Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Prabowo Mau Bikin Bensin dari Batu Bara, Ekonom: Mahal

3 min read
Prabowo Mau Bikin Bensin dari Batu Bara, Ekonom: Mahal
ilustrasi harga BBM (IDN Times/Aditya Pratama)
  • Ekonom Unpad Yayan Satyakti menilai bensin dari batu bara belum ekonomis karena biaya produksinya sekitar Rp14.400 per liter, lebih mahal daripada bensin impor pada harga minyak normal.

  • Bensin batu bara diperkirakan baru kompetitif bila harga minyak bertahan di atas 115–135 dolar AS per barel; bahkan pada 120 dolar AS, keuntungannya masih tipis.

  • Dibanding pabrik batu bara, perluasan kilang, campuran etanol, dan kendaraan listrik dinilai sebagai alternatif pengurangan impor bensin, meski masing-masing memiliki tantangan tersendiri.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Rencana membuat bensin dari batu bara dinilai belum menjadi pilihan yang lebih ekonomis untuk mengurangi impor bahan bakar minyak (BBM). Bensin dari batu bara dinilai masih lebih mahal dibandingkan bensin impor pada harga minyak normal.

Ekonom energi Universitas Padjadjaran (Unpad) Yayan Satyakti mengatakan, pilihan tersebut juga membutuhkan modal lebih besar dibandingkan perluasan kilang dan waktu pengembangannya lebih panjang dibandingkan etanol atau kendaraan listrik.

"Bensin batu bara lebih mahal daripada bensin impor pada harga minyak normal, membutuhkan modal lebih besar daripada perluasan kilang, dan datang lebih lambat daripada etanol atau kendaraan listrik," kata dia kepada IDN Times, Sabtu (26/9/2026).

  1. 1. Harga belum mampu bersaing dengan bensin impor

    ilustrasi BBM (IDN Times/Aditya Pratama)
    ilustrasi BBM (IDN Times/Aditya Pratama)

    Yayan menghitung biaya produksi bensin dari batu bara di gerbang pabrik sekitar Rp14.400 per liter, dengan kisaran Rp10.100 hingga Rp18.500 per liter. Perhitungan tersebut menggunakan harga batu bara pada September 2026.

    Sebagai pembanding, biaya bensin impor diperkirakan sekitar Rp9.800 per liter saat harga minyak berada di 75 dolar AS per barel. Pada harga minyak 106 dolar AS per barel, biaya bensin impor diperkirakan sekitar Rp13.300 per liter.

    "Bensin batu bara baru bersaing jika harga minyak bertahan di atas sekitar 115-135 dolar AS per barel selama umur pabrik," ujar dia.

    Yayan juga menguji skenario ketika harga minyak naik menjadi 120 dolar AS per barel mulai 2030 dan bertahan pada level tersebut. Tanpa mandat pemerintah, kapasitas pabrik bensin dari batu bara dalam model tersebut hanya tumbuh hingga sekitar 46 ribu barel per hari.

    Setelah itu, kapasitasnya menyusut karena kenaikan biaya dalam negeri ikut menekan keekonomian pabrik. Bahkan pada harga minyak 120 dolar AS per barel, bensin dari batu bara hanya berada pada kondisi nyaris menguntungkan.

  2. 2. BBM etanol dan kendaraan listrik jadi pilihan

    ilustrasi BBM (IDN Times/Aditya Pratama)
    ilustrasi BBM (IDN Times/Aditya Pratama)

    Yayan kemudian membandingkan kebutuhan modal pabrik bensin dari batu bara dengan pilihan lain untuk menggantikan impor bensin.

    Untuk setiap satu juta kiloliter impor bensin yang digantikan per tahun, pabrik bensin dari batu bara membutuhkan modal sekitar 1,8 miliar hingga 2,5 miliar dolar AS. Sementara itu, perluasan kilang Balikpapan dalam perhitungan Yayan membutuhkan sekitar 1,28 miliar dolar AS dan telah diresmikan pada Januari 2026.

    Dua pilihan lain yang dibandingkan adalah etanol dan kendaraan listrik. Untuk etanol, pemerintah menargetkan penerapan E10 pada 2027 dan E20 pada 2028. Berdasarkan perhitungan Yayan, penerapan tersebut akan menggantikan sekitar 3,9 juta hingga 7,7 juta kiloliter bensin per tahun.

    Volume tersebut setara atau lebih besar dibandingkan penggantian impor bensin melalui pabrik batu bara dalam perhitungan Yayan. Namun, penerapan etanol masih menghadapi persoalan ketersediaan bahan baku, seperti tebu, singkong, dan jagung.

    Sementara itu, konversi motor dan kendaraan ke tenaga listrik dapat langsung mengurangi permintaan bensin tanpa perlu membangun pabrik bahan bakar baru.

    Yayan mencatat kilang Balikpapan tetap membutuhkan minyak mentah dan sebagian kebutuhan tersebut masih diimpor. Karena itu, manfaatnya terhadap ketahanan energi berbeda dengan produksi bensin dari batu bara.

    "Perbandingan etanol dan kendaraan listrik di sini bersifat kualitatif karena belum dihitung dalam model kami," tuturnya.

  3. 3. Prabowo ingin buat bensin dari batu bara

    Presiden RI, Prabowo Subianto memberikan pidato dalam dalam Sidang Tahunan MPR dan Sidang Bersama DPR dan DPD 2026 di Gedung DPR/MPR RI, Jak
    Presiden RI, Prabowo Subianto memberikan pidato dalam dalam Sidang Tahunan MPR dan Sidang Bersama DPR dan DPD 2026 di Gedung DPR/MPR RI, Jakarta Pusat, Jumat (14/8/2026). (Youtube.com/Sekretariat Presiden)

    Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan rencana pemanfaatan batu bara untuk menghasilkan bensin. Pernyataan itu disampaikan dalam Resepsi Kesyukuran 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor di Ponorogo, Jawa Timur, Sabtu (19/9/2026).

    Prabowo saat itu juga menyampaikan akademisi Indonesia telah mengembangkan bahan bakar dari kelapa sawit, termasuk solar dan bensin. Dia kemudian menyebut batu bara sebagai salah satu sumber yang akan dikembangkan untuk menghasilkan bensin.

    "Profesor-profesor kita yang pintar, yang benar pintarnya, ya, bukan yang profesor tadi itu, dari fakultas-fakultas teknik kita, sudah berhasil bikin solar dari kelapa sawit dan sudah bisa membikin bensin dari kelapa sawit. Dan, kita juga nanti akan bikin juga, bensin dari batu bara," kata Prabowo.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More