Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Rupiah Jeblok ke Rp18.014 Akibat Tensi AS-Iran Memanas
ilustrasi rupiah melemah (IDN TImes/Aditya Pratama)
  • Rupiah melemah ke Rp18.014 per dolar AS akibat meningkatnya ketegangan militer antara Amerika Serikat dan Iran yang memicu kekhawatiran pasokan energi global.
  • Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS serta ketidakpastian arah kebijakan The Fed di bawah Ketua baru Kevin Warsh turut menekan nilai tukar rupiah.
  • Rupiah diperkirakan masih bergerak fluktuatif namun cenderung melemah pada perdagangan berikutnya, dengan kisaran Rp18.010 hingga Rp18.060 per dolar AS.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Hari ini uang rupiah jadi lemah banget, satu dolar Amerika jadi Rp18.014. Katanya gara-gara Amerika dan Iran lagi berantem di laut, ada kapal diserang. Orang-orang takut minyak susah dikirim. Terus bunga uang di Amerika juga naik. Sekarang rupiah masih turun dan bisa makin lemah besok katanya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Nilai tukar atau kurs rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Rabu (8/7/2026). Rupiah tembus ke level Rp18 ribuan sore ini.

Berdasarkan data Bloomberg, mata uang Garuda melemah sebesar 34 poin atau 0,19 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya, dan parkir di level Rp18.014 per dolar AS.

1. Pelemahan rupiah dipicu konflik militer AS-Iran

Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menyatakan, Komando Pusat AS (Centcom) telah memulai serangan ke Iran guna membalas tindakan Teheran terhadap pelayaran komersial. Kembalinya keributan di Selat Hormuz memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi di Timur Tengah.

Serangan tersebut terjadi setelah AS mencabut izin penjualan minyak internasional Iran, yang berpotensi memperketat pasar minyak.

Iran dilaporkan menyerang kapal-kapal di Selat Hormuz minggu ini, sehingga meningkatkan ketidakpastian jalur laut strategis tersebut dan membuat kelanjutan pembicaraan perdamaian kedua negara menjadi tidak pasti.

"Babak permusuhan terbaru berpotensi merusak kesepakatan tersebut, dengan pembicaraan perdamaian di masa depan antara kedua negara kini tampak tidak pasti," kata Ibrahim.

2. Imbal hasil obligasi AS dan FOMC juga jadi sentimen negatif

Faktor lain penekan rupiah adalah naiknya imbal hasil atau keuntungan obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun sebesar 5,5 basis poin menjadi 4,525 persen .

Menurut CME FedWatch Tool, pasar ragu akan ada kenaikan suku bunga bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) pada Juli, namun peluang kenaikan di bulan September mendekati 60 persen.

Para pelaku pasar kini menanti rilis notulen rapat kebijakan moneter atau risalah FOMC Juni pada Kamis dini hari pukul 01.00 WIB untuk membaca arah kebijakan The Fed di bawah Ketua baru Kevin Warsh.

"Sementara nada komunikasi di bawah Ketua baru Kevin Warsh juga akan menjadi fokus perhatian," ujar Ibrahim.

3. Pelemahan rupiah diprediksi berlanjut

Pada perdagangan sore ini, rupiah ditutup melemah 34 poin ke level Rp18.014 setelah sempat tertekan hingga 35 poin dari penutupan sebelumnya di level Rp17.980 per dolar AS.

Untuk perdagangan Kamis (9/7/2026), mata uang rupiah diproyeksikan bergerak fluktuatif namun tetap ditutup melemah di rentang Rp18.010 hingga Rp18.060 per dolar AS.

Editorial Team

Related Article