Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Psikologi Ungkap 5 Alasan Orang Kaya Tetap Suka Belanja di Thrift Shop

Psikologi Ungkap 5 Alasan Orang Kaya Tetap Suka Belanja di Thrift Shop
ilustrasi belanja, thrift shop, thrift store, bekas, preloved (unsplash.com/Hugo Clément)
Intinya Sih
  • Banyak orang kaya tetap berbelanja di thrift shop karena peduli lingkungan dan ingin memperpanjang umur pakaian agar limbah tekstil berkurang.
  • Thrift shopping jadi sarana mengekspresikan gaya pribadi, menghadirkan keunikan serta identitas berbeda lewat koleksi vintage dan edisi terbatas.
  • Aktivitas thrifting kini dianggap bagian dari gaya hidup kreatif yang menonjolkan nilai, pengalaman berburu seru, dan kecintaan pada fesyen autentik.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Masih banyak orang yang menganggap thrift shop identik dengan upaya menghemat pengeluaran. Padahal, anggapan tersebut sudah gak sepenuhnya tepat, lho.

Kini, banyak orang dengan kondisi finansial mapan justru sengaja berburu pakaian bekas berkualitas meski mereka mampu membeli produk baru kapan saja. Dari sudut pandang psikologi, keputusan itu ternyata dipengaruhi oleh berbagai faktor selain harga, mulai dari kepedulian terhadap lingkungan hingga keinginan mengekspresikan diri.

Sejumlah penelitian juga menunjukkan thrift shopping telah berubah menjadi bagian dari gaya hidup dan cara seseorang menunjukkan nilai yang mereka yakini. Itulah sebabnya gak sedikit orang kaya yang tetap menikmati pengalaman berbelanja di thrift shop.

Table of Content

1. Peduli terhadap lingkungan

1. Peduli terhadap lingkungan

ilustrasi thrift store (pexels.com/cottonbro studio)
ilustrasi thrift store (pexels.com/cottonbro studio)

Bagi sebagian orang, membeli pakaian bekas merupakan bentuk kepedulian terhadap lingkungan. Mereka menyadari, industri fesyen membutuhkan banyak bahan baku, air, dan energi untuk memproduksi pakaian baru. Dengan membeli barang bekas yang masih layak pakai, umur suatu produk menjadi lebih panjang sehingga jumlah limbah tekstil yang berpotensi mencemari lingkungan dapat dikurangi.

Hal tersebut didukung oleh penelitian dalam jurnal Entrepreneurial Business and Economics Review berjudul The Role of Environmental Concern in Explaining Attitude Towards Second-Hand Shopping. Penelitian terhadap 841 responden di Spanyol dan Polandia menunjukkan, orang yang memahami dampak lingkungan dari konsumsi pakaian baru cenderung memiliki pandangan yang lebih positif terhadap belanja barang bekas.

Para peneliti juga menyimpulkan, edukasi mengenai manfaat membeli produk bekas lebih efektif mendorong perilaku tersebut dibanding sekadar menumbuhkan rasa bersalah atau tekanan sosial.

2. Ingin menunjukkan gaya yang lebih personal

ilustrasi outfit, personal style, stylish
ilustrasi outfit, personal style, stylish (pexels.com/cottonbro studio)

Banyak orang memilih thrift shop karena ingin tampil berbeda dari kebanyakan orang. Di sana, kamu bisa menemukan pakaian vintage, koleksi lama, hingga barang edisi terbatas yang sudah gak diproduksi lagi. Kesempatan memiliki produk yang unik inilah yang membuat pengalaman berbelanja terasa lebih menarik dibanding membeli pakaian yang diproduksi secara massal.

Temuan dalam Journal of Retailing and Consumer Services tahun 2022 memperlihatkan, pembeli pakaian bekas memiliki beragam motivasi, seperti kesadaran terhadap lingkungan, nostalgia, gaya pribadi, serta kecintaan terhadap fesyen. Studi yang melibatkan 515 responden perempuan tersebut juga menemukan semakin sering seseorang berbelanja barang bekas, semakin kuat pula keinginan mereka untuk mengekspresikan identitas melalui pilihan pakaian. Hal ini menunjukkan, aktivitas thrifting juga berkaitan erat dengan kebutuhan individu untuk merasa unik dan berbeda dari orang lain.

3. Fashion tetap menjadi daya tarik utama

ilustrasi belanja, thrift shop, thrift store, bekas, preloved
ilustrasi belanja, thrift shop, thrift store, bekas, preloved (pexels.com/Anastasiya Badun)

Masih ada anggapan orang yang mengikuti tren fesyen pasti lebih suka membeli koleksi terbaru di pusat perbelanjaan. Faktanya, banyak pencinta mode justru menikmati proses mencari pakaian yang memiliki karakter dan cerita tersendiri. Mereka rela meluangkan waktu demi menemukan jaket vintage, tas klasik, atau pakaian bermerek yang sudah sulit ditemukan di toko biasa.

Hal tersebut sejalan dengan penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Retailing and Consumer Services melalui artikel The Role of Fashionability in Second-hand Shopping Motivations. Hasil penelitian menunjukkan, sekitar 83 persen pembeli barang bekas memiliki motivasi yang berkaitan dengan fesyen. Para peneliti menjelaskan, thrift shopping telah mengalami perubahan makna, dari yang dulu identik dengan keterbatasan ekonomi menjadi bagian dari kreativitas, orisinalitas, dan cara seseorang membangun identitas melalui gaya berpakaian.

4. Pengalaman berbelanjanya terasa lebih seru

ilustrasi belanja, thrift shop, thrift store, bekas, preloved
ilustrasi belanja, thrift shop, thrift store, bekas, preloved (pexels.com/cottonbro studio)

Berbeda dengan toko pakaian pada umumnya, koleksi di thrift shop selalu berubah dari waktu ke waktu. Kamu gak pernah benar-benar tahu barang apa yang akan ditemukan saat datang berkunjung. Justru ketidakpastian itulah yang membuat banyak orang merasa penasaran dan ingin terus kembali berburu.

Penelitian dalam Journal of Retailing and Consumer Services tahun 2022 menjelaskan frekuensi seseorang berbelanja pakaian bekas berkaitan dengan semakin kuatnya motivasi yang mereka rasakan, termasuk karena aspek gaya hidup, nostalgia, dan pengalaman berbelanja itu sendiri. Kondisi tersebut membuat aktivitas thrifting bukan sekadar menjadi proses membeli barang, tapi juga pengalaman yang menyenangkan ketika berhasil menemukan produk unik yang sesuai dengan selera pribadi. Hal ini juga menjelaskan mengapa banyak orang merasa ketagihan untuk kembali berburu di thrift shop.

5. Nilai sebuah barang lebih penting daripada harganya

ilustrasi belanja, thrift shop, thrift store, bekas, preloved
ilustrasi belanja, thrift shop, thrift store, bekas, preloved (pexels.com/cottonbro studio)

Memiliki penghasilan besar gak selalu membuat seseorang ingin membeli barang baru. Sebagian orang justru lebih menghargai kualitas, keunikan, dan cerita yang melekat pada suatu produk. Sebuah jaket vintage yang masih terawat, misalnya, bisa terasa lebih bernilai dibanding pakaian baru yang diproduksi dalam jumlah sangat banyak.

Temuan dari Journal of Retailing and Consumer Services tahun 2016 maupun 2022 menunjukkan, pembeli barang bekas bukan semata-mata didorong oleh keinginan menghemat uang. Kesadaran terhadap lingkungan, minat pada fesyen, nostalgia, dan keinginan menampilkan gaya yang berbeda menjadi faktor penting dalam keputusan mereka. Karena itulah banyak orang yang sebenarnya mampu membeli barang baru tetap merasa lebih puas ketika menemukan produk bekas yang sesuai dengan nilai, selera, dan kepribadian mereka.

Belanja di thrift shop kini telah menjadi lebih dari sekadar cara menghemat pengeluaran. Berbagai penelitian menunjukkan, kepedulian terhadap lingkungan, keinginan tampil lebih autentik, kecintaan pada fesyen, hingga pengalaman berburu barang unik menjadi alasan utama mengapa banyak orang kaya tetap menyukai pakaian bekas.

Fenomena ini juga memperlihatkan keputusan membeli gak selalu ditentukan oleh kemampuan finansial, tapi juga oleh nilai dan pengalaman yang ingin diperoleh. Jadi, jika kamu masih menganggap thrift shopping hanya dilakukan karena keterbatasan uang, mungkin sudah saatnya melihat tren ini dari sudut pandang yang lebih luas.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Curated For You
Topics
Editorial Team
Jujuk Ernawati
EditorJujuk Ernawati

Related Articles

See More