Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo dalam Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2025 di JiExpo, Kemayoran, Jakarta, Rabu (8/10/2025).
Sementara itu, Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, mengatakan, pergerakan rupiah yang melemah dalam akhir-akhir ini disebabkan oleh faktor global dan domestik. Salah satu sentimen dari dalam negeri adalah persepsi pasar terhadap kondisi fiskal Indonesia dan proses pencalonan Deputi Gubernur Bank Indonesia.
"Terkait dengan pencalonan Deputi Gubernur BI, kami tegaskan proses ini sudah sesuai dengan undang-undang tata kelola yang berlaku dan tidak mempengaruhi independensi Bank Indonesia. Kami tetap menjaga pelaksanaan tugas dan kewenangan Bank Indonesia dengan profesional dan tata kelola yang kuat," kata Perry dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (21/1/2026).
Di samping itu, Perry menyoroti aliran modal asing yang turut mempengaruhi sentimen pasar. Dia mengatakan tingginya permintaan valuta asing (valas) dari perusahaan-perusahaan besar seperti Pertamina, PLN, dan Danantara yang turut berkontribusi pada aliran modal keluar.
Perry juga menyoroti adanya aliran arus modal keluar (net outflow) yang signifikan turut mempengaruhi nilai tukar rupiah. Data hingga 19 Januari 2026 menunjukkan, arus modal keluar bersih mencapai 1,6 miliar dolar AS. Hal ini, kata dia, sebagian besar dipicu oleh perpindahan modal dari pasar negara berkembang (emerging market) ke negara maju, termasuk Amerika Serikat.
Perry juga menjelaskan tekanan terhadap rupiah datang dari faktor eksternal seperti ketidakpastian geopolitik, kebijakan tarif Amerika Serikat, serta imbal hasil US Treasury yang tinggi untuk tenor dua dan tiga tahun, turut memberikan dampak besar pada penguatan dolar AS.
"Pelemahan nilai tukar rupiah ini disebabkan oleh sejumlah faktor global, antara lain ketegangan geopolitik, kebijakan tarif dari Amerika, serta tingginya yield US Treasury, baik untuk tenor dua tahun maupun tiga tahun. Selain itu, kemungkinan kecilnya penurunan suku bunga Federal Reserve juga memberi tekanan," tegasnya.
Pergerakan nilai tukar atau kurs rupiah ditutup menguat tipis pada akhir perdagangan, Kamis (22/1/2025). Berdasarkan data Bloomberg, rupiah menguat ke level Rp16.896 per dolar AS. Rupiah tercatat menguat 40 poin atau 0,24 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.