MIND ID Daur Ulang Lebih dari 1 Juta Ton Material Sisa pada 2025

MIND ID berhasil memanfaatkan lebih dari 1 juta ton material sisa pada 2025 melalui skema reuse, recycle, dan recovery yang menurunkan timbulan limbah padat hingga 11,3 persen dibanding tahun sebelumnya.
Pakar energi UI menilai pengelolaan limbah terstruktur menjadi kunci good mining practice karena memastikan setiap jenis limbah memiliki jejak pengelolaan jelas dari sumber hingga tahap akhir.
Anggota MIND ID seperti ANTAM, INALUM, dan TIMAH menerapkan ekonomi sirkular dengan mengolah slag nikel, tailing emas, serta scrap aluminium menjadi bahan baku baru bernilai ekonomi tinggi.
Jakarta, IDN Times - MIND ID Grup terus memperkuat penerapan ekonomi sirkular di sektor pertambangan dengan memanfaatkan kembali lebih dari 1 juta ton material sisa sepanjang 2025. Langkah tersebut dilakukan melalui skema reuse, recycle, dan recovery untuk mengurangi timbulan limbah sekaligus meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya.
Berdasarkan Laporan Keberlanjutan MIND ID 2025, penerapan strategi tersebut turut menurunkan timbulan limbah padat sebesar 11,3 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
1. MIND ID manfaatkan lebih dari 1 juta ton material sisa

Sepanjang 2025, MIND ID berhasil mengalihkan 82.876 ton limbah padat bahan berbahaya dan beracun (B3) serta 946.733 ton limbah padat non-B3 dari tempat pembuangan akhir melalui berbagai skema pemanfaatan kembali. Secara keseluruhan, jumlah material sisa yang berhasil dimanfaatkan mencapai lebih dari 1 juta ton.
Seiring meningkatnya pemanfaatan tersebut, total timbulan limbah padat MIND ID Grup turun dari 1.306.835,91 ton pada 2024 menjadi 1.159.049,16 ton pada 2025.
Penurunan juga terjadi pada dua kategori utama, yakni limbah padat B3 yang berkurang dari 270.478,08 ton menjadi 208.441,10 ton, serta limbah padat non-B3 yang turun dari 1.036.357,83 ton menjadi 950.608,06 ton.
2. Praktik pertambangan berkelanjutan

Pakar Energi Departemen Teknik Sistem Energi Fakultas Teknik Universitas Indonesia, Eko Adhi Setiawan, mengatakan sistem pengelolaan limbah yang terstruktur menjadi salah satu fondasi penting dalam penerapan good mining practice.
"Menurut saya, sistem pengelolaan limbah yang terstruktur sangat penting karena dalam operasi tambang risiko terbesar bukan hanya pada volume limbah, tetapi pada putusnya rantai pengelolaan," kata Eko.
Ia menjelaskan setiap jenis limbah, baik limbah B3, limbah cair, residu proses, sludge, oli bekas, kemasan bahan kimia, maupun limbah non-B3 membutuhkan jejak pengelolaan yang jelas, mulai dari asal limbah, penyimpanan, pengangkutan, pengolahan, hingga bukti akhir pengelolaannya.
Menurut Eko, pendekatan ekonomi sirkular menunjukkan bahwa limbah kini tidak lagi hanya dipandang sebagai material yang harus dibuang, tetapi juga memiliki potensi untuk dimanfaatkan kembali.
"Limbah tidak hanya dilihat sebagai isu toksisitas yang harus diamankan, tetapi juga sebagai material stream yang perlu diklasifikasi," ujarnya.
3. Manfaatkan limbah menjadi bahan baku baru
Penerapan ekonomi sirkular juga dilakukan oleh berbagai anggota MIND ID melalui pemanfaatan material sisa hasil proses produksi.
PT Aneka Tambang Tbk (ANTAM), misalnya, memanfaatkan slag nikel sebagai bahan konstruksi Pomalaa Beton (POTON) untuk kebutuhan jalan dan konstruksi internal. ANTAM juga mengolah tailing emas menjadi Green Fine Aggregate (GFA), sementara Fly Ash and Bottom Ash (FABA) dimanfaatkan bersama slag nikel sebagai bahan baku beton.
Di sisi lain, PT Indonesia Asahan Aluminium (INALUM) menggunakan kembali internal scrap dari proses peleburan dan pengecoran aluminium untuk mengurangi kebutuhan bahan baku primer berupa alumina.
Sementara itu, PT TIMAH Tbk mengelola Sisa Hasil Pengolahan (SHP) menggunakan metode gravitasi, kemagnetan, dan konduktivitas listrik. Pada 2025, SHP tercatat mencapai 1.506,06 ton ore dan masih memiliki potensi dipulihkan melalui proses lanjutan (tin gain).
Menurut Eko, pendekatan tersebut menunjukkan bahwa sebagian material sisa masih memiliki nilai ekonomi dan dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku sekunder maupun substitusi material bagi industri lain.
"Beberapa material sisa dapat memiliki nilai sebagai bahan baku sekunder, substitusi material, atau input untuk industri lain," pungkas Eko. (WEB)



















![[QUIZ] Tes Seberapa Siap Kamu untuk Mulai Berbisnis Dari Quiz Ini!](https://image.idntimes.com/post/20230920/startup-594090-1280-d6d6a0f4e90d5fb0c2c5b5669d828c83.jpg)
