Nestle PHK 16 Ribu Karyawan Global demi Efisiensi Bisnis

- Nestle memperkenalkan sistem evaluasi kinerja baru dengan enam level penilaian, mengaitkan bonus karyawan pada pencapaian target pertumbuhan volume penjualan untuk memperkuat budaya akuntabilitas dan kolaborasi internal.
- Perusahaan akan memangkas 16 ribu posisi global dalam dua tahun demi efisiensi organisasi, penghematan biaya hingga 3 miliar franc Swiss, serta percepatan pengambilan keputusan di tengah tantangan pasar global.
- Nestle memusatkan fokus pada empat pilar bisnis utama—kopi, perawatan hewan peliharaan, nutrisi dan kesehatan, serta makanan dan camilan—serta melepas unit es krim dan air minum kemasan non-strateg
Jakarta, IDN Times - Perusahaan raksasa makanan asal Swiss, Nestle, secara resmi mengumumkan pemberlakuan sistem pengukuran kinerja baru yang lebih ketat bagi seluruh karyawannya, pada Rabu (25/2/2026). Kebijakan ini dirancang untuk memberikan tekanan lebih besar kepada pekerja yang tidak mencapai target yang telah ditetapkan.
Langkah tersebut merupakan bagian dari upaya transformasi yang dipimpin oleh CEO Philipp Navratil untuk memulihkan pertumbuhan volume penjualan dan meningkatkan efisiensi operasional di tengah persaingan pasar global yang semakin menantang.
Philipp Navratil, yang menjabat sebagai pimpinan tertinggi sejak September tahun lalu, berambisi untuk merevitalisasi kondisi perusahaan melalui restrukturisasi besar-besaran, termasuk pemangkasan 16 ribu posisi pekerjaan. Saat ini, fokus Nestle diarahkan pada empat pilar bisnis utama sambil melepas aset-aset non-strategis, seperti lini bisnis es krim, air minum kemasan, dan beberapa merek vitamin tertentu.
1. Nestle kaitkan bonus karyawan dengan target pertumbuhan volume penjualan

Nestle secara resmi merombak total kerangka evaluasi kinerjanya dengan menambah tingkatan penilaian dari tiga menjadi enam level. Langkah ini diambil untuk menciptakan pembedaan yang lebih tajam antara karyawan berprestasi tinggi dan rendah. Karyawan yang meraih predikat "teladan" akan mendapatkan insentif finansial hingga 150 persen dari target bonus mereka, meningkat dari batas sebelumnya yang hanya 130 persen. Sebaliknya, bagi mereka yang kinerjanya dianggap "tidak memuaskan", perusahaan memberikan konsekuensi keras berupa bonus minimal yang hanya berkisar antara 0 hingga 50 persen.
Penerapan standar yang lebih ketat ini bertujuan untuk menumbuhkan budaya akuntabilitas yang lebih kuat, di mana setiap individu dituntut memberikan dampak nyata bagi keuntungan perusahaan. CEO Nestle, Philipp Navratil, menekankan bahwa mekanisme penghargaan ini sangat penting untuk mendukung target pertumbuhan internal riil atau Real Internal Growth (RIG).
"Kami telah menjadikan RIG sebagai syarat utama dalam pemberian bonus. Ini merupakan batas minimal yang harus dipenuhi agar bonus tersebut dapat dicairkan," kata Navratil.
Langkah strategis ini juga menghubungkan bonus para pemimpin fungsional dengan kinerja grup secara keseluruhan untuk mendorong kolaborasi lintas departemen. Melalui penyederhanaan proses evaluasi dan umpan balik, Nestle berharap dapat menciptakan sistem yang transparan sekaligus memotivasi talenta terbaik.
"Inti dari budaya kinerja kami adalah memastikan hanya karyawan berprestasi yang tetap dipertahankan, sementara mereka yang kinerjanya buruk tidak akan dipertahankan lagi di perusahaan," kata Navratil.
2. Nestle pangkas 16 ribu karyawan demi hemat biaya dan efisiensi organisasi

Nestle mengumumkan rencana pengurangan 16 ribu tenaga kerja global atau sekitar 6 persen dari total karyawannya. Langkah yang dilakukan secara bertahap selama dua tahun ke depan ini bertujuan untuk mempercepat proses pemulihan perusahaan. Pengurangan tersebut mencakup 12 ribu posisi di sektor korporat yang tersebar di berbagai wilayah, serta 4 ribu posisi di unit manufaktur dan rantai pasokan. Selain itu, Nestle menaikkan target penghematan biaya operasional menjadi 3 miliar franc Swiss (Rp65,5 triliun) pada akhir tahun 2027.
Keputusan besar ini diambil untuk menyederhanakan struktur organisasi yang dinilai terlalu kompleks dan lamban dalam merespons perubahan tren konsumen global. CEO Nestle, Philipp Navratil, menekankan bahwa langkah ini sangat diperlukan agar perusahaan menjadi lebih lincah dan mampu mengambil keputusan dengan cepat tanpa hambatan birokrasi.
"Dunia terus berubah, dan Nestle harus bergerak lebih cepat. Hal ini termasuk mengambil keputusan sulit untuk mengurangi jumlah karyawan dalam dua tahun ke depan," ujar Navratil, dilansir The Straits Times.
Restrukturisasi ini juga memprioritaskan pemanfaatan teknologi otomatisasi untuk meningkatkan efisiensi di berbagai lini bisnis. Navratil mengakui bahwa luasnya cakupan bisnis Nestle sering kali menjadi hambatan dalam mencapai produktivitas maksimal, sehingga penyederhanaan peran menjadi agenda utama.
Pemangkasan biaya ini tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan margin keuntungan, tetapi juga untuk memberikan ruang finansial bagi investasi pemasaran dan inovasi produk unggulan. Selain tantangan internal, Nestle saat ini menghadapi tekanan eksternal berupa kenaikan harga bahan baku seperti kopi dan kakao, serta kebijakan tarif perdagangan internasional. Dengan merampingkan organisasi, manajemen berharap dapat melindungi profitabilitas perusahaan sembari tetap menawarkan harga yang kompetitif bagi para pelanggan di seluruh dunia.
3. Nestle fokus pada empat pilar bisnis utama dan lepas unit es krim

Nestle secara resmi menetapkan empat pilar utama sebagai penggerak pertumbuhan perusahaan di masa depan, yaitu kopi, perawatan hewan peliharaan, nutrisi dan kesehatan, serta makanan dan camilan. Sebagai langkah nyata, perusahaan melepas unit bisnis yang dinilai kurang strategis, termasuk rencana penjualan bisnis es krim di luar AS kepada mitra ventura, Froneri.
Strategi ini diambil agar Nestle dapat mengelola sumber daya dengan lebih efisien pada kategori produk yang memberikan keuntungan paling besar. CEO Nestle, Philipp Navratil, menjelaskan bahwa bisnis es krim memiliki kerumitan pada rantai pasok dan permintaan musiman yang tidak sejalan dengan prioritas perusahaan saat ini.
Selain es krim, Nestle juga sedang dalam proses melepaskan portofolio air minum kemasan premium, seperti Sanpellegrino dan Perrier, serta meninjau penjualan beberapa merek vitamin tertentu. Penyederhanaan ini juga terlihat dari pengurangan jumlah merek yang didukung oleh promosi media, dari semula 400 merek menjadi hanya 150 merek pada tahun 2026.
Rangkaian strategi ini diharapkan dapat memperkuat kondisi keuangan perusahaan dan mengurangi beban utang yang mencapai 51,4 miliar franc Swiss (Rp1,1 kuadriliun) pada akhir tahun 2025. Dengan fokus pada empat pilar utama, Nestle menargetkan pertumbuhan organik sebesar 3 hingga 4 persen pada tahun 2026 melalui inovasi produk yang relevan dengan kebutuhan konsumen modern.

















