ilustrasi rupiah melemah (IDN TImes/Aditya Pratama)
Di sisi lain, besarnya pasar dalam negeri tidak otomatis membuat mata uang menjadi kuat. Menurut Didik, struktur ekonomi Indonesia yang terlalu bertumpu pada pasar domestik membuat sektor eksternal belum cukup kuat untuk menopang rupiah.
Indonesia memang sudah tergolong sebagai ekonomi skala besar (large economy) dengan pasar domestik yang luas. Namun, besarnya skala ekonomi tersebut belum diikuti dengan penguatan sektor luar negeri.
Menurut Didik, struktur ekonomi Indonesia masih lemah dari sisi eksternal sehingga rupiah tetap rentan terhadap tekanan.
"Kepemimpinan baru ini diperkirakan juga tidak akan bisa mengubah struktur ekonomi ini," ungkapnya.
Didik melihat salah satu persoalan mendasar ekonomi Indonesia adalah orientasi yang terlalu mengandalkan pasar domestik atau inward looking.
Dengan populasi sekitar 293 juta jiwa dan pasar domestik yang besar, pelaku usaha nasional memiliki ruang untuk tumbuh tanpa harus agresif menembus pasar internasional.
Kondisi tersebut memang dapat mendorong konsumsi, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan produk domestik bruto (PDB). Namun, perputaran ekonomi domestik terutama menghasilkan transaksi dalam rupiah dan tidak secara langsung menambah pasokan devisa.
"Untuk menjadikan nilai tukar stabil dan kuat, orientasi kebijakan harus diubah menjadi berorientasi keluar atau outward looking," jelasnya.
Indonesia, kata Didik, perlu memperkuat sektor yang menghasilkan pendapatan dari luar negeri, terutama ekspor, investasi asing, pariwisata, serta sumber devisa lainnya.
Tanpa peningkatan pasokan devisa, rupiah akan tetap rentan karena kebutuhan dolar AS untuk impor, pembayaran utang luar negeri, dan transaksi internasional terus berjalan.