Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Nvidia Siapkan Dana US$500 Miliar untuk AI, Uangnya untuk Apa Saja?
ilustrasi Nvdia (unsplash.com/BoliviaInteligente)
  • Nvidia menggandeng Apollo, BlackRock, Blackstone, Brookfield, Goldman Sachs, dan KKR untuk menghimpun lebih dari 500 miliar dolar AS bagi pembiayaan infrastruktur AI.

  • Dana investor ditujukan untuk pembangunan pusat data, pembelian GPU dan server, serta kebutuhan jaringan, pendingin, bangunan, dan pasokan listrik skala besar.

  • Skema pembiayaan membantu perusahaan memperoleh modal atau kapasitas komputasi, tetapi investor menghadapi risiko penurunan nilai GPU saat generasi chip baru muncul.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Nvidia tengah menggandeng sejumlah raksasa keuangan untuk menghimpun lebih dari 500 miliar dolar AS atau sekitar Rp8.000 triliun sebagai pembiayaan infrastruktur akal imitasi (AI). Dana tersebut bukan uang yang langsung dikeluarkan Nvidia, melainkan modal dari investor dan perusahaan keuangan yang akan digunakan untuk membiayai pembangunan infrastruktur AI.

Kerja sama ini melibatkan enam perusahaan besar, yaitu Apollo, BlackRock, Blackstone, Brookfield, Goldman Sachs, dan KKR. Langkah ini menunjukkan bahwa kebutuhan AI tidak lagi hanya soal membeli chip, tetapi juga membutuhkan pusat data, server, jaringan, dan listrik dalam skala besar.

Nvidia bahkan ingin menjadikan fasilitas komputasi AI sebagai aset yang bisa dibiayai layaknya infrastruktur seperti pembangkit listrik atau jalan tol. Lantas, dana sebesar itu akan digunakan untuk membiayai apa saja?

1. Membangun pusat data AI

ilustrasi pusat data (magnific.com/DC Studio)

Sebagian dana tersebut akan digunakan untuk membangun pusat data yang menjadi tempat berbagai sistem AI beroperasi. Fasilitas ini membutuhkan bangunan khusus yang mampu menampung ribuan chip, server, dan perangkat pendukung lainnya. Semakin banyak perusahaan menggunakan AI, semakin besar pula kebutuhan terhadap pusat data dengan kemampuan komputasi tinggi.

Nvidia bekerja sama dengan Apollo, BlackRock, Blackstone, Brookfield, Goldman Sachs, dan KKR untuk membentuk platform pembiayaan tersebut. Modal yang dihimpun nantinya dapat dipinjamkan kepada perusahaan yang membutuhkan dana untuk membangun pusat data AI. Skema ini juga dapat membantu perusahaan rintisan yang belum memiliki cukup uang untuk membangun fasilitas sendiri.

2. Membeli GPU dan server

ilustrasi server (pexels.com/Christina Morillo)

Dana tersebut juga dapat digunakan untuk membeli GPU, server, dan berbagai perangkat yang dibutuhkan untuk menjalankan AI. GPU merupakan salah satu komponen penting karena digunakan untuk melatih dan menjalankan berbagai model AI. Nvidia menjadi salah satu pemain terbesar dalam bisnis GPU AI sehingga meningkatnya pembangunan pusat data juga dapat meningkatkan permintaan terhadap produknya.

Besarnya kebutuhan tersebut terlihat dari harga sewa GPU Nvidia H100 yang meningkat dari sekitar 1,70 dolar AS per jam pada akhir 2025 menjadi 2,35 dolar AS per jam pada 2026. Kenaikan tersebut menunjukkan bahwa kapasitas komputasi AI semakin banyak dibutuhkan oleh perusahaan. Nvidia pun melihat perangkat tersebut bukan sekadar barang elektronik, tetapi aset yang dapat menghasilkan pendapatan selama digunakan.

3. Menyediakan jaringan dan listrik

ilustrasi artificial intelligence (freepik.com/DC Studio)

Membangun pusat data AI tidak cukup hanya dengan membeli chip dan server. Fasilitas tersebut juga membutuhkan perangkat jaringan, bangunan, sistem pendingin, serta pasokan listrik dalam jumlah besar. Semua kebutuhan tersebut membutuhkan biaya yang tidak sedikit sehingga ikut menjadi bagian dari investasi infrastruktur AI.

Besarnya kebutuhan modal terlihat dari perkiraan Bank of America yang menyebut perusahaan teknologi besar seperti Amazon dan Alphabet dapat menghabiskan sekitar 860 miliar dolar AS untuk belanja modal AI pada 2026. Angka tersebut diperkirakan meningkat menjadi US$1,2 triliun pada 2027. Artinya, kebutuhan investasi AI secara keseluruhan jauh lebih besar dibandingkan angka 500 miliar dolar AS yang sedang ditargetkan Nvidia bersama para mitranya.

4. Membantu perusahaan mendapatkan modal

ilustrasi menghitung uang (pexels.com/Tima Miroshnichenko)

Skema ini juga ditujukan untuk perusahaan yang ingin menggunakan teknologi AI tetapi tidak memiliki cukup uang untuk membeli seluruh perangkat yang dibutuhkan. Mereka dapat memperoleh pinjaman untuk membangun pusat data atau membeli kapasitas komputasi dari penyedia layanan AI. Cara ini membuat perusahaan dapat menggunakan teknologi AI tanpa harus menanggung seluruh biaya pembangunan sejak awal.

Namun, pembiayaan tersebut juga memiliki risiko bagi investor. GPU dapat kehilangan nilai ketika generasi chip baru muncul sehingga nilainya tidak selalu bertahan selama bangunan atau infrastruktur lainnya. Karena itu, investor perlu memastikan pendapatan dari penggunaan GPU cukup untuk membayar pinjaman sebelum perangkat tersebut menjadi usang.

Rencana Nvidia menunjukkan bahwa perkembangan AI kini membutuhkan modal dalam jumlah yang sangat besar. Perusahaan tidak hanya ingin menjual chip, tetapi juga membantu menciptakan sistem pembiayaan agar pembangunan infrastruktur AI dapat terus berkembang. Meski peluang bisnisnya besar, investor tetap perlu memperhatikan risiko karena teknologi AI berkembang sangat cepat dan perangkat yang digunakan hari ini bisa kehilangan nilai ketika teknologi baru muncul.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article