Aida Ungkap Tantangan Rupiah di 2026 dalam Fit and Proper Test

- Calon Deputi Gubernur Senior BI Aida S. Budiman menilai stabilitas rupiah pada 2026 semakin menantang akibat ketidakpastian global yang cepat mengubah persepsi investor.
- BI tidak membidik level kurs tertentu, melainkan mencegah overshooting dengan menjaga pergerakan rupiah sekitar 10 persen dari moving average dan mengikuti tren pasar.
- Perang Timur Tengah serta kenaikan minyak menekan transaksi berjalan, namun aliran finansial kuartal II membantu menjaga defisit 3,3 persen PDB dan rupiah di Rp17.800-Rp17.900 per dolar AS.
Jakarta, IDN Times - Calon tunggal Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Aida S. Budiman menyebut tantangan menjaga stabilitas rupiah pada 2026 semakin berat, seiring ketidakpastian global yang tinggi membuat persepsi investor berubah dengan cepat dan menekan pergerakan nilai tukar.
"Apabila pasokan itu tidak banyak, sementara permintaannya banyak, tentunya harganya akan mengalami perubahan atau mengalami perubahan dengan depresiasi. Kalau (suplai) tidak besar daripada demandnya," tegas Aida dalam fit and proper test, Rabu (26/8/2026).
1. BI tidak menargetkan rupiah pada level tertentu

ilustrasi 100 dolar AS (pexels.com/Engin Akyurt) Ia menjelaskan, BI tidak menargetkan rupiah pada level tertentu. Fokus bank sentral adalah menjaga stabilitas pergerakan nilai tukar agar tidak mengalami overshooting atau pelemahan yang terlalu dalam dibandingkan kondisi fundamentalnya.
Menurutnya, ketika aliran modal asing menguat, pasokan valuta asing meningkat sehingga rupiah memiliki ruang untuk terapresiasi. Sebaliknya, ketika aliran modal tertekan, rupiah akan mengalami tekanan depresiasi.
"Yang dijaga oleh Bank Indonesia adalah stabilitasnya. Yang dimaksud dengan stabilitas di sini adalah supaya trennya itu tidak overshooting," jelas Aida.
2. BI menjaga pergerakan rupiah 10 persen

ilustrasi rupiah melemah (IDN TImes/Aditya Pratama) Untuk menjaga stabilitas tersebut, Aida mengatakan BI berupaya mempertahankan pergerakan rupiah di sekitar 10 persen dari moving average. Langkah ini dilakukan agar pelemahan rupiah tidak bergerak terlalu jauh dari tren pasar.
"Jadi kami jaga sekitar 10 persenan moving average-nya, supaya tidak overshooting," ungkapnya.
3. Sederet tantangan yang menekan rupiah beberapa waktu terakhir

ilustrasi rupiah melemah (IDN TImes/Aditya Pratama) Namun, Aida menekankan BI tidak dapat menghilangkan tren yang terbentuk di pasar. Jika pasar menunjukkan kecenderungan rupiah terdepresiasi, bank sentral akan memastikan pelemahannya tidak berlangsung secara berlebihan.
"Trend daripada pasar itu tidak bisa kita hindari. Apabila pasar itu trennya terdepresiasi, yang penting jangan terdepresiasi terlalu tinggi," katanya.
Menurut Aida, upaya tersebut penting untuk memberikan kepastian kepada pelaku pasar. Dengan pergerakan yang lebih stabil, nilai tukar dapat menjadi anchor bagi pelaku ekonomi dalam mengambil keputusan.
"Yang paling utama, sehingga terjadi kepastian dan akibatnya pelaku pasar pun kemudian bisa menggunakan nilai tukar ini sebagai anchor," ujar Aida.
Aida membeberkan laju rupiah semakin berat akibat ketidakpastian global. Salah satu tekanan datang dari perang di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga minyak sekaligus mengubah persepsi investor.
"2026 ini tantangan yang sangat berat, Pak. Betul-betul sangat berat, karena kita tidak pernah tahu pada saat itu terjadi perang Timur Tengah dan itu semua persepsinya berubah. Harga-harga minyak mengalami peningkatan," kata Aida.
Kenaikan harga minyak tersebut turut memberikan tekanan terhadap transaksi berjalan Indonesia. Namun, Aida mengatakan aliran finansial yang cukup kuat pada kuartal II 2026 membantu meredam tekanan tersebut.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat defisit transaksi berjalan tetap dapat dijaga di sekitar 3,3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).
"Adanya warna biru yang lumayan tinggi di kuartal II, makanya 3,3 persen current account deficit yang biasanya itu sudah membuat inflasi menjadi kalang-kabut, alhamdulillah bisa terjaga," ujarnya.
Aida menambahkan, kondisi tersebut turut mendukung pergerakan rupiah yang mulai lebih stabil di kisaran Rp17.800-Rp17.900 per dolar AS.
"Pelan-pelan nilai tukar tadi sudah mengalami gerakan yang cukup stabil, Rp17.800-Rp17.900. Itu yang kami sebut dengan penjagaan," jelasnya.
Selain menjaga nilai tukar, Aida menekankan pentingnya pengendalian inflasi. Pasalnya, pelemahan rupiah dapat meningkatkan harga barang, terutama barang impor, dan pada akhirnya memberikan tekanan terhadap inflasi.
Karena itu, BI berupaya menjaga inflasi tetap berada dalam sasaran yang telah disepakati bersama Kementerian Keuangan.
"Inilah mengapa inflasi itu dicoba untuk selalu dalam target yang sudah disetujui antara Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan," jelas Aida.


















