Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Negara Uni Eropa Cari Energi Alternatif akibat Perang Iran
bendera Uni Eropa (unplash.com/ALEXANDRE LALLEMAND)
  • Uni Eropa mengeluarkan biaya tambahan lebih dari 100 miliar euro untuk impor energi sejak perang Iran, setelah penutupan Selat Hormuz mendorong harga bahan bakar hingga hampir 50 persen.
  • Para menteri energi Uni Eropa membahas percepatan elektrifikasi dan penguatan jaringan listrik untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil serta impor energi.
  • Eropa rentan kekurangan diesel menjelang musim dingin karena sekitar 50 persen pasokannya berasal dari Amerika Serikat, di tengah wacana pembatasan ekspor diesel.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Negara-negara Uni Eropa telah mengeluarkan biaya tambahan lebih dari 100 miliar euro atau setara Rp2.030,7 triliun (kurs Rp17.909) untuk impor energi sejak perang Iran meletus. Lonjakan harga yang tajam tersebut mendorong para politisi di kawasan blok 27 negara ini untuk mencari alternatif pengganti bahan bakar fosil.

Komisaris Energi Uni Eropa Dan Jorgensen menyampaikan kondisi tersebut menjelang pertemuan informal menteri energi di Dublin, Irlandia, Selasa (29/9/2026). Penutupan Selat Hormuz telah memicu lonjakan harga bahan bakar di stasiun pengisian hingga hampir 50 persen di sejumlah negara Eropa, yang turut memperberat beban belanja energi kawasan.

1. Lonjakan harga energi tanpa penambahan pasokan gas dan minyak

ilustrasi bahan bakar minyak (pexels.com/Engin Akyurt)

Dilansir Business Standard, konsumen di sejumlah negara Eropa kini harus membayar lebih dari 11 dolar AS atau setara Rp196.999 per galon bahan bakar di stasiun pengisian. Dan Jorgensen menegaskan dalam pertemuan di Dublin tersebut bahwa situasi saat ini tergolong serius. "Kita kini telah melampaui 100 miliar euro biaya tambahan yang kita bayarkan untuk energi tahun ini tanpa menerima satu pun molekul gas atau minyak ekstra," kata dia.

Jorgensen menjelaskan bahwa para menteri berkumpul untuk membahas rencana aksi elektrifikasi dan perundingan paket jaringan listrik guna mempercepat peralihan dari bahan bakar fosil ke listrik. Ketergantungan langsung kawasan terhadap impor energi dari Amerika Serikat meningkat pesat setelah Uni Eropa mengakhiri ketergantungan historis pada Rusia akibat invasi ke Ukraina pada 2022. Pembengkakan biaya impor tanpa adanya penambahan volume pasokan ini dinilai semakin mempertegas perlunya kemandirian pasokan di dalam kawasan.

2. Kerentanan pasokan diesel dan wacana larangan ekspor AS

ilustrasi stasiun pengisian bahan bakar (pexels.com/Derwin Edwards)

Direktur Eksekutif International Energy Agency Fatih Birol mengingatkan bahwa Uni Eropa sangat rentan terhadap gangguan pasokan bahan bakar diesel menjelang musim dingin. Sekitar 50 persen kebutuhan pasokan diesel kawasan tersebut didatangkan langsung dari Amerika Serikat. "Eropa merupakan salah satu kawasan yang paling rentan—jika bukan yang paling rentan—dalam hal solar, karena Eropa mengimpor solar dalam jumlah yang sangat besar dan kita sedang memasuki musim yang berat, yaitu musim dingin," ujar Birol.

Kekhawatiran bertambah saat politisi Partai Republik di negara bagian utama Amerika Serikat menyerukan larangan ekspor diesel demi menjaga pasokan domestik jelang pemilu sela. Dorongan pelarangan tersebut menimbulkan keraguan terhadap kesepakatan tahun 2025 era Presiden Donald Trump untuk menjual energi senilai 750 miliar dolar AS atau setara Rp13.431,75 triliun ke Uni Eropa. Berdasarkan laporan OMM, Jorgensen mengungkapkan rasa leganya karena Menteri Energi Amerika Serikat Chris Wright secara terbuka telah menyatakan dirinya tidak mendukung wacana pembatasan ekspor diesel tersebut.

3. Peluang elektrifikasi mandiri dan antisipasi risiko musim dingin

ilustrasi reaktor nuklir (unsplash.com/Nicolas HIPPERT)

Menteri Iklim, Energi, dan Lingkungan Hidup Irlandia Darragh O'Brien menilai pemberlakuan larangan ekspor oleh Amerika Serikat kecil kemungkinannya terjadi karena akan merugikan perekonomian di kedua sisi Atlantik. Kendati demikian, dia menegaskan bahwa Uni Eropa tetap harus bersiap menghadapi kemungkinan terburuk dan tidak boleh lengah. "Kita harus waspada. Kita tidak boleh berpuas diri," ucap O'Brien dalam pertemuan di Dublin tersebut.

Jorgensen menegaskan bahwa Eropa saat ini tidak sedang menghadapi krisis keamanan pasokan, tetapi musim dingin mendatang membawa tantangan berat yang harus diantisipasi. Dia mendorong negara anggota melepaskan ketergantungan impor dan mengganti molekul fosil berbiaya mahal dengan elektron hijau mandiri. Sementara itu, Menteri Lingkungan Hidup Finlandia Sari Multala menunjukkan bahwa reaktor nuklir, turbin, lahan gambut, dan bendungan air telah memasok 95 persen listrik di negaranya sehingga mampu menjaga harga listrik tetap wajar bagi warga.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article