Apa Itu Doom Spending? Mengenal Fenomena Belanja Impulsif

- Doom spending adalah perilaku belanja impulsif akibat stres dan kecemasan ekonomi, marak di kalangan Gen Z dan milenial yang menganggap belanja sebagai bentuk self-reward atau self-care.
- Fenomena ini dipicu oleh ketidakpastian ekonomi, tekanan media sosial, serta budaya FOMO yang mendorong individu untuk mengikuti tren demi rasa bahagia sesaat.
- Doom spending berdampak pada psikologis, keuangan, dan hubungan sosial; cara mengatasinya termasuk mindful spending, membatasi akses aplikasi belanja, aturan 48 jam, dan alihkan stres ke aktivitas positif.
Apa itu doom spending? Doom spending adalah perilaku berbelanja secara impulsif yang diakibatkan oleh rasa cemas dan stres di tengah ketidakpastian ekonomi.
Fenomena ini banyak terjadi pada generasi Z dan milenial yang cenderung menempatkan kebahagiaan dan kenyamanan sebagai prioritas melalui mindset “self-reward” atau “self-care”.
Kalau kamu sering kalap belanja saat mood lagi gak bagus, kamu nggak sendirian. Yuk, intip penjelasan doom spending berikut ini!
Table of Content
1. Pengertian apa itu doom spending

Doom spending adalah sebuah fenomena di mana seseorang melakukan pembelian secara berlebihan di saat situasi ekonomi atau kehidupan pribadi sedang tidak pasti. Kebiasaan ini marak terjadi di kalangan generasi Z dan milenial akibat kemudahan berbelanja yang ditawarkan di era digital ini.
Istilah doom spending ini juga menggambarkan perilaku berbelanja atau konsumsi yang impulsif, tidak terkendali dan sering terjadi akibat adanya emosi negatif seperti rasa cemas, stres atau rasa takut menghadapi masa depan. Berbelanja sering kali dianggap sebagai salah satu cara untuk healing, meskipun faktanya, apabila dilakukan secara berlebihan, dapat memperburuk masalah ekonomi yang ada.
2. Kenapa fenomena ini marak di kalangan Gen Z dan Milenial

Fenomena doom spending yang terjadi pada generasi Z dan milenial dapat terjadi akibat beberapa faktor, salah satunya karena generasi ini tumbuh di tengah berbagai krisis ekonomi, mulai dari pandemi, inflasi, resesi, hingga ketidakpastian lapangan kerja. Kondisi ini akan menimbulkan kesan bahwa masa depan sulit diprediksi.
Faktor lain yang memperkuat fenomena doom spending ini adalah adanya tekanan dari media sosial dan budaya FOMO. Dengan melihat gaya hidup orang lain yang tampak ideal dan up-to-date, seseorang bisa merasa tertinggal sehingga akan muncul dorongan untuk selalu mengikuti tren.
Selain itu, doom spending juga berkaitan dengan adanya faktor coping mechanism terhadap kecemasan masa depan. Saat sedang cemas, setiap orang memiliki keputusan yang berbeda, namun sebagian orang memilih untuk berbelanja untuk menciptakan rasa bahagia sesaat.
3. Dampak buruk doom spending

Fenomena doom spending ini tidak boleh disepelekan karena memiliki dampak negatif yang dapat memengaruhi kehidupanmu sehari-hari. Yuk, simak penjelasannya lebih lanjut.
1. Dampak psikologis
Doom spending biasanya menjadi cara pelarian sementara untuk meredakan rasa cemas dan memberikan rasa bahagia sesaat. Namun, perilaku ini apabila semakin berlebihan dapat memperburuk kondisi psikologis seseorang akibat rasa cemas baru yang muncul akibat penyesalan maupun gangguan finansial.
2. Penumpukan utang
Kebiasaan berbelanja atau melakukan konsumsi yang berlebihan dapat membuat pengeluaranmu menjadi tidak terkendali dan membuatmu tergoda untuk menggunakan kartu kredit ataupun berutang. Akibatnya, beban finansialmu akan semakin berat dan mengganggu kestabilan ekonomimu.
3. Hubungan sosial yang terganggu
Fenomena ini juga berdampak buruk pada hubungan sosialmu. Terutama apabila pengeluaranmu membludak dan memperburuk kondisi ekonomi keluargamu sehingga menimbulkan ketegangan dalam hubungan keluarga.
4. Produktivitas menurun
Doom spending biasanya dilakukan sebagai bentuk pelarian dari stres dan kecemasan. Apabila tidak dapat dikelola dengan baik, hal ini bisa mengganggu fokus dan konsentrasi sehari-hari, sehingga produktivitasmu menurun.
5. Kecemasan Finansial
Sayangnya, berbelanja untuk mengurangi stres justru membawa tekanan baru bagi kehidupan finansialmu. Pengeluaran yang tidak terkendali akan membuat kamu terperangkap dalam siklus yang berulang sehingga kamu akan sulit keluar dari situ dan dapat menambah stres finansialmu.
4. Cara mengatasi dan keluar dari lingkaran doom spending

Setelah memahami dampak negatif dari doom spending, penting bagi kamu untuk mengetahui cara menghadapi dan menghentikan kebiasaan ini. Dengan strategi yang tepat, kamu bisa keluar dari lingkaran doom spending ini.
1. Mindful spending
Mindful spending berarti kamu harus mempertimbangkan pembelianmu sebelum kamu benar-benar membelinya. Tanyakan pada diri sendiri apakah barang tersebut sangat diperlukan atau hanya sekadar keinginan sesaat saja.
2. Batasi akses ke aplikasi belanja dan fitur paylater
Cobalah untuk membatasi akses ke aplikasi belanja, misalnya, hanya 1 jam per hari. Jangan lupa juga untuk mematikan fitur paylater untuk menghindari kamu melakukan pembelian impulsif di kemudian hari.
3. Terapkan aturan 48 Jam sebelum membeli
Sebelum kamu memutuskan untuk membeli sesuatu, kamu perlu memberi dirimu waktu 48 jam untuk melakukan pertimbangan. Aturan ini membantu kamu untuk tidak melakukan pembelian impulsif.
4. Alihkan pemicu stres ke aktivitas non-konsumtif
Terakhir, saat kamu sedang stres atau cemas, coba alihkan fokusmu dengan melakukan kegiatan lain yang menyenangkan, seperti berolahraga, melakukan aktivitas hobi, meditasi, atau bercerita dengan teman. Dengan cara ini kamu dapat merasakan lega secara psikologis tanpa harus menambah beban finansial.
Itulah penjelasan mengenai apa itu doom spending, alasan fenomena ini marak di kalangan Gen Z dan Milenial, dampak buruk doom spending, hingga cara mengatasi dan keluar dari lingkaran doom spending. Dengan pemahaman ini, kamu bisa lebih bijak dalam mengelola pengeluaran dan mengurasi stres finansialmu.











![[QUIZ] Di Umur Berapa Kamu Akan Punya Uang Rp100 Juta? Cari Tahu di Quiz Ini!](https://image.idntimes.com/post/20241011/vitaly-taranov-ocrpjce6gpk-unsplash-2d56ee26a574eaf2b00cefe4e3b89b72.jpg)






