Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Pergantian Bos BI Tak Banyak Ubah Nasib Rupiah, Ini Alasannya
Ilustrasi Rupiah Melemah ke USD (Foto: ANTARA)
  • Ekonom Didik J. Rachbini menilai pergantian kepemimpinan BI kepada Destry Damayanti belum cukup mengubah fundamental rupiah, yang diperkirakan tetap tertekan dan melemah dalam lima tahun.
  • Pasar domestik Indonesia yang besar dinilai belum menopang rupiah karena sektor eksternal lemah; penguatan ekspor, investasi asing, pariwisata, dan sumber devisa diperlukan.
  • BI dinilai selama ini mengandalkan suku bunga saat rupiah melemah, padahal kebijakan itu berdampak pada usaha dan investasi serta tidak mengatasi masalah struktural seperti kepastian hukum dan daya saing.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Pergantian kepemimpinan Bank Indonesia (BI) yang kini dinakhodai Destry Damayanti setelah menjalani uji kepatutan dan kelayakan atau fit and proper test pada pekan lalu dinilai belum cukup untuk mengubah fundamental nilai tukar rupiah dalam lima tahun ke depan.

Ekonom senior Didik J. Rachbini memperkirakan rupiah masih akan berada dalam tekanan dan cenderung melemah dalam lima tahun mendatang.

Menurut Didik, persoalan rupiah tidak semata-mata bersumber dari kebijakan moneter BI. Tekanan terhadap rupiah juga dipengaruhi berbagai faktor struktural, terutama lemahnya sektor eksternal Indonesia.

"Lima tahun mendatang rupiah tetap tidak akan menguat, akan tetap lemah dan bahkan terus melemah," ujar Didik dalam keterangannya, dikutip Senin (31/8/2026).

1. Kepemimpinan Destry di BI tak banyak ubah sistem moneter dan rupiah

Calon Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menjalani Fit and Proper Test di Komisi XI. (IDN Times/Triyan).

Menurutnya, kepemimpinan baru BI tidak akan banyak mengubah sistem moneter yang selama ini berjalan. Selain faktor internal BI, terdapat berbagai faktor eksternal yang turut menjadi kendala bagi stabilitas nilai tukar.

"Jadi kepemimpinan baru saya prediksi tidak akan banyak mengubah sistem moneter dan rupiah," ungkapnya.

2. Pasar domestik besar tak jamin rupiah kuat

ilustrasi rupiah melemah (IDN TImes/Aditya Pratama)

Di sisi lain, besarnya pasar dalam negeri tidak otomatis membuat mata uang menjadi kuat. Menurut Didik, struktur ekonomi Indonesia yang terlalu bertumpu pada pasar domestik membuat sektor eksternal belum cukup kuat untuk menopang rupiah.

Indonesia memang sudah tergolong sebagai ekonomi skala besar (large economy) dengan pasar domestik yang luas. Namun, besarnya skala ekonomi tersebut belum diikuti dengan penguatan sektor luar negeri.

Menurut Didik, struktur ekonomi Indonesia masih lemah dari sisi eksternal sehingga rupiah tetap rentan terhadap tekanan.

"Kepemimpinan baru ini diperkirakan juga tidak akan bisa mengubah struktur ekonomi ini," ungkapnya.

Didik melihat salah satu persoalan mendasar ekonomi Indonesia adalah orientasi yang terlalu mengandalkan pasar domestik atau inward looking.

Dengan populasi sekitar 293 juta jiwa dan pasar domestik yang besar, pelaku usaha nasional memiliki ruang untuk tumbuh tanpa harus agresif menembus pasar internasional.

Kondisi tersebut memang dapat mendorong konsumsi, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan produk domestik bruto (PDB). Namun, perputaran ekonomi domestik terutama menghasilkan transaksi dalam rupiah dan tidak secara langsung menambah pasokan devisa.

"Untuk menjadikan nilai tukar stabil dan kuat, orientasi kebijakan harus diubah menjadi berorientasi keluar atau outward looking," jelasnya.

Indonesia, kata Didik, perlu memperkuat sektor yang menghasilkan pendapatan dari luar negeri, terutama ekspor, investasi asing, pariwisata, serta sumber devisa lainnya.

Tanpa peningkatan pasokan devisa, rupiah akan tetap rentan karena kebutuhan dolar AS untuk impor, pembayaran utang luar negeri, dan transaksi internasional terus berjalan.

3. Saat rupiah melemah, BI hanya andalkan kenaikan suku bunga acuan

Pejabat Gubernur Sementara Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti memimpin perdama Rapat Perdana Dewan Gubernur (RDG) BI. (Dok/Istimewa)

Didik menilai BI selama ini cenderung mengandalkan instrumen suku bunga untuk merespons tekanan terhadap rupiah.

Ketika rupiah melemah tajam, BI dapat menaikkan suku bunga untuk meningkatkan daya tarik aset keuangan domestik bagi investor asing. Imbal hasil yang lebih tinggi diharapkan dapat menarik aliran modal masuk ke Indonesia.

Namun, kebijakan tersebut memiliki konsekuensi terhadap perekonomian domestik.

"Biaya transaksi di Indonesia sangat tinggi dengan carut-marut hukum, sosial politik dan kebijakan yang rumit. Ini juga berdampak negatif pada dunia usaha, kredit perumahan (KPR), dan investasi domestik," ucapnya.

Sebaliknya, jika suku bunga diturunkan terlalu cepat, investor berpotensi mengalihkan dananya ke aset berdenominasi dolar AS.

"Menjaga nilai tukar hanya dengan memainkan instrumen suku bunga tidak akan menjadikan nilai tukar lebih kuat," kata Didik.

Menurut dia, persoalan seperti rendahnya kepastian hukum, korupsi, tingginya biaya transaksi, serta kondisi sosial-politik juga memengaruhi minat investasi dan pada akhirnya berdampak terhadap aliran devisa.

"Faktor lain yang berasosiasi dengan investasi dan produksi tidak mendukung, seperti kepercayaan terhadap hukum rendah, korupsi, dan sektor luar negeri lemah karena daya saing rendah," ungkapnya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article