menjaga komunikasi rutin dengan investor global dan lembaga indeks dunia untuk memastikan reformasi pasar modal dipahami serta mendapat dukungan internasional.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
MSCI bilang Indonesia masih jadi negara berkembang, dan orang OJK senang karena itu yang mereka mau. Katanya pasar uang di Indonesia sekarang lebih jelas dan terbuka. Tapi MSCI juga bilang Indonesia harus terus kerja keras biar gak turun jadi negara perintis. Sekarang OJK janji mau terus perbaiki dan ngobrol sama investor supaya semua percaya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) merespons hasil asesmen terbaru MSCI Inc. yang mempertahankan Indonesia pada kelompok pasar negara berkembang atau Emerging Markets.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif Dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi mengatakan hasil asesmen itu sesuai dengan harapan.

“Bagi kami, pengumuman MSCI ini menjadi momentum untuk terus melanjutkan, memperkuat, dan mengakselerasi agenda-agenda reformasi pasar modal yang telah kita canangkan sejak awal tahun ini,” kata Hasan dalam keterangannya, Rabu (24/6/2026).

1. Sebut pasar modal RI makin transparan

Bursa Efek Indonesia (IDN Times/Ridwan Aji Pitoko)

Dalam laporan itu, MSCI Inc. Mengakui sejumlah langkah reformasi yang dilakukan di pasar modal Indonesia oleh OJK, Bursa Efek Indonesia (BEI), dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI).

Setidaknya, ada empat langkah reformasi yang disoroti MSCI. Pertama, peningkatan keterbukaan pemegang saham dengan kepemilikan di atas persen. Kedua, klasifikasi investor yang lebih rinci. Ketiga, penerapan kerangka High Shareholding Concentration (HSC), dan keempat peta jalan peningkatan ketentuan saham yang beredar atau free float minimum menjadi 15 persen.

Hasan mengatakan, langkah itu memang membuat pasar modal Indonesia makin transparan.

“Hal ini menunjukkan bagaimana capaian reformasi kita mendapat recognition yang berarti, sehingga semakin mengukuhkan kredibilitas dan investability pasar modal dalam negeri,” tutur Hasan.

2. OJK tanggapi peringatan MSCI agar RI tak turun kasta ke Frontier Markets

Bursa Efek Indonesia (IDN Times/Ridwan Aji Pitoko)

Di sisi lain, MSCI Inc. juga memberikan peringatan pada pasar modal Indonesia untuk berbenah, terutama dari sisi implementasi keempat kebijakan di atas.

MSCI masih menggarisbawahi keterbukaan struktur kepemilikan saham di BEI yang disebut menjadi kekhawatiran investor internasional. Sebab, hal itu bisa memengaruhi kemampuan investor untuk menakar jumlah saham free foat. Bahkan, ada penekanan soal potensi mengurangi kepercayaan terhadap harga pasar yang terbentuk.

"Meskipun pengumuman tersebut merupakan langkah ke arah yang benar, yang menjadi perhatian utama bagi investor institusi internasional adalah implementasi yang konsisten dan dampak yang berkelanjutan dari berbagai langkah tersebut di seluruh pasar," tulis MSCI.

Jika perbaikan itu tak segera diwujudkan, MSCI mengingatkan Indonesia bisa saja turun kasta dari Emerging Markets ke kelompok pasar negara perintis atau Frontier Markets.

Jika kemajuan yang memadai tidak terlihat pada saat Tinjauan Indeks MSCI (MSCI Index Review) November 2026, MSCI akan mempertimbangkan berbagai opsi perlakuan yang tepat untuk pasar Indonesia, yang berpotensi mencakup konsultasi mengenai reklasifikasi Indonesia dari Pasar Berkembang (Emerging Markets) menjadi Pasar Perintis (Frontier Markets),” tulis MSCI.

Hasan mengatakan, laporan terbaru MSCI memang tak membuat pihaknya berpuas diri. Dia memastikan agenda reformasi pasar modal akan terus lakukan.

“Hal tersebut tentu merupakan bagian dari proses review masing-masing lembaga, kita hargai itu, dan kita memastikan bahwa kita akan terus melaksanakan secara konsisten dan memperkuat seluruh program reformasi pasar modal kita,” ujar Hasan.

3. Bakal komunikasi berkala dengan investor global

Kantor pusat Bank Dunia (World Bank) di Washington DC, Amerika Serikat (AS). (dok. World Bank)

Hasan mengatakan, OJK dan otoritas pasar modal lainnya akan melanjutkan komunikasi dan engagement yang konstruktif dengan lembaga-lembaga global index providers dan juga para investor.

“Untuk memastikan bahwa berbagai reformasi yang telah dan sedang digulirkan dapat dipahami secara komprehensif oleh komunitas investasi global. Kami juga berkomitmen memberikan dukungan bagi mereka dalam melakukan asesmen masing-masing,” ujar Hasan.

Dia juga berkomunikasi secara berkala dengan kalangan investor institusi global (antara lain difasilitasi oleh World Bank, IFC, dan ASIFMA),sehingga dapat menyampaikan dan menjelaskan perkembangan reformasi yang diimplementasikan secara langsung kepada mereka.

“Di samping itu, kita juga membuka ruang untuk menerima masukan serta mendapatkan feedback yang membantu kita melakukan penguatan dalam berbagai aspek di pasar modal,” kata Hasan.

Editorial Team

Related Article