Kenapa Rupiah Terpuruk meski Dolar AS Melemah? Ini Penyebab Utamanya

- Rupiah sensitif terhadap sentimen global dan domestik.
- Defisit anggaran memicu kekhawatiran fiskal dan arus keluar dana asing.
- Kekhawatiran terhadap independensi bank sentral dan permintaan dolar meningkat jelang Ramadan.
Belakangan ini kamu mungkin heran melihat pergerakan nilai tukar rupiah. Logikanya, saat dolar AS melemah, mata uang negara berkembang seharusnya ikut bernapas lega. Fakta di lapangan justru berbeda, rupiah malah menyentuh level terendah sepanjang sejarah.
Kondisi ini bikin banyak orang bertanya-tanya soal apa sebenarnya penyebabnya. Apakah masalah global, atau justru ada persoalan serius di dalam negeri. Lewat artikel ini, kamu bakal melihat gambaran utuh kenapa rupiah tetap terpuruk meski dolar AS sedang tidak perkasa.
1. Sensitivitas rupiah terhadap sentimen global dan domestik

Rupiah sejak lama dikenal sensitif terhadap perubahan sentimen pasar global. Saat kondisi keuangan dunia tak pasti, arus modal cenderung keluar dari negara berkembang. Aset berisiko mulai ditinggalkan, termasuk mata uang. Dampaknya, rupiah mudah tertekan meski dolar AS sedang melemah.
Faktor dalam negeri ikut memperbesar tekanan tersebut. Pasar gak hanya melihat kondisi global, tapi juga menilai stabilitas ekonomi nasional. Ketika muncul ketidakpastian kebijakan, reaksi pasar biasanya cepat. Kombinasi sentimen global dan domestik membuat rupiah kehilangan momentum penguatan.
2. Defisit anggaran memicu kekhawatiran fiskal

Defisit anggaran Indonesia pada 2025 tercatat mendekati batas maksimum yang diatur undang-undang. Angka ini menjadi sorotan karena jarang terjadi di luar masa krisis besar. Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran soal keberlanjutan fiskal. Persepsi risiko pun meningkat di mata investor.
Kekhawatiran itu mendorong arus keluar dana asing dari pasar obligasi. Penjualan Surat Berharga Negara oleh investor asing meningkatkan permintaan dolar AS. Tekanan terhadap rupiah pun makin kuat. Situasi ini menjelaskan kenapa nilai tukar tetap melemah meski dolar global sedang turun.
3. Kekhawatiran terhadap independensi bank sentral

Pasar keuangan sangat memperhatikan posisi dan independensi bank sentral. Nominasi kerabat presiden ke jajaran Bank Indonesia memicu kekhawatiran baru. Isu tersebut menimbulkan persepsi potensi campur tangan politik dalam kebijakan moneter. Sentimen ini langsung tercermin pada pergerakan pasar.
Kekhawatiran semakin besar setelah muncul wacana peran Bank Indonesia dalam mendukung program pemerintah. Meski sudah ada penegasan bahwa kebijakan moneter tetap independen, pasar tetap bersikap hati-hati. Kepercayaan yang goyah membuat rupiah sulit menguat. Stabilitas institusi menjadi faktor penting dalam menjaga nilai tukar.
4. Permintaan dolar meningkat jelang Ramadan

Tekanan rupiah juga datang dari faktor musiman yang terjadi hampir setiap tahun. Menjelang Ramadan, aktivitas impor biasanya meningkat. Kebutuhan bahan pangan, barang konsumsi, dan logistik melonjak. Kondisi ini otomatis meningkatkan permintaan dolar AS.
Lonjakan permintaan dolar tersebut memberi tekanan tambahan pada rupiah. Dalam situasi normal, efeknya mungkin terbatas. Namun, ketika sentimen pasar sudah negatif, dampaknya terasa lebih besar. Faktor musiman akhirnya mempercepat pelemahan nilai tukar.
5. Kebijakan suku bunga membatasi ruang stabilisasi

Bank Indonesia telah menurunkan suku bunga sejak 2024 untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Kebijakan ini membantu aktivitas ekonomi, tapi punya konsekuensi pada nilai tukar. Selisih imbal hasil dengan negara lain menjadi lebih sempit. Daya tarik aset rupiah pun berkurang.
Di sisi lain, pengetatan suku bunga berisiko menekan pertumbuhan. Bank sentral berada di posisi sulit dalam menentukan arah kebijakan. Menahan suku bunga dipilih untuk menjaga keseimbangan. Situasi ini menunjukkan keterbatasan ruang gerak dalam menjaga stabilitas rupiah.
6. Dampak pelemahan rupiah terhadap ekonomi

Hingga saat ini, pelemahan rupiah belum berdampak besar pada inflasi. Harga-harga masih berada dalam kisaran target bank sentral. Kondisi ini memberi sedikit ruang aman bagi daya beli masyarakat. Namun, risiko tetap ada jika pelemahan berlanjut.
Sektor yang bergantung pada impor mulai menghadapi tekanan biaya. Industri farmasi, kosmetik, dan baja termasuk yang paling terdampak. Beban subsidi energi dan pembayaran utang luar negeri pemerintah juga berpotensi meningkat. Tekanan lanjutan bisa mempersempit ruang fiskal ke depan.
Pelemahan rupiah di tengah melemahnya dolar AS bukan terjadi tanpa alasan. Faktor domestik seperti defisit anggaran, isu kelembagaan, dan kebutuhan dolar musiman memegang peran besar.
Kondisi ini menegaskan bahwa nilai tukar bukan hanya ditentukan oleh arah mata uang global. Kepercayaan pasar terhadap stabilitas kebijakan dalam negeri menjadi kunci utama. Selama faktor-faktor tersebut belum sepenuhnya mereda, rupiah masih akan menghadapi tekanan.


















