ilustrasi UMKM (IDN Times/Aditya Pratama)
Berdasarkan paparan BI, pangsa kredit UMKM terhadap total kredit perbankan pada April 2026 tercatat sebesar 17,16 persen, turun dibandingkan posisi Desember 2025 sebesar 17,59 persen, dan Desember 2024 yang mencapai 19,24 persen. Penurunan terjadi hampir di seluruh kelompok bank.
Pada kelompok bank BUMN, pangsa kredit UMKM turun dari 25,66 persen pada Desember 2024 menjadi 22,23 persen pada April 2026. Sementara pada bank swasta nasional (BUSN), pangsa kredit UMKM turun dari 13,51 persen menjadi 12,28 persen.
Adapun pada kelompok Bank Pembangunan Daerah (BPD), porsi kredit UMKM juga menyusut dari 18,42 persen menjadi 17,71 persen pada periode yang sama. Selain kredit UMKM, BI juga mencermati kenaikan NPL pada kredit konsumsi, khususnya kredit pemilikan rumah (KPR) nonsubsidi yang menunjukkan tren meningkat meski masih berada di bawah level 5 persen.
"Tapi ini hal-hal yang perlu kita terus Cermati ya terkait dengan tren peningkatan NPL baik di sisi UMKM KPR yang nonsubsidi," ujarnya.
Di sisi lain, BI memastikan kondisi perbankan nasional masih kuat ditopang permodalan yang tinggi. Modal bank dinilai mampu menjadi shock absorber terhadap berbagai risiko yang berkembang di sektor keuangan.
“Permodalan bank kita tinggi, sehingga diharapkan bisa menyerap risiko-risiko yang berkembang,” ujarnya.
BI juga menyebut kemampuan bayar sektor korporasi masih terjaga. Hal itu tercermin dari debt at risk yang menurun serta interest coverage ratio (ICR) korporasi yang dinilai masih baik.